Fiksi

Balada Kampung Bela

Balada Kampung Bela

Rintik-rintik hujan bersuka cita menyambut kedatangan otto putih di depan rumah. Rintik itu pun menemani otto melaju ke arah utara, menjauhi Aimere.

Di dalam otto itu terlihat Uzan, Noerdin, Haci, Rahya, dan anak-anak SMK Aimere. Mereka mengikuti irama musik dari sebuah handphone, lagu ambon yang cukup nge-beat. Sabtu sore bersama sang hujan mereka melewati foa(1). Sepanjang jalan mereka disuguhi bentangan alam yang begitu indah. Melihat pantai dan teluk dari atas jalan. Melihat anak-anak yang bermain air hujan dan menggelindingkan ban motor sambil berlarian.

Semakin melaju, semakin menemui jalan terjal dan mendaki, rintik pun berkebalikan, semakin hilang. Lewat sudah mereka di desa Ruto. Ramai nian. Terlihat ibu-ibu sedang bermain volley, sedang anak laki-laki bermain bola kaki(2).

Sepeninggal suara keriuhan warga Ruto, otto melewati sungai kecil. Ironis memang. Sungai menjadi jalan pintas kendaraan. Tidak ada jembatan. Lagi-lagi, pembangunan yang terlambat. Sungai itulah yang mengalirkan air pelak dan sepat. Orang-orang menamai daerahnya, Waebela(3).

Otto tak mampu mendaki lagi. Penumpang turun dan menenteng bawaannya masing-masing.

“Angel, kau bawa tikar itu, e!” pinta Ibu Shinta, salah satu guru SMK yang akan membawa mereka ke tempat tujuan.

Anak-anak SMK itu berjalan duluan. Dibawanya tikar dan beberapa peralatan masak, sambil bergurau ke sana kemari. Sesaat, mereka sudah tak terlihat.

Disusul pak Eman, seorang guru pula, yang dengan motornya mendaki jalan, lalu menghilang dari penglihatan. Sedang Ibu Shinta membawa lima guru kontrak, satunya yakni Sofie, guru yang ditempatkan di Waebela.

Mereka menyusur jalan setapak. Jalan yang hanya bisa dilewati satu baris orang ke belakang. Tapi siapa sangka, jalan sesempit itu ternyata menjadi jalan utama menuju ke Boba. Biasanya masyarakat Waebela dan Boba dengan motornya melintas di jalan itu.

Cahaya mentari semakin bersembunyi ke balik bukit dan semakin lama semakin menghilang, sedang mereka pun belum tiba di tempat yang dituju. Ironis. Mereka mempercepat langkahnya.

“Hmmm seram, e. Jam berapa kita sampai, su satu jam jalan belum sampai juga,” celetuk Noerdin.

“Masih lama, Bapak. Hampir dua jam kita sampai di sana,” sahut Sofie dengan logat melambainya.

Terdengar suara hewan-hewan petang yang mulai menyeruak. Beberapa kadal kecil berlarian di bawah daun-daun gugur yang basah setelah hujan. Di sisi kanan, suara gemuruh ombak menjejal karang. Langkah kaki mereka pun mengejar cahaya matahari dan semakin cepat.

“Selamat datang di Pasir Putih,” kata Ibu Shinta kepada mereka.

“Wow, akhirnya sampai juga,” kagum Rahya sesampainya di sana.

“Langitnya bagus, kemerah-merahan, dan pasirnya benar-benar putih,” Haci terkagum-kagum.

Itulah pantai pasir putih yang mereka tuju. Salah satu pantai pasir putih di pantai Selatan Flores di Kecamatan Inerie. Biasanya pantai selatan Flores berpasir hitam. Namun, setelah satu jam lebih dengan otto dan satu jam lebih berjalan, pasir putih dapat dijumpai.

Mereka lantas membentangkan terpal untuk atap dan menggelar tikar-tikar untuk alas tidur. Ya, mereka akan bermalam di tepi pantai pasir putih yang belum bernama itu.

“Karena cahayanya tenggelam ke arah situ, berarti kiblatnya ke sana,” ucap Uzan.

Kecuali Rahya, guru-guru itu bersembahyang di pasir pantai yang tak rata itu, sedang anak-anak menyiapkan tungku untuk memasak nasi dan air. Beberapa laki-laki mencari kayu bakar dan pisang di kebun yang mungkin belum berpemilik. Makan malam kali itu terlihat romantis dan hangat, di tepi pantai, sambil berkelakar dan ramai orang-orang.

“Jangan marah, e. Kalian makan dengan nasi ini, e,” pinta Ibu Shinta sambil menyodorkan nasi kepada Haci.

“Makan nasi itu saja, Ibu. Biar kami yang makan nasi ini. Kami bisa makan nasi apa saja,” jejal Pak Eman.

Nasi yang Pak Eman makan dan anak-anak SMK adalah nasi yang baru saja dimasak oleh anak-anak perempuan. Nasi itu ternyata belum matang, masih terasa beras, lantaran airnya kurang. Dengan ikan bakar yang sudah dibawa dari rumah, mereka melahap santap malam dengan cengar-cengir.

Ale, geju e nasi, e(4),” ucap Soba salah satu murid.

Mereka menghabiskan malam dengan bercerita, membuat permainan kucing-kucingan, dan ditutup tarian amatiran Soba. Lagaknya tarian pantai Hawai, dengan total dan tanpa malu, Soba melenggak-lenggokan tubuhnya dan disambut riuh tawa.

Keasyikan malam itu menghampiri lelah. Mereka pun tidur berjejer seperti ikan bandeng di tepi pantai yang tak rata, mendengarkan desiran ombak. Sayangnya, langit tertutup awan. Jika tidak, pasti terlihat bintang-bintang malam yang akan membuat sempurna malam itu.

Beberapa murid laki-laki masih asyik bersenda gurau melingkari api unggun. Yang lain ada yang telah terlelap dan ada pula yang masih asyik dengan pandangan masing-masing.

“Sepertinya ombak naik. Bagaimana kalau kita sorong ke atas lagi tikarnya. Saya takut ombak sampai di kaki,” saran Ibu Shinta.

Mereka menyeret tikar tidur ke atas dan kembali terlelap. Rasanya tidak bisa terlelap betul. Kepiting-kepiting kecil melewati tubuh-tubuh mereka dan berjalan menuju ke api. Kepiting-kepiting itu sampai ada yang masuk ke pakaian mereka.

“Ibu, kita sorong lagi ke atas. Ombak naik lagi,” ucap Haci.

Tikar itu diseret naik lagi, naik lagi, dan semakin naik. Hampir empat kali mereka menyeret tikar dan akhirnya satu dua jam bisa terlelap melepaskan penat dan lelah. Sampai fajar buta ombak hanya sekitar satu meter dari kaki mereka.

***

Pagi itu cuaca cerah. Kekaguman tidak hanya sampai di pasir putihnya. Ternyata karang dan biota lautnya begitu perawan. Masih terlihat jelas di bawah air, alga merah, hijau, biru. Ada pula kersik yang masih hidup. Tidak hanya satu, tapi berjuta.

Warna, spesies, dan bentuknya beragam, menambah satu kepuasan akan alam yang masih belum kenal eksploitasi. Alam yang ramah dan akan tetap ramah tanpa eksploitasi. Keindahan bawah laut yang begitu menawan. Hanya bisa terkagum-kagum akan kemahaindahan dari-Nya.

Mereka mencari kerang laut dengan murid-murid. Ternyata mereka menemukan banyak kerang laut dan teripang yang besar-besar. Wah, pasti lezat makanan pagi itu. Mereka senang betul ketika menemukan kerang, seperti nelayan yang memancing dan kailnya tersangkut ikan.

“Bapak, Ibu… kalian makan dengan nasi ini lagi, e,” pinta Ibu Shinta lagi, setelah nasi dan lauk matang.

Kali ini nasi yang dimasak anak-anak bukan lagi belum matang, namun sebaliknya, terlalu matang dan menjadi gosong. Malang nian anak-anak dan Pak Eman. Mereka harus merasakan teripang, ikan, dan kerang bakar yang penuh protein dengan nasi gosong yang berwarna coklat.

Ale, geju lagi ini nasi,” lagi-lagi Soba mengeluh.

Destinasi mereka menjadi memori penyatuan manusia dengan alam. Memakan hasil alam dan menikmati alam dengan segala fasilitas gratis dari Tuhan. Destinasi itu membawa kepuasan dan pemahaman, bahwa alam Flores adalah alam yang begitu kaya, tanah surga, dengan hamparan mahakarya yang begitu indah.

Mereka menghabiskan pagi dengan bermain sampan nelayan, mendayungnya. Tentu ombak pantai pun ikut bergelak tawa dan larut dalam keasyikan mereka.

Waebela, Desember 2012

(1) Desa paling utara dari Aimere, berbatasan dengan kecamatan baru hasil pemekaran, yakni Kecamatan Inerie.

(2) Sebutan untuk sepakbola.

(3) Wae berarti air, bela berarti pelak atau sepat.

(4) Aduh, hancur ini nasi.