Fiksi

Dokar dan Kusirnya

Dokar dan Kusirnya

Rutinitas saya tiap hari adalah mengajar dan memberikan pendidikan bagi murid-murid di Sekolah Dasar (SD) yang terpencil di desa. Desa Nepen Kadireso. Murid-murid memanggil saya Pak Amat, mereka begitu mengharapkan saya selalu hadir di kelas tiap hari. Maklum, saya adalah guru yang lain dari biasanya, selalu memulai dengan dongeng sebelum mengajar.

Antara Nepen dan Kadireso, biasanya cukup ditempuh dengan sebuah angkutan desa yang hanya membayar ongkos 500 perak. Kadireso adalah kampung saya yang memang jauh dari jalan besar, sehingga ketika turun dari angkudes, saya harus jalan kaki sejauh satu kilometer lagi untuk mencapai rumah. Tapi ini tidak masalah, saya selalu menyapa beberapa petani di kanan-kiri jalan, sekadar menghindari sengatan matahari yang terik.

pak lik, laut! Sapa saya pada Lik Sukiyo yang sedang babat.

oh, yo jawabnya.

Beberapa bulan belakangan, sejak pabrik kain berdiri, di sini air jadi susah, lanjut Lik Sukiyo yang berwajah hitam karena seringnya terkena sinar matahari.

Mungkin karena air disedot sama pabrik, jadi airnya makin surut, Lik Sukiyo memang khas petani, gayanya memakai caping yang menutup mukanya agar tak kena sinar matahari.

Memang, sejak pabrik kain berdiri beberapa bulan lalu di sekitar desa kami, mata air di sekitar desa kami jadi makin surut. Dan mungkin malah jadi kering.

Kehidupan di sini makin sulit. Tapi saya nggak bisa berbuat apa-apa.

Tak terasa waktu makin mendekatkan saya ke pinggiran desa dan rumah saya di gang sudut jalan desa. Rumah yang indah, di mana Sri, istri saya, selalu menunggu, tak bosan-bosannya. Biasanya ia menunggu setelah beraktivitas, jualan di Pasar Lebak, sekitar satu kilometer dari Kadireso ke arah barat. Pasar Lebak yang selalu ramai, meski belakangan makin sepi. Lagi-lagi, penyebabnya pengunjung makin turun, akibat mata air di sekitar pasar, yang selalu menjadi daya tarik pasar, juga makin surut dan bahkan beberaapa hari ini asat.

Sri juga mengeluh, sepinya pembeli, membuat omzet toko kelontong kecil kami makin turun, apalagi naiknya harga BBM, membuat semua harga jadi naik. Kadang Sri nggak bisa kulakan lagi.

nggak masalah, jawab saya.

mulai minggu depan aku dapat kerjaan baru, nge-les anak-anak yang segera Ujian Nasional, bulan Juni depan. Jadi aku dapat tambahan.

memangnya dapat berapa, Mas? Apa iya, bisa menutupi harga-harga yang makin mahal? Sumber juga makin kering, pasar jadi sepi juga.

memang tidak terlalu banyak. Tapi paling tidak ada tambahan, biar pun nanti aku harus pulang sore menjelang maghrib. Soalnya les-nya mulai jam empat. Jadi nanggung kalau harus pulang dulu.

memangnya mau dapat berapa sih, Mas? Kebutuhannya jauh lebih banyak dibanding hasil nge-les. Buat apa lagi kalau harus pulang lebih sore? Aku nunggunya kelamaan.

hanya ini yang bisa kuusahakan, Sri. Aku hanya guru SD.

***

Les hari pertama, saya pulang sore. Mendekati Kadireso, cuaca tampak mendung dan gelap. Matahari juga sudah tidak kelihatan. Turun dari angkudes, saya buru-buru. Tak tampak Lik Sukiyo, yang mungkin sudah pulang dari sawah. Jadi tak ada siapa pun yang kusapa sepanjang jalan ini, tampak sepi. Makin mendekati desa, suasana sepi makin terasa. Terdengar di belakang saya suara derap kaki kuda. Dokar. Sebuah kereta kuda yang dikendalikan seorang kusir tampak hendak melewatiku. Kulihat dokar ini dikusiri oleh orang berbaju gelap, dan memakai caping dan tak tampak senyumnya. Berwajah gelap tertutup caping dan mendung. Saya agak kecewa. Senyum saya kepadanya tidak dibalas. Matanya seperti elang dan pergi begitu saja, setelah menengok saya sebentar.

Sesampai di rumah, Sri menyambut. Dia tampak kurang senang, mungkin hari ini sama seperti hari-hari sebelumnya, dagangannya kurang laku. Pengunjung pasar sepi.

kayaknya aku bakal kesorean tiap hari, Sri.

Sri tidak menjawab, malah buru-buru masuk rumah. Saya ngeloyor saja. Dan saya rasakan badan yang gerah. Saya buru-buru mandi.

Sesudah itu, Sri mulai bicara yang sudah saya duga semula. Katanya hari ini sama seperti hari-hari sebelumnya, dagangannya kurang laku. Pengunjung pasar sepi.

apa tambahan nge-les anak-anak bisa menutup harga-harga yang naik sih, mas?

apa ndak ada sambilan yang bisa diandalkan? tambahnya.

Beberapa kali saya berusaha menjelaskan padanya perihal pekerjaan tambahan yang bisa saya kerjakan. Namun, lagi-lagi yang bisa saya katakan ya nge-les anak-anak.

hanya ini yang bisa kuusahakan, Sri. Aku hanya guru SD.

***

Sore berikutnya, suasananya persis sore-sore kemarin. Mendung dan matahari tampak buru-buru pergi. Agak gelap, dan saya dengar langkah kaki dokar yang sama yang melewatiku tanpa permisi. Kali ini saya tetap berusaha tersenyum pada kusir. Lagi-lagi, kusir yang berwajah gelap bercaping itu hanya menengok sekali pada saya, tanpa membalas senyum dan tak mengucapkan sepatah kata pun. Dokarnya juga tanpa penumpang.

Saya pikir, hanya baru-baru ini saja ada dokar lewat. Kendaraan tradisional ini lama sekali tak pernah saya lihat, terutama sejak ada angkudes. Tapi, ya kebangetan juga. Kenapa dengan kusir ini? Ia tak menawari naik di dokarnya, padahal jarak dari jalan raya ke Desa Kadireso juga masih lumayan jauh. Sore juga makin mendung. Hujan segera mengancam. Sesampai di rumah, saya basah kuyup.

kayaknya tiap sore hari, bakalan sering hujan Sri, besok aku harus bawa payung.

Berulang kali pula, sapaan saya terhadap Sri hanya dibalas sikap dingin. Sesudah itu, Sri mulai bicara yang sudah saya duga semula. Katanya hari ini sama seperti hari-hari sebelumnya, dagangannya kurang laku. Pengunjung pasar sepi.

apa tambahan nge-les anak-anak bisa menutup harga-harga yang naik sih, Mas?

apa ndak ada sambilan yang bisa diandalkan? tambahnya.

Beberapa kali saya berusaha menjelaskan padanya perihal pekerjaan tambahan yang bisa saya kerjakan. Namun, lagi-lagi yang bisa saya katakan ya nge-les anak-anak.

hanya ini yang bisa kuusahakan, Sri. Aku hanya guru SD.

***

Rutinitasku tiap hari tampak akan selalu sama. Sepulang ngisi les anak-anak, sesudah turun dari angkudes, segera saya ambil jalan menuju Kadireso. Kali ini sudah hujan dan gelap. Untung saya membawa payung, jadi pengalaman hari kemarin tak perlu terulang. Saya tak perlu berbasah-basah.

Tampaknya pula, rutinitas ini, juga menjadi rutinitas yang sama pada kusir dokar. Terdengar suara derap kuda gagah di belakang saya. Hujan yang makin deras tampaknya tak mengganggu kuda untuk terus melaju kencang melewati saya. Kali ini saya tetap berusaha tersenyum pada kusir. Lagi-lagi, kusir yang berwajah gelap bercaping itu hanya menengok sekali pada saya, tanpa membalas senyum dan tak mengucapkan sepatah kata pun. Dokarnya juga tanpa penumpang. Kusir ini tampak hanya berpikir sejenak sambil menatap saya.

Kupikir, tega sekali pak kusir ini. Dia tak menawari saya naik dokarnya, padahal hari sedang gelap dan hujan, siapa pun pasti butuh tumpangan agar cepat sampai tujuan. Saya ingat-ingat, kukira hanya jalan ini saja yang bakal menuju Kadireso, jadi tak mungkin berbelok ke arah lain, pasti melewati depan rumah saya. Seingat saya, jalan lain keluar desa ini juga sudah tak ada lagi, selain jalan ini. Pasti kusir ini orang Kadireso juga. Sayang, Lik Sukiyo tak pernah kulihat lagi di sawahnya untuk sekadar disapa atau ditanyai, siapa sebetulnya pak kusir ini.

Sesampai di rumah, Sri agak berubah sikap. Ia lebih menyenangkan, pikir saya, mungkin uang tambahan hasil nge-les sudah aku berikan padanya semua kemarin. Sri menyapa sebelum saya sempat menyapa dan mengucap sepatah kata pun.

untung bawa payung mas, jadi tak perlu berhujan-hujan seperti kemarin, kata Sri.

oh ya, untung sekali.

tapi sebenarnya bisa lebih cepat sampai rumah, kalau dokar itu mau memberi tumpangan.

dokar siapa? tanya Sri.

aku juga tidak tahu, mungkin besok langsung saya cegat saja biar aku bisa naik.

Saya tak berani ngobrol soal pasar hari ini. Saya takut Sri akan berubah wajah, jika bertanya-tanya lagi soal dagangannya yang kurang laku, dan soal pengunjung yang pasar sepi. Mungkin sudah tahu, paling-paling saya menjawab; hanya ini yang bisa kuusahakan, Sri. Aku hanya guru SD.

***

Sore berikutnya, Saya sudah tahu bakal ada dokar yang melewati saya. Saya akan mencegatnya biarpun tidak hujan. Tapi kupikir Saya pulang lebih awal. Hari memang mendung dan gelap, saya hanya mendengar derap kaki kuda yang sudah menjauh dan tampak Lik Sukiyo yang sudah berjalan jauh di depan. Saya tak bisa menyapanya, hanya melambaikan tangan dan Lik Sukiyo juga melambaikan tangannya, dari jauh.

Sesampai di rumah, Sri lebih menyenangkan lagi. Sri manyapaku dengan segelas teh dan beberapa gorengan yang hangat di meja.

kok pulangnya lebih cepat, Mas? Apa tadi jadi nunut dokar? kata Sri.

tidak, aku memang pulang duluan.

tapi sebenarnya dokar siapa, sih? Aku nggak pernah melihat dokar melewati rumah ini? tanya Sri.

aku juga tidak tahu, mungkin dokarnya berbelok, jawabku sambil mencomot gorengan.

belokan yang mana? Kan di jalan ini lurus saja, tak ada jalan lain selain melewati rumah ini?

ah sudahlah. Gorengannya enak, nih.

***

Sore berikutnya, Saya sudah tahu bakal ada dokar yang melewati saya. Saya akan mencegatnya biar pun tidak hujan. Saya tidak pulang lebih awal, tapi cuaca tetap mendung dan menjelang hujan deras. Namun, sebelum terdengar langkah kaki kuda dokar, badan terasa panas seperti ada yang menyambarku. Seperti terjatuh, dan sayup saya dengar langkah kaki kuda di belakang saya. Aku buru-buru mencegatnya. Kuda tak bisa berlari melewati saya, karena saya mencegat di tengah-tengah jalannya. Pak kusir segera menghentikan kudanya, dan mengisyaratkan saya segera naik. Dengan senang hati, saya segera naik, dan pak kusir segera mempercepat kembali langkah kaki kudanya. Aku duduk di belakang.

tak terlalu jauh di depan pak! kata saya.

Tapi kusir tak bereaksi, bahkan ia melewati rumah saya begitu saja. Dan yang saya heran, di depan rumah ada bendera kuning dan banyak orang berkerumun. Baru saya sadar, kereta bergerak ke arah langit.

Boyolali, Juni 2008