Fiksi

Air Luas

Air Luas

Napas mengembus udara, setelah sang malam menghilang. Kali ini Rahya merasakannya sangat segar, lebih segar dari biasanya terhirup. Tak terdengar lantunan azan, hanya keriuhan suara kelaparan hewan berlubang hidung besar dan rata di bagian depan.

Hah! Suara itu….

Suara itu membuyarkan mimpi dan keterdiaman yang baru saja terjadi padanya. Pertama kali terbangun dan pertama kali pula ia tersadarkan, raganya ini tak lagi di tempat yang semua orang ingin menuju ke sana.

Bukanlah surga yang dimaksudkan, melainkan tempat mengadu nasib, mencari pekerjaan, mencari jabatan, citra, eksistensi. Juga tempat memperoleh pendidikan yang bermutu, kehidupan yang layak, bahkan tempat mencari jodoh.

Ialah Jawa. Pulau yang sangat digandrungi banyak orang di Nusantara ini. Pulau dengan fasilitas publik yang serbaada, penuh keramaian orang-orang pendatang, penuh pula kesunyian jiwa. 23 tahun ia mendiaminya dan sesekali meninggalkannya untuk hanya sebentar singgah di pulau lain.

Suara itu….

Suara itu masih saja nyaring terdengar. Keterdiamannya ini mulai mengarak langkah, mendekat ke keriuhan suara. Memang kamar mandi rumah itu berdekatan dengan kandang babi-babi itu. Rumah seorang yang cukup terpandang di kecamatan ini. Orang-orang rumah masih belum terbangun dari lelapnya mata.

“Bapak, arah kiblat ke mana? Eh maksudnya arah Barat?” tanya Rahya kepada pemilik rumah tadi malam

“Barat? Barat, barat, oh Barat sana,” kata pemilik rumah, mengulangi kata itu sambil menunjuk jari.

“Iya, Barat sana,” katanya lagi menegaskan dan masih menunjuk.

Rahya menghadap-Nya di fajar menyingsing dan terasa lebih khusyuk. Mengalunkan dan merangkai suara dari ayat-ayat-Nya membuat hati menjadi lebih redam. Masih saja ia melangkah ke keriuhan suara binatang itu, semakin lama semakin riuh, meminta-minta makan dari sang pemiliknya.

Agni, siswi kelas 8 Sekolah Menengah Pertama yang cukup favorit di kecamatan itu memberi babi-babi itu sisa makanan, tentu mereka berebut makanan dan semakin membuat suara. Di samping suara itu, tubuh Rahya terguyur segarnya air. Segarnya air sesegar hari-hari yang akan dilewatinya.

“Ibu, ibu !” panggil sang pemilik rumah.

Dialah pak Albertus Aedisius Mogo, Kepala Sekolah tempat Rahya mengajar. Walau pun terlihat keras, namun dirinya begitu baik. Kata murid-murid, Pak Alberth, sapaannya itu adalah orang yang tegas dan sangat ditakuti semua siswa. Bahkan semua guru dan pegawai, takut padanya. Bukan berarti seorang yang menakutkan, kedisiplinan, dan karisma membawa SMP-nya menjadi tetap bernapas walau segala keterbatasan menyelimuti.

“Ibu, ibu !” panggilnya dari balik jendela kamar

“Iya, Pak.”

“Ibu sarapan sudah!” pintanya.

“Iya, Pak,” jawab Rahya, sama.

Rahya mengambil dua centong nasi merah dengan kepulan asap yang baru saja diangkat dari periuk(1). Nasi merah itu sangat bergizi jika dibanding dengan nasi putih yang biasanya ia makan, hanya saja rasanya belum bisa beradaptasi dengan papilla lidahnya.

Sayur tumis bayam dan sepotong ikan menjadi teman nasi, tentu bisa ditelan dan menjadi energi untuk hari itu. Memang berbeda dari makanan yang biasanya, namun itu juga makanan yang sama-sama memberikan nutrisi bagi tubuh manusia, entah enak atau tidak, namun substansi makanan adalah untuk kelangsungan hidup.

“Ibu, Saya jalan duluan,” ucap Mama Rio, istri Pak Albert.

Dengan pakaian dinasnya ia melangkah dengan suara sepatunya yang khas. Mama Rio adalah ibu yang lucu. Ia rela tidur di kasur, depan televisi, dengan anak keduanya, Kito, yang masih duduk di kelas lima Sekolah Dasar dan merelakan ranjangnya untuk ditempati Rahya selama tiga malam.

Sebuah motor berhenti di depan rumah Pak Albert, motor itu tak lagi asing. Walaupun Rahya baru melihatnya sekali, namun motor itulah yang membawanya sampai di tempat itu. Milik seorang guru laki-laki yang menjemputnya di kala buta menjelang malam di kantor dinas. Guru itu lebih banyak diam ketika mengendarai dan memboncengkannya melewati ribuan kelokan yang membuat sir-siran(2).

“Ibu, pigi(3) dengan Pak Piter ya!” pinta Pak Alberth.

Ya, namanya Petrus Tato, yang akrab dipanggil Piter. Guru Bahasa Inggris yang kembali lagi setelah di tempatkan di sekolah lain. Di balik keterdiaman dan keseriusannya, ia adalah guru yang banyak ide dan bahkan menjadi salah satu guru favorit di kelas IX.

Menurut murid-murid, Pak Piter itu guru yang paling baik dan suka membantu anak-anak. Entah membantu dalam hal apa, tentunya bila ia disukai murid-murid, Rahya perlu banyak belajar darinya.

Pagi itu, tak disangkanya begitu menawan, mereka melewati jalan yang tak lagi berkelok-kelok, setelah melewati pusat kecamatan, di sebelah kiri tepat di tepi jalan lintas kabupaten disuguhkan desiran pasir ombak pantai dengan beberapa kapal yang mengapung tanpa nelayan di tepi lautan.

Menakjubkan, tak pernah terbayangkan akan melihat keindahan itu yang nantinya akan dinikmati setiap hari setiap kali ia berangkat membagi setengah hari kepada mereka.

Napas panjangnya benar-benar menghirup udara yang begitu segar. Mengobati kekagetan akan shock culture(4) yang masih menempel di pikirannya. Ialah Pantai Nabela, pantai yang memberikan penghidupan bagi masyarakat, menghasilkan banyak ikan-ikan yang dijual begitu murah. Lima ribu rupiah saja mendapat 20 ekor sebesar dua jari.

Tak lama motor itu membelok setelah melewati tanjakan, membelok dan semakin menanjak, sangat berlainan dengan apa yang dilihat sebelumnya. Jika di bawah ada lautan lepas yang mengelilingi pulau ini, di atas disuguhkan gundukan-gundukan tanah yang lebih mirip dengan bukit Teletubbies, film anak-anak yang yang dulu pernah ditayangkan setiap hari di salah satu stasiun televisi swasta.

Di kanan kiri jalan, banyak anjing yang memang sengaja dipelihara. Tampak kering tanah-tanah itu, lama sang terik berdiam dan mengibas hujan. Rumah-rumah beratapkan ilalang menjadi suguhan mata. Rumah bambu dengan bambu yang hanya dibelah dan dibuat membujur, jika di Jawa bambu-bambu itu yang biasanya digunakan alas kasur di sebuah ranjang.

“Sebelah sana itu su(5) Manggarai Timur,” kata pak Piter sambil menoleh ke kiri.

Perbukitan dengan rumput yang sudah menguning membuat mata memandang luas hingga beberapa awan berbaris memayungi bukit-bukit itu.

“Kita su sampai.”

Sebuah pagar dengan cat coklat yang telah terkelupas menyambut pemberhentian mereka. Murid-murid berbaris, dan Rahya segera menjabat tangan guru-guru lain yang lebih dulu memberikan senyum. Pak Albert memimpin upacara bendera. Beliau datang beberapa menit setelah selesainya perkenalan dan jabat tangannya. Upacara yang sangat telah lama tak diikutinya itu, kini menjadi makanan setiap Senin.

“Bapak Ibu guru dan karyawan yang saya hormati, dan murid-murid yang saya banggakan. Pada kesempatan kali ini kita kedatangan seorang guru,” sambutan pembina upacara.

Rahya mulai tersenyum dan beberapa pasang mata melirik kepadanya.

“Ibu guru ini nantinya yang akan mengajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Terpadu. Ia muslim, maka ingat, jangan sampai ada satu murid pun yang berani mengganggunya. Bila sampai ada yang bertindak, maka kalian akan berhadapan dengan saya. Ingat tidak itu?” suaranya semakin meninggi dan lantang.

“Kemudian khusus untuk kelas tiga. Ingat kelas tiga, beberapa bulan lagi kalian akan ujian, jadi seriuslah belajar, jika tidak ada guru, belajar mandiri, jangan membuat ulah seperti yang tempo hari Suri lakukan. Mana Suri?”

Seorang murid agak kurus dan tidak terlalu tinggi mengacungkan jari.

“Dengar tidak kalian?”

“Dengarrrrr!!!” jawab murid serentak

Rahya serasa mendapat tameng yang begitu kuat dan terbuat dari besi. Pak Albert seperti menjadi ayah yang membuatkannya rumah dengan kunci jendela dan pintu yang rapat.

Senin itu benar-benar membukakan mata. Teringat bunga tidur yang ia tulis di buku hariannya April 2011 lalu.

Gadis mungil kecil berambut panjang lurus termenung di sudut kursi. Aku mencoba mendekatinya. Dia memanggilku Tata dan aku memanggilnya Rahya.

“Ta,” dia mengawali pembicaraan.

Aku pernah bermimpi di suatu tempat yang tinggi, bebatuan dan ditumbuhi oleh semak-semak belukar. Di dekat bebatuan itu ada makam. Angin tiba-tiba berembus dan aku menghela napas. Tiba-tiba aku dipanggil oleh suara.

“Adek kecil kemarilah jangan termenung di situ!”

Aku memegangi rumput-rumput yang bunga yang unik.

“Sebentar lagi ke situ, sedang menikmati berdua dengan rumput,” kataku.

“Cepatlah datang, kuperlihatkan sesuatu,” katanya.

Aku duduk di samping kanannya.

“Tidakkah kau mengerti, Ta?”

Dia menceritakan masyarakat pegunungan dan masyarakat pesisir pantai yang hidup bersama dengan kedamaian dan keselarasan. Hidup dengan kedua masyarakat itu akan menemukan sebuah makna dan perbedaan yang menjadi keseragaman.

Ternyata, tiba-tiba aku bangun. Aku tahu itu hanya mimpi dan tidak akan terjadi di mimpi lain.

Tulisan itu memang hanyalah sebuah bunga tidur, namun masyarakat pegunungan dan pesisir pantai yang diceritakan suara itu adalah tempat yang kini dirinya berada. Inilah wujud nyata dari mimpi itu.

Banyak orang mengatakan mimpi hanyalah bunga tidur yang akan layu ketika bangun. Namun pada kenyataannya bunganya tetap mekar dan semakin meninggi setelah terbangun.

Ingat pula dengan torehannya di tahun 2008 silam.

Aku mengukuhkan diri dan bercita-cita menjadi seorang guru. Walaupun cita-cita itu sebenarnya bukanlah cita-cita teringinku. Aku ingin menjadi seorang peneliti. Namun bukanlah yang menjadikan seorang peneliti adalah guru, yang menjadikan seorang dokter, arsitek, tentara, dan bahkan guru itu sendiri adalah guru.

Bolehlah satu dua tahun ke Kalimantan, Papua, atau Sumatera menjadi guru di tempat terpencil, kemudian kembali ke Jawa.

Penggalan itu lebih mirip dengan Ikal dalam novel Sang Pemimpi yang ditulis Andrea Hirata. Namun karena tulisan-tulisan itulah raganya sampai di tempat ini. Tempat di mana bisa merasakan hujan di kala terik sedang memancar. Tempat dimana orang-orang kulit hitam hidup. Tempat di mana masyarakat pegunungan, perbukitan, dan pesisir pantai berdiam bersama. Mereka memang berkulit hitam, namun hatinya begitu putih terlihat dengan senyum dan sapa mereka setiap pagi.

Tempat di mana banyak orang bilang berwatak keras dan lantang ketika berbicara bahkan seperti dan hanya seperti sedang marah, namun sejujurnya masyarakat di sana begitu lembut dan ramah, selalu membagi ketika berlebih.

Tempat dimana mereka yang kelaparan tapi tanpa meminta. Berbeda dengan pulau Jawa yang setiap harinya ramai peminta dan dengan jurang pemisah yang begitu mencekik antara si kaya dan si miskin.

Belum ia temui peminta walaupun masyarakat hidup dalam kekurangan, keterbatasan fasilitas publik, bahkan menjadi tempat tertinggal dari hingar bingar kemajuan Pulau Jawa.

Tempat yang cukup kotor, namun jangan salah, di sinilah surga dunia yang membuat mata membelalak dan terkagum-kagum akan keeksotisannya. Tempat di mana panas paling panas dan dingin paling dingin berada. Tempat di mana ada yang tiada dan yang ada, air yang melimpah dan air yang tak mengalir.

Pulau penuh kasih dengan simbol ‘Aman dan Tenang’ dengan kebersamaan dan toleransi yang tinggi terhadap agama. Inilah tempat yang dikelilingi air yang membentang luas di setiap sudut daratannya.

Ialah Aimere(6), Ngada, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

  1. Sebutan untuk panci penanak nasi
  2. Hati berdebar-bedar
  3. Pergi dalam singkatan bahasa Flores
  4. Kejutan budaya yang biasa terjadi ketika berada dan bertemu dengan kebudayaan baru. Sebuah gejolak yang timbul karena pengaruh kebudayaan baru yang terasa aneh dan beda dari kebudayaan yang sudah melekat di kehidupan sehari-hari. Kejutan budaya akan hilang dengan sendirinya mana kala, kebudayaan baru tersebut sudah menjadi kebiasaan.
  5. Sudah
  6. Ai berarti Air dan mere yang berarti luas

Air yang Luas, 23 Oktober 2012