Analisis Media

Jurnalisme, Kepakaran, dan Upaya Merawat Pengetahuan

Jurnalisme, Kepakaran, dan Upaya Merawat Pengetahuan

Membaca Matinya Kepakaran karya Tom Nichols memberi saya pemahaman baru, bahwa tanda-tanda zaman di era kiwari, sedikit banyak bermula dari jurnalisme. Hari-hari ini, karena desentralisasi pembuatan informasi, pengetahuan seperti sangat mudah diperoleh. Kepakaran dan pengetahuan yang selama ini tumbuh besar bersama jurnalisme, tiba-tiba seperti diguncang gempa dahsyat.

Padahal, kepakaran, sedikit banyak terbentuk karena jurnalisme. Sementara, di sisi lain, relasi antara kepakaran dan jurnalisme itu rumit karena semangat zaman terus bergulir sesuai konteks. Namun, belakangan, alih-alih saling menguatkan di momen-momen berikutnya, Tom Nichols mengatakan kalau jurnalisme punya andil menciptakan kultur pengabaian kualitas informasi.

Seringkali kita disuguhkan informasi-informasi yang tidak begitu relevan dengan momennya. Meski begitu, informasi tersebut tetap dikonsumsi karena ada sensasi yang memancing pembaca masuk ke dalam pembacaan artikel tersebut. Tak pelak lagi, artikel-artikel ini, terkadang malah diciptakan oleh media-media tertentu yang telah mempunyai pembaca spesifik.

Kondisi seperti itu, kiranya memiliki ancaman dengan potensi serupa efek bola salju. Makin abai dengan kualitas informasi, makin dekat kehancuran kepakaran dan pengetahuan. Jika kepakaran melulu digerus oleh kecepatan yang mendikte, tak perlu heran apabila empati sosial masyarakat mengikis dengan begitu cepat. Terang jika sekarang, gawai, informasi, dan persepsi, bila ditarik selajur, adalah kunci adaptasi termutakhir.

Belakangan, informasi-informasi polusif hadir dan menyeruak di ruang-ruang maya. Kecenderungan ini tidak terberi begitu saja. Ada faktor-faktor yang menyebabkan informasi-informasi ini masuk dan mendapat tempat dalam konsumsi informasi. Kita, hendaknya, senantiasa berhati-hati dan selektif memilih informasi yang masuk ke sekat ruang gawai nan penuh dengan kesemuan, dan serba permukaan.

Mau tak mau memang harus diakui, gawai, persepsi, dan informasi berkaitan erat dengan media. Ketiga hal tersebut, bahkan bisa tidak begitu membutuhkan media jurnalisme. Namun, karena ketiga hal itu selajur dengan perkembangan zaman, sebaliknya, media jurnalisme sangat membutuhkannya. Sebab, eksistensi media diukur oleh seberapa cepat ia beradaptasi.

Tom Nichols sendiri pernah mengilustrasikan bagaimana fenomena matinya kepakaran ini, punya masalah tersendiri dengan kerja-kerja media dan jurnalisme. Dalam tulisannya, Tom Nichols menceritakan, salah satu media besar di Amerika memberitakan hasil penelitian yang menyebutkan kalau cokelat itu baik untuk kita.

Memang, hasil penelitian itu dipublikasikan secara serentak di banyak media dan banyak negara. Persoalannya, ilmuwan Jerman yang dikutip dan insitusinya itu tidak pernah benar-benar ada. Jebakan informasi ini memberi contoh bagaimana status kepakaran seolah-olah menjadi patron pengetahuan masyarakat. Masalah itulah yang membuat pengetahuan didera ketidakpercayaan akut sekarang ini.

Cerita lainnya, informasi dari pelbagai sumber, dengan banyak opsi dan ketersediaannya, membuat kita seperti terus-terusan ditarik untuk terpaku pada gawai. Jika tidak cermat, ini menjadi salah satu problematika masyarakat sekarang. Sudut-sudut ruang gerak masyarakat dipenuhi dengan orang-orang yang merunduk memperhatikan gawainya secara seksama, dan cenderung melupakan kondisi sekitarnya.

Hal ini digambarkan dengan baik oleh Kathleen Vandenberg dalam esainya yang berjudul ”Smartphone Membungkam, Pemandangan Kota.” Menurut dosen Universitas Boston, yang juga pengamat gaya hidup, urbanisme, budaya pop itu mengatakan, bahwa sekarang, gawai telah mengambil alih pandangan manusia mengenai kotanya sendiri. Dengan kata lain, gawai memaksa kita untuk lebih mengamini representasi realitas ketimbang, realitas itu sendiri.

Senada dengan Vandenburg, dalam hal ini, kepakaran benar-benar diuji. Tantangannya, bagaimana secara konkret, kepakaran tidak tergoda eksperimentasi yang salah kaprah seperti yang dilakukan oleh Alan Sokal ataupun seperti yang diungkap oleh Tom Nichols sebelumnya. Pengalaman yang demikian, setidaknya menjadi rujukan bahwa kepakaran memang bergantung pada kelangsungan hidup media dan jurnalisme, namun di sisi lain, sangat rentan dan juga rapuh.

Akan tetapi, kepakaran, meskipun memiliki ketergantungan dengan dua hal tadi, sebenarnya kerentanannya dapat ditangani, jika kita menemukan racikan baru menampilkan informasi. Maka, di sini, rumusan penyajian informasi hendaknya dirubah. Kita tidak bisa lagi terus-terusan berkutat pada cara-cara penyajian konvensional yang terpaku pada sensasionalitas tulisan.

Cara-cara demikian hanya memperpendek usia jurnalisme dan juga kepakaran. Jalan menyelamatkan kepakaran dan jurnalisme, salah satunya dengan terus merawat keterhubungan dengan pakar itu sendiri. Suara-suara pakar, dari asal-muasalnya mesti ditampilkan secara otentik, sehingga suara yang terdengar pun juga otentik. Jika rumusan itu bergegas ditemukan, adaptasi, bagi media dan juga jurnalisme, tidak lagi membuat keduanya seperti membohongi diri sendiri.