Fiksi

Batas Tinta

Batas Tinta

Brak!!! Kamal melempar sejumlah buku berukuran besar ke meja bundar milik Pers Mahasiswa Pabelan. Mukanya keruh. Mungkin, cuaca siang ini memaksa adrenalinnya terkesiap lebih dari hari-hari biasanya.

Andi sempat meliriknya. Tapi, liputan nuklir Korea Utara di Kompas lebih diminatinya ketimbang harus mengomentari kawan sejawatnya itu. Di ujung meja yang lain, Agung hanya tersenyum simpul. Seperti biasa, ia selalu maklum pada apa pun.

Sejurus kemudian, dengan kecepatan ekstra, ceramah dadakan Kamal meluncur tak tentu arah.
“Kanibal di sekitar kita bertambah banyak saja. Aku pikir, orang-orang sinting cuma ada di kota-kota metropolis selevel Jakarta, Surabaya, Medan, atau Makasar. Aku salah kira. Benar-benar tak ada yang bisa dipercaya lagi di dunia ini,” dengusnya kesal.

“Eh… sadar enggak, tuh,” Taufik yang sedang ngenet di ruang dalam menimpal santai.

“Gimana otakku enggak mendidih… elite-elite politik itu apa enggak melek atau pura-pura dungu. Anak-anak kere yang enggak bisa sekolah di kota ini kan berceceran di mana-mana… malah pada rebutan laptop,” sambar Kamal. Suaranya masih tinggi.

“Wah… kemasukan komunis nih ceritanya,” Rani turut bersuara. Ia baru saja melipat mukena shalat Dhuhurnya.

“Ah… mau komunis, ateis, kapitalis, setanis sekalipun, kalau tak ada yang mau bergerak ngurusin orang-orang kere, dunia ini enggak bakalan tenang. Gila aja. Masa orang bisa ketawa-ketawa di food court, trus di lampu merah pengemis masih membludak.”

“Muna kamu, Mal. Kaya enggak doyan makanan bule aja,” Rani masih bersikukuh, “lagian sudah baca-baca data belum. Jangan-jangan, kamu abis dikompor-komporin orang.”

“Eh… percuma punya status Pabelanis kalau bisanya cuma OmDo. Barusan aku ketemu anggota dewan. Waktu aku tanya soal Lapindo, trus aku kait-kaitkan sama kemiskinan kota ini, mereka malah tertarik ngomongin e-government. Mental apa itu? Orang masih pada susah cari makan, sempat-sempatnya ngidam techno style. Paling-paling, spreadsheet aja mereka enggak tahu, lagunya kaya paling ngerti IT aja. Ini namanya enggak proporsional.”

Yanti datang dengan dua Coffemix dingin di tangan. “Siapa yang doyan? Apa enggak mual ngomong terus?”

Tanpa banyak pikir, Kamal menyambar barang gratisan itu. Mungkin, ia akan lebih tenang dengan itu.

Yanti lantas berkomentar singkat, “Pers itu enggak boleh emosional. Harus pakai kepala dingin. Kalau niatnya sudah membunuh begitu, nanti berita kita enggak cover both side, dong. Sekarang dipaparin dulu angle-nya, data-data pendukungnya, baru kemudian, second reality-nya.”

“Yan, kaya enggak tahu Kamal aja. Suruh selesaikan ocehannya aja. Ntar malah jendol di otak, kita yang repot,” celetukan Taufik keluar lagi.

“Ya, tuh. Kita kan butuh data, bukan cuma makian,” Didik akhirnya ikut bersuara. Tidur-tidur ayamnya terganggu dengan rapat redaksi yang tanpa direncanakan itu. Ia masih kecapekan. Ia masih sumpek. Narasumbernya gagal ia temui hari ini.

“Kita butuh orang penting sekarang,” ucap Andi kemudian.

“Maksudnya,” tanya Kamal bersemangat.

“LSM, Pemkot, DPRD, aktivis mahasiswa enggak ada yang bisa diandalkan. Mereka cuma bisa mengumbar kepentingan mereka saja. Eh Mal, berani nyisir Tirtonadi sama Bantaran Bengawan Solo, enggak. Kita investigasi sekalian ambil gambar-gambar eksklusifnya. Orang sekarang susah kalau dikasih argumentasi. Salah-salah, bisa dianggap sok suci, menggurui, atau menjelek-jelekkan orang lain. Kalau foto bicaranya bagus, space buat deskripsi berita kita kurangi. Trus, narasi kondisi kaum miskin kota saja yang kita perbesar. Kita bikin, pembaca seperti melihat dan merasakan langsung apa yang kita lihat dan rasakan,” papar Andi tak ada putusnya.

“Kadang-kadang, encer juga otak kamu,” jawab Kamal dengan mimik puas.

“Tawaran solusinya apa?” Didik membuka topik baru. Karena, tak mungkin semua data itu berguna, kalau media tak bisa memberikan prediksi dan tawaran ide alternatif untuk menyelesaikan semua persoalan ini.

“Solidaritas, undang-undang, program konkret, dan monitoring yang memadai,” tukas Yanti cepat.

Maklum, ia baru saja nonton Beyond Borders-nya Angelina Jolie dan Clive Owen. Film tentang penanganan kelaparan dan korban konflik di beberapa negara itu sempat membuatnya tak bisa tidur tenang. Apalagi, Jolie dikabarkan doyan mengadopsi anak-anak yang telantar. Pasalnya, yang ia tahu, biasanya, bintang Hollywood cuma doyan mengurus body.

“Itu masih global. Bagaimana kalau kita ekspose orang-orang miskin pekerja keras yang tak sudi meminta-minta, seperti simbok-simbok pasar, tukang becak, atau pedagang es keliling,” pinta Rani tak mau kalah.

“Semua oke. Kalau menurutku, kita perlu kerahkan semua data tentang kemiskinan di kota ini. Selanjutnya, kita desain persepsi publik bahwa mereka sebenarnya adalah pembunuh berdarah dingin terhadap mereka,” susul Taufik.

“Eit… berita tak boleh dipesan. Itu namanya Macchiavellian ethic in journalism,” kontrol Yanti serius.

“Diskusinya gimana?” Kamal belum puas.

“Kita datangkan anak ekonomi yang pro-neostrukturalism. Mereka bakal kemukakan ide-idenya Hatta, Sritua Arief, Mubyarto, dan Revrisond Baswir,” jawab Agung yang sedari tadi hanya puas menjadi pendengar.

“Kira-kira yang bisa bicara kesempatan kerja, siapa ya?” Didik bertanya lagi.

“Mas Dullah saja. Dia kan jualan bakso sekarang. Bisnis itu yang penting mentalnya, bukan strategi atau statusnya. Kebanyakan konsultan bisnis, bangsa ini juga enggak makmur-makmur. Narasumber kita grass-root aja lah,” Andi meyakinkan audiens.

“Fik, pinjam motornya, mau ambil duit. Kita berangkat siang ini,” seru Kamal meradang. “Oya, Ucup dikontak Yan. Suruh siapin tustelnya. Bilang ke dia, kalau kita siaga satu.”

“Yang benar saja. Jam satu ini aku kuliah,” sergah Taufik.

“Oke, sore abis Asar. Jangan sampai telat. Bawa KTP juga… takut ada apa-apa,” kata Kamal kemudian.
Kamal pun menyambar tas dan kunci motor Taufik. Banyak hal melintas cepat di kepalanya. Tekad aneh menyusup di relung hatinya yang paling dalam. Menurutnya, ia tengah berpikir dan bertindak baik hari ini. Ya, ini reputasi. Pers harus mampu memengaruhi kebijakan publik tanpa harus turun langsung di tengah konflik; tanpa harus bermarah-marah pada kondisi; tanpa harus menjilat elite; tanpa harus bayaran yang cukup. Mungkin, ini akan menjadi hal terbaik yang pernah ia lakukan.

“Eh… Mal! Kopinya dibayar. Enak aja,” seru Yanti tiba-tiba.

Pfuh… Kamal mendelik sempurna.