Humaniora

Covid-19, Sebuah Peringatan

Covid-19, Sebuah Peringatan

Bisa dipastikan, karena memang itulah sifat manusia, tidak ada yang suka dan beriang gembira, manakala kita mendapatkan cobaan apapun bentuknya. Apalagi sebuah wabah yang merajalela dan berpotensi merenggut nyawa seperti pandemi Covid-19 ini.

Mau tersenyum saja, rasanya susah. Yang hadir adalah sikap nelangsa. Walau tidak sedikit yang masih menghujat kesana kemari, mencari cari kesalahan berbagai pihak hingga mengumbar sumpah serapah karena sudah tidak kuasa lagi menahan depresi yang mulai mendera.

Apalagi kondisi seperti ini diperparah dengan tumbuh suburnya pemberitaan hoax di berbagai media. Banyak studi yang mengatakan, berita hoax bisa memberikan dampak buruk pada kesehatan mental, seperti stres dan kecemasan.

Perasaan depresi yang muncul di tengah merebaknya wabah ini pun membuat beberapa orang kalang kabut dan mengalami pembelian panik atau panic buying. Di tengah kecemasan akan menyebarnya virus, ditambah belum ditemukannya obat, manusia cenderung bertindak cepat menuruti kata hati tanpa pikir panjang. Tanpa sadar, mereka terjebak dalam kecemasan global.

Kita tentu tidak ingin ikut terjebak ke dalam kubangan ini. Yang perlu betul kita pahami, bahwa kesadaran terbaik justru bisa hadir bersamaan munculnya cobaan, dengan datangnya hidayah di antara kita, tumbuhnya keimanan di antara kita, serta semakin suburnya ketauhidan kita. Betapa kecilnya makhluk yang bernama manusia di hadapan Gusti Allah SWT.

Ini semua tentu sebuah peringatan, melalui mikro organisme (virus) yang demikian kecil, manusia dibuat kocar-kacir hingga memporak-porandakan berbagai sisi kehidupannya. Mata semua pihak terbelalak atas fenomena virus Corona ini.

Tatanan yang selama ini dibangun sebagai upaya melanjutkan peradaban seakan-akan hendak runtuh bukan saja karena virus yang mewabah, tapi juga oleh perilaku manusia menyikapi wabah itu. Semua menjadi saling terkait, saling menegasikan dan saling mempengaruhi. Tidak ada yang bisa lepas dari rangkaian itu. Ketika ada satu saja yang mencoba nyebal dari aturan baku, bisa dipastikan sebaran wabah akan semakin sulit dikendalikan.

Sebagai warga sebuah bangsa, kita tentu tidak hanya mengandalkan kemampuan pemerintah dalam membuat aturan, menyediakan fasilitas perawatan maupun sekadar cukup mengerti tentang wabah itu, namun harus mentaati semua arahan bahkan harus turut melakukan upaya-upaya pencegahan.

Kalau kita semua mau sekadar membaca fenomena alam ini, semestinya kita akan tumbuh semangat, hadir keyakinan bahwa wabah ini akan sanggup dilawan.

Gusti Allah sangat sayang dengan bangsa di negara beribu pulau, Indonesia ini. Coba renungkan, bagaimana jadinya ketika wabah ini sumbernya dari Indonesia?

Tentu kita tidak akan sanggup bekata-kata. Bisa dipastikan, akan semakin banyak korban yang bergelimpangan tanpa dapat berkesempatan mendapatkan perawatan. Wabah atau pageblug ini akan semakin memakan berjuta korban nyawa.

Untungnya, negeri tirai bambu China yang pertama kali merasakan pandemi ini, lalu menyebar ke berbagai belahan dunia, dan akhirnya sejenak mampir ke Indonesia. Indonesia seakan mendapat referensi bagaimana cara penanganan, paham berbagai karakter virus ini berkembang, mengerti apa saja peralatan penanganannya, hingga berkesempatan menikmati kemungkinan obatnya.

Di balik peristiwa, pasti ada sesuatu yang lebih bermakna. Kita menjadi paham apa makna pertemanan dan persahabatan. Kita menjadi lebih waspada akan ancaman bahaya. Kita menjadi lebih sadar arti kebersamaan. Kita menjadi mengerti bagaimana watak para penguasa dan karakter warganya.

Tetap saja ada sesuatu yang sangat berguna di balik pageblug ini. Banyak pembelajaran yang kita dapatkan dari pageblug ini yang secara langsung akan menambah wawasan dan kesadaran akan arti seluas-luasnya.

Kata pepatah “ada hikmah di balik musibah” tentunya tercipta bukan tanpa alasan. Ada makna di balik Corona.  Bayangkan, sejak ada wabah ini, polusi udara menurun drastis. Jalanan macet berubah lengang. Seiring dengan adanya pembatasan perjalanan domestik maupun internasional, diberlakukannya lockdown di berbagai negara, dan social distancing serta work from home di Indonesia, tingkat polusi udara mengalami penurunan signifikan.

Sebuah kajian dari Universitas Stanford menyebutkan, lockdown selama dua bulan di China telah menyelamatkan 4.000 anak balita dan 73.000 lansia setempat dari potensi kematian prematur akibat partikel polusi udara. Sebelumnya, China merupakan penyumbang emisi karbon terbesar di seluruh dunia.

Hikmah lain yang bisa diambil dari krisis ini adalah meningkatnya kepedulian akan kebersihan dan kesehatan. Sebelum ada Corona, kebiasaan mencuci tangan dengan benar kerap diabaikan. Begitu pula dengan pola hidup sehat dengan berolahraga dan makan makanan bergizi. Sekarang, semua orang seakan berlomba-lomba ingin menerapkan hidup bersih dan sehat supaya terhindar dari Covid-19.

Corona bukan hanya sebuah peringatan, tetapi juga menegaskan, bahwa manusia bukan siapa-siapa di dunia. Bahwa akhirnya, hidup hanya sebentar saja. Tidak perlu lagi ada keangkuhan, keserakahan, iri, ataupun dendam.

Satu lagi kesadaran yang perlu kita punyai adalah, bahwa kita tidak sendiri dalam menghadapi krisis ini. Kita harus bangkit dan bersama-sama melewatinya, kembali menegaskan bahwa bukan saatnya untuk menggarisbawahi perbedaan yang ada, melainkan mempertebal solidaritas bersama. Tetap istiqomah dan tetap ikhtiar agar segera keluar dari masalah, dan kembali tersenyum memaknai kebersamaan ber-Indonesia.

*Artikel ditayangkan Surakarta Daily.