Fiksi

Gladak Siang Itu

Gladak Siang Itu

Mereka turun lagi, siang tadiAku di Line 4-queeny.

Bakda Magrib, sebuah pesan singkat masuk ke telepon genggam Thom. Kening Thom sontak mengerut. Pesan itu datang dari Sina, rekan sekotanya yang selalu lebih tahu informasi baru dari siapa pun.

Thom segera menyalakan notebook. Darurat. Sebab biasanya, pada jam itu, Thom lebih sering membaca kalam ilahi. Ia aktifkan Purwarumeksa, sebuah software intranet racikan Sina yang khusus diciptakan untuk pembicaraan antisadap. Setelah masuk ke Line 4, dan mengetikkan queeny sebagai kata kuncinya, tampaklah laporan singkat Sina di layar notebook.

Nilainya 500 juta. Bank Artha Solo. Aksi cepat di Grogol. Korban: Manajer Keuangan perusahaan swasta di Solo Baru, mengendarai Innova keluaran terbaru. Pelaku: 4 orang bersepeda motor modif dan bersenjata Kaliber 22. Tampaknya, dikuntit sejak dari Gladak. Sopir korban terluka parah, kini dirawat di UGD RSUD Moewardi. Polisi baru akan bicara besok pagi. Jenis peluru sedang diidentifikasi.

Thom mendengus. Kali kedua ini mereka beraksi. Aksi pertama mereka tak begitu meresahkan. Selain angkanya yang tak begitu besar, hanya ada intimidasi tanpa penembakan. Itu pun malam hari.

Setengah berlari Thom menyambar jaket tebal penahan dingin. Tidak lama kemudian, ia telah menyusuri jalanan ramai Kota Solo di atas Vespa dekil kebanggaannya. Hujan mulai turun, rintik-rintik.

Melintasi rel kereta api Purwosari, Thom mempercepat laju Vespanya. Gusarnya tak akan berkurang sebelum dapat menemukan modus kunci dari semua ini. Aksi perampok-perampok itu sudah sangat keterlaluan.

“Untuk keperluan apa kau ke sini, Le?” tanya seorang tua pada Thom.

Setelah menyusuri gang-gang sempit di Mangkuyudan, Thom akhirnya bertemu dengan seseorang yang ia harapkan menjadi pembuka jalan keluar aksi perampokan siang tadi. Namanya Eyang Pambudi. Usianya hendak berkepala tujuh. Sehari-hari ia sibuk mengurus jam rusak. Meski kacamatanya semakin hari kian tebal, pelanggan setianya tak berkurang sedikit pun. Siapa sangka kalau ternyata, ia memiliki kemampuan luar biasa.

“Saya sowan, mencari kebajikan, Eyang,” jawab Thom santun.

Sosok ini legenda analisis kriminal. Thom sangat menghormatinya. Tak banyak yang tahu keberadaannya. Di masa lalu, kemampuannya mungkin bisa disandingkan dengan John McCone, Direktur CIA pilihan Kennedy. Thom menemukan Eyang bersama Bhre, seorang kawan Thom kolektor referensi senjata, klasik hingga mutakhir. Ketika itu, Bhre berkunjung pada Eyang untuk memastikan kebenaran liputan media soal Bom Kuningan.

“Hmm….”

Eyang berdehem. Ia sedikit agak ragu. Wajah Thom memerah. Ia salah tingkah di depan orang yang sangat ia kagumi itu.

“Andai ada yang ingin melakukan perampokan bersenjata di Solo, apa saja yang harus disiapkan?” ujar Thom berhati-hati.

Eyang tersenyum. “Duduklah. Aku tahu kamu sedang resah.”

“Ini rumit. Solo relatif aman, tapi kota ini sangat majemuk. Siapa pun dapat melakukan apa pun, tanpa diketahui oleh pihak mana pun. Jadi, setiap kejadian kriminal besar di Solo, selalu punya motif serius di belakangnya, seputar politik dan ekonomi,” jelas Eyang perlahan.

Belum sempat Thom balik bertanya, seorang perempuan seumuran Eyang masuk ke ruang tamu membawa dua cangkir teh.

“Ayo minum dulu. Biar badannya hangat,” sapa istri Eyang lembut.

Setelah dipersilakan Eyang, Thom menyeruput teh bikinan sang nyonya rumah.

“Tehnya enak, kan?” tanya Eyang sambil tetap tersenyum.

Thom hanya bisa mengangguk perlahan.

“Bila perampokan ini terhubung dengan jaringan Jakarta, berapa banyak kelompok di Jakarta yang berani beroperasi di Solo?” kejar Thom semakin menukik.

“Operasinya bersifat kejut. Tidak kontinu atau sengaja diorientasikan untuk menggasak uang. Jakarta sudah punya banyak uang.”

“Kalau targetnya keresahan publik, reputasi aparat jadi taruhannya.”

“Selain itu, mereka selalu punya target untuk disingkirkan.”

“Maksud Eyang, pesaing bisnis?”

“Pesaing bisnis yang punya efek pada kekuasaan dan bisnis pusat di Jakarta.”

Blarr!!

Tiba-tiba, suara guntur menggelegar di langit Solo. Tampaknya, hujan akan turun sangat lebat. Namun, Thom bergeming. Ia terus bertanya tentang banyak hal pada Eyang.

Setelah dirasa cukup, Thom lantas memutuskan untuk berpamitan. Vespa dekil miliknya pun terdengar meraung-raung, membelah aspal jalanan Solo yang mulai licin berkilat diterpa hujan dan memantulkan cahaya lampu kota.

Hingga sesaat sebelum hujan benar-benar turun, Thom telah duduk berhadapan dengan seorang penting lainnya di Coffee Shop, Mendungan; Kunthi.

Kunthi analis bisnis yang paling diandalkan Thom. Semester akhir Fakultas Psikologi, penyuka Maliq & d’Essentials, dan sangat mencintai laut. Sekian lama, Kunthi menemani Thom dalam menyisir kasus-kasus misterius. Sebab, semua hal selalu berkaitan dengan ekonomi. Beruntung, Thom memilikinya.

“Bank Artha Solo memang punya koneksi permodalan kuat di Jakarta. Tapi setahuku, lebih dari 50 persen asetnya tak tercatat di Bank Indonesia. Aku juga tak tahu, mengapa bisa demikian,” papar Kunthi singkat.

Hujan bertambah lebat. Kopi Jawa panas tak berhasil menghangatkan tubuh Thom. Pusaran dialektis semua informasi di kepalanyalah yang membuatnya tak kedinginan. Ia tampak berpikir keras.

“Apakah bank ini punya keterkaitan dengan Istana?” tanya Thom agak pelan. Ia tak ingin kustomer CS yang lain mendengar pembicaraan ini, dan resah.

“Jelas ada. Tapi sejak krisis likuiditas pasca-1998, banyak data yang tak terurus. Semua file tentang kerjasama bank dengan Istana tumpang tindih dengan agenda recovery ekonomi.”

Kunthi berhenti sejenak. Ia seperti tengah berusaha keras mengingat sesuatu. Rambut poni dan kaca matanya mendadak tampak begitu berat.

“Oya, Simon Wealth, warga London rekanan AIG di Singapura, sempat tergabung dalam direksi Bank Artha Solo. Aku membacanya di Forbes. Waktu itu dia mengatakan, bisnis Solo akan sangat maju satu dekade ke depan.”

“Sekarang dia di mana?”

“Per tahun kemarin, ia diminta Pemerintahan Inggris untuk bekerja di kedutaan.”

Thom menatap butir-butir air hujan di beranda CS lebih khidmat. Jalan terang belum tampak. Menerka ada konspirasi asing atas Solo masih terlalu dini. Belum banyak data yang terkumpul.

“Kita butuh Rabin. Dia pasti punya data tentang perusahaan swasta di Solo Baru yang dirampok. Mungkin ada petunjuk dari situ,” usul Kunthi.

Mendengar saran Kunthi, Thom seketika berdiri. Sejurus kemudian, kedua anak manusia itu pun menembus lebatnya hujan menuju Kotabarat, salah satu pusat jajanan di Solo. Rabin, seorang kawan mereka yang lain, berdinas di sana sebagai penjual kuliner serbakelinci. Hampir setahun terakhir, mereka sering bersama menyelesaikan kasus per kasus.

Rabin tidak seperti kebanyakan pedagang yang lain. Meski waktunya habis bersama kelinci, ia punya seabrek data tentang trading di Indonesia. Apalagi, Solo adalah simpul penting jalur dagang Nusantara. Sesaat setelah Thom mengontak Sina dan Bhre, nama perusahaan itu pun diketahui; PT. Borneo Furniture.

“Itu perusahaan baru. Aku sempat bertemu dengan seorang pimpinannya di Tawangmangu. Waktu itu aku kulakan daging kelinci. Sementara dia banyak bertanya padaku, tentang sebab musabab longsor di sekitaran Lawu,” jelas Rabin setelah duduk perkaranya dibeberkan Thom.

Rabin bertutur apa adanya tentang aktivitas perusahaan yang mirip siluman itu. Kabarnya, Dinas Pajak juga kesulitan menembus akses mereka. Semakin banyak pembahasan seputar PT. Borneo Furniture, kian menguatkan keyakinan Thom tentang keberadaan mereka yang samar-samar. Saking banyaknya uang yang berputar di sekitaran Solo, fiktif atau tidaknya sebuah perusahaan ternyata tak banyak diketahui.

Dan hingga tengah malam, belum juga ada petunjuk. Thom mulai tampak tidak sabar. Betapa sulit mengurai benang kusut ini.

Sesaat sebelum Thom merasa nihil, telepon genggam Thom menyalak. Ada dua pesan masuk. Yang pertama, dikirim Bhre.

PT. Borneo Furniture ternyata fiktif. Aku cek tempatnya, kosong. Hanya ada plakat kecil dan show room sederhana untuk memajang beberapa produk mereka. Setelah aku tanyai penjaganya, aktivitas mereka pasif. Sudah dua bulan ini gajinya tidak turun. Majikannya tak menampakkan diri lagi.

Pesan Sina menyusul data Bhre.

Identifikasi peluru baru saja selesai. Kaliber 22 yang digunakan pelaku termasuk jenis short gun. Hanya diproduksi di Eropa, dan biasanya digunakan untuk berburu binatang buas di Afrika. Pindad bahkan tidak memiliki catatan tentang jenis ini. Detailnya aku dapatkan dari data base MI6.

Binar wajah Thom mulai tampak. Ia menatap Kunthi dalam-dalam. Seperti akan ada hal penting yang ingin ia sampaikan. Sementara itu, Rabin belum juga mengerti.

“Perampokan adalah ujung konflik internal mereka. Aksi ini suruhan Simon Wealth. Sebab, akses peluru yang digunakan pelaku hanya dimiliki kedutaan. Ia tak mau aset bank ditransfer ke perusahaan fiktif itu. PT. Borneo Furniture sengaja didirikan di sekitaran Solo agar tak tampak fiktif. Wealth berani menghabisi mereka, lantaran ia tahu persis, negara tidak akan melindunginya. Dana talangan untuk bank pasca-1998, dapat dijadikan pembenaran atas aksi suruhan Wealth. Bank ini mencuri uang rakyat.”

Kunthi dan Rabin masih melongo. Mereka tahu, Thom memang mengagumkan.

“Tapi aku tak peduli. Semua hal yang merusak keamanan dan kenyamanan Solo harus kita sirnakan.”

Thom berdiri.

“Bin, antar Kunthi pulang. Polisi harus tahu.”

Tak menunggu anggukan Rabin, Vespa dekil milik Thom kembali meraung-raung di jalanan Solo yang becek.