Nasional

Kepemimpinan Progresif

Kepemimpinan Progresif

Ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman

Sunan Kalijaga (1450-1513)

Adalah Francis Wayland Parker (9 Oktober 1837-2 Maret 1902), seorang veteran Perang Sipil Amerika berpangkat Kolonel. Pada 1901, ia mendirikan sekolah di Lincoln Park, dengan dukungan penuh Anita McCormick Blaine. Filosofi pendidikan yang diajarkan Parker bertujuan mendukung pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dengan membuat mereka sadar dan responsif terhadap kebutuhan mendasar masyarakat.[1]

Parker mengintegrasikan kurikulum, sehingga memicu gairah belajar seumur hidup serta membuat sekolah lebih menarik dan bermakna. Dia percaya, memberi siswa kesempatan untuk belajar melalui pengalaman nyata lebih penting daripada hanya dengan menghapal. Sekolah mendorong siswa untuk berkomunikasi, berpartisipasi, dan berkolaborasi dalam komunitas pelajar yang beragam satu sama lain dan guru mereka.

Oleh seorang filsuf besar yang juga koleganya, John Dewey, Parker dipanggil dengan sebutan ‘Bapak Pendidikan Progresif’. Parker adalah adalah pelopor gerakan sekolah progresif di Amerika Serikat. Dia percaya, pendidikan harus mencakup pengembangan lengkap individu, baik itu mental, fisik, maupun moral.

Terlepas dari pro-kontra, bagaimanapun, pendidikan progresif dianggap mampu mengantarkan peserta didik untuk sadar dan responsif terhadap kebutuhan mendasar masyarakat. Kualifikasi peserta didik seperti inilah yang kelak, bila telah sampai saatnya, akan mengantarkan mereka pada sebuah terma penting, ‘kepemimpinan progresif’.

Karakteristik kepemimpinan progresif dapat terlihat dari lima hal berikut.[2] Pertama, kepemimpinan progresif menjunjung tinggi keteladanan, bukan hanya pandai bicara. Pemimpin akan mendapatkan hak dan rasa hormat dengan mewujudkan keinginan orang-orang yang ia pimpin.

Kedua, kepemimpinan progresif mampu memunculkan keinginan kuat dari orang lain untuk menjadi bagian dari visi. Ketiga, kepemimpin progresif memiliki keinginan kuat untuk tetap berada di depan kurva. Untuk tujuan ini, mereka secara teratur melangkah ke hal yang tidak diketahui dengan melakukan hal-hal yang belum dilakukan oleh orang lain dan atau melakukan hal-hal yang berbeda dari orang lain.

Keempat, kepemimpinan progresif memungkinkan orang lain untuk bertindak dengan menciptakan lingkungan yang mampu dan saling percaya, berdasarkan kolaborasi dan akuntabilitas. Hal tersebut memungkinkan orang-orang yang dipimpin menjadi inovatif, bahkan berimprovisasi, jika memungkinkan, tanpa takut ditegur. Terakhir, namun tidak kalah penting, para pemimpin progresif berempati pada orang-orang yang dipimpin melalui pengakuan dan perayaan kesuksesan.

Dalam bahasa Kiai Sahal Mahfudh[3] umat terbaik adalah manusia produktif, yaitu manusia yang peka terhadap kebutuhan lingkungan, menguasai informasi, mempunyai kompetensi organisasi dan kreativitas tinggi, sehingga mampu menciptakan lapangan kerja dan menumbuhkan wawasan ekonomi yang luas.[4]

Kiai Sahal mendorong umat Islam untuk menjadi umat terbaik yang mampu memberikan kemanfaatan sebesar-besarnya kepada orang lain hingga tercipta peradaban Islam transformatif menuju terciptanya bangunan masyarakat Muslim yang sejahtera, adil, dan progresif.[5]

Pada prinsipnya, kepemimpinan progresif adalah kepemimpinan yang sadar dan responsif terhadap kebutuhan mendasar masyarakat. Kepemimpinan progresif tidak bergerak bak menara gading yang tak tersentuh, tapi manunggal dengan semua persoalan orang-orang yang dipimpin.

Untuk itu, seorang pemimpin progresif haruslah memiliki sikap tidak mudah kagum (gumunan), tidak mudah menyesal (getunan), tidak mudah terkejut (kagetan), serta tidak manja (aleman). Dengan begitu, ia tidak akan gentar berhadapan dengan situasi sulit apa pun.

Semoga para pemimpin nasional kita demikian.

Tulisan ditayangkan Jogja Daily.

[1] https://www.fwparker.org/about/history. Diakses 23 Juni 2020.

[2] Diolah dari Modise, Oitshepile MmaB (ed.). 2015. Cases on Leadership in Adult Education. Pennsylvania: IGI Global. h. 54-55.

[3] Ketua Majelis Ulama Indonesia 2000-2014 serta Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sejak 1999 hingga 2014.

[4] Jamal Ma`mur Asmani. 2019. Tasawuf Sosial KH. MA. Sahal Mahfudh. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. h. 176.

[5] ibid.