Pengembangan Diri

Ada Apa dengan Seleksi Psikotes

Ada Apa dengan Seleksi Psikotes

Untuk memasuki dunia industri, calon karyawan diwajibkan mengikuti serangkaian seleksi. Dari seleksi keahlian hingga psikologi. Sebagian orang berpikir, susah-susah kuliah mau masuk kerja saja harus ikut seleksi. Padahal, sudah belajar bertahun-tahun tentang ilmu yang akan diterapkannya nantinya. Jadi,  tak diragukan kemampuannya. Begitu pula yang berpengalaman dalam dunia kerja, ia harus mengikuti proses yang sama. Hal ini membuat sebagian orang mengeluh, berbelit-belitnya menjadi ‘karyawan’. Namun tak begitu dengan pegawai pemerintah (CPNS), satu kali tes, cukup.

Semakin bonafit sebuah perusahaan, semakin ketat proses seleksi. Wajar, karena perusahaan besar juga pasti dibesarkan oleh orang-orang yang berkualitas. Maka penerusnya pun harus lebih hebat. Maka tak heran, demi mendapatkan SDM yang high quality mereka rela mengeluarkan anggaran besar dan waktu yang tidak sebentar merekrut karyawan yang diinginkan.

Pencari kerja yang semakin meningkat membuat perusahaan lebih mudah mencari talent yang mereka perlukan. Dari fresgraduate hingga yang berpengalaman banyak antrian pendaftar. Dan bila sudah mendapatkan SDM yang dinginkan, perusahaan tak ragu memberi “harga mahal” atas pekerjaannya. Tampaknya ini menjadi sebab perusahaan besar makin naik daun. Salah satu keywordsnya: ‘mendapatkan orang tepat untuk posisi yang tepat’.

Mengenai rekrutmen, pasti tak lepas dari tes psikologi. Tes yang satu ini menjadi momok oleh sebagian orang. Pengalaman kerja, sudah tentu. IPK tinggi, jelas. Tentang psikotes? tunggu dulu, tidak dapat dinilai begitu saja. Orang kemudian membeli buku-buku mengenai tes psikologi yang dijual bebas di toko-toko buku. Namun, sebagian besar pula luput dari prediksi.

Lalu, bagaimana menyikapinya? Jawabannya, tidak usah disikapi. Kerjakan dan tenanglah. Tes psikologi adalah tes yang mengungkap alam bawah sadar. Apa yang sudah melekat pada diri kita akan terlihat, sulit untuk dimanipulasi dan sulit untuk direkayasa agar hasilnya bagus.

Sebelum melakukan rekrutmen, biasanya pihak perusahaan telah membuat job spesifikasi untuk memenuhi syarat agar jobdescription yang ada mendapatkan orang tepat. Tidak hanya skill, namun ada syarat-syarat kepribadian yang mutlak dimiliki sebagai faktor pendukung seseorang melaksanakan pekerjaannya nanti.

Apa jadinya bila bagian marketing diberikan pada orang yang tertutup (introvert). Namun tak berarti orang yang tertutup berpeluang kecil dalam dunia kerja. Seperti itu bisa ditempatkan di bagian keuangan, gudang, atau pekerjaan yang on the table. Namun, biasanya orang yang demikian kesulitan menapaki karirnya.

Itu sebabnya, mengapa posisi yang sama, dengan perusahaan yang berbeda akan membuat syarat tidak sama. Perusahaan besar harus diakui memiliki budaya yang positif. Karena tidak mungkin kesuksesan perusahaan terjadi begitu saja, tanpa perjuangan dan kerja keras manusia di dalamnya.

Jika SDM di dalam perusahaan itu orang-orang yang memiliki sikap dan kepribadian yang baik dan berkualitas, maka budaya positif itu terbentuk dengan sendirinya. Budaya kerja keras, kerja sama, disiplin, terbuka dan jujur mutlak dimiliki. Dengan demikian, psikotes berupaya menampilkan sikap-sikap baik itu.

Siapa pun berpeluang jadi pemimpin. Karena syarat kepribadian pemimpin sudah dimiliki oleh semua karyawan. Dengan budaya positif itu, kompetesi diharapkan berjalan sehat. Selamat bekerja.