Daerah

Berdayakan Ekonomi dengan Bisnis Parut Kelapa

Berdayakan Ekonomi dengan Bisnis Parut Kelapa

Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, ramai dengan Usaha Kecil Menengah (UKM) dan usaha produksi rumahan yang dikelola oleh kaum perempuan. Ini terlihat di sejumlah daerah yang ada di seluruh Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten.

Salah satu contohnya, di Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring. Di sini, kita menyaksikan banyak ibu-ibu dari setengah baya dan tua sibuk beraktivitas membuat keset, panggangan sate, dan parut kelapa di rumah masing-masing.

Ada pula membuat usaha makanan kecil dan kue yang dijual ke pasar tradisional, atau memenuhi pesanan untuk hajatan dan mantenan dari berbagai desa lain dan luar daerah. Kabupaten Sukoharjo, Wonogiri, dan Karanganyar. Misalnya, sudah biasa juga memesan produk dan kerajinan yang dihasilkan para ‘perempuan tangguh’ dari Desa Pundungan ini.

Secara geografis, letak Desa Pundungan begitu kecil di tengah Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten. Luas wilayah hanya 878.567 Hektare. Bagian Utara, berbatasan dengan Desa Bulan dan Desa Tlobong (Kecamatan Delanggu) selatan, Desa Pundungan berbatasan dengan Desa Mrisen.

Desa Pundungan mulai mendapatkan Program PNPM Mandiri Perkotaan sejak tahun 2008. Jika dihitung, LKM-nya yang dinamakan LKM Subur Makmur, Desa Pundungan ini berjalan selama empat tahun terakhir.

Wilayah desa yang terbilang kecil ini, dihuni sekitar 1.440 jiwa. Terbagi atas dua Dusun, 6 Rw dan 14 Rt. Jumlah total penduduknya 644 jiwa. Di antaranya, perempuan yang mampu melakukan pemberdayaan kegiatan usaha rumah tangga perempuan di Desa Pundungan ini.

Salah satu ‘perempuan tangguh’ Desa Pundungan yang ditemui penulis adalah Ibu Nur Supanti Rahayu. Pembuatan produk parut kelapa yang di RT03 RW03, Desa Pundungan. Kegiatan ini sudah dilakoninya hampir 30 tahun. Karena usaha ini dilakukan turun-temurun. Jadi, sudah lebih dulu dilakukan oleh nenek dan ibunya. Namun, karena keduanya sudah meninggal, ia melanjutkan kebiasaan itu, untuk menambah penghasilan. Uang yang digunakan membiayai anak dan suaminya.

Dalam kegiatan ini, para perempuan melakukannya dengan senang hati. Sejak pagi hingga malam, mayoritas di rumah mereka masing-masing. Kesibukan semacam ini mampu menghasilkan tambahan untuk kehidupan keluarganya. Tapi, tidak mengganggu para ‘perempuan tangguh’ ini tetap melayani keperluan suami dan anak-anak.

Bila  orderan membludak, suami dan anak-anak selalu sedia membantu mereka.

Comments

Comments are closed.