Nasional

Kesadaran Psikologis-Ekonomi Menghadapi ‘New Normal’

Kesadaran Psikologis-Ekonomi Menghadapi ‘New Normal’

Musibah Covid-19 di Indonesia belum juga usai menjelang bulan yang keempat ini setelah pasien positif corona pertama diumumkan presiden. Dan pada awal Mei yang lalu Kemenko Perekonomian mengkaji bahwa awal Juni mulai menerapkan secara bertahap kegiatan ekonomi. Artinya bahwa ketika kondisi masyarakat sudah kembali bergerak, ekonomi sudah mulai berjalan. Namun pada kenyataannya menurut BNPB jumlah terinfeksi makin banyak dan belum menunjukkan penurunan hingga akhir Mei.

Infeksi virus yang menular dari human ke human ini menjadikan manusia sebagai carrier dan transit kehidupan virus. Sehingga di mana pun manusia bergerak, di sana akan terjadi penularan. Kecuali manusia yang sehat atau bersih dari virus. Sayangnya virus ini tidak terlihat, bahkan inangnya yaitu manusia hampir tidak menunjukkan gejala jika ia sedang membawanya. Alhasil, virus ini menular dengan ‘diam-diam’ kepada manusia yang lain.

Oleh karena itu muncul imbauan dan perintah untuk di rumah saja, work from home, pembatasan skala berskala besar (PSBB), serta imbauan penggunaan masker, social/physical distancing, cuci tangan, dan mengkonsumsi vitamin yang meningkatkan kekebalan tubuh. Dan selalu menjaga kesehatan psikologis, seperti menjaga dari kecemasan dan kepanikan yang akan berakibat pada menurunnya imun sebagai penyebab utama mudahnya virus ini menyerang.

Perubahan yang terjadi tiba-tiba ini tidaklah mudah untuk semua orang. Mendadak bekerja di rumah, mendadak tempat usaha tutup atau omset menurun, sekolah libur, komunikasi mengandalkan internet, dan tiba-tiba mengubah kebiasaan keluar rumah dengan segala protokol yang ketat. Perubahan ini membawa dampak pada segala bidang kehidupan, di mana segala kebutuhan pokok manusia bergerak dari hulu ke hilir.

Inginnya meminimalisasi pergerakan manusia, namun tidak mau berdampak pada ekonomi. Dan, Lebaran adalah bulan yang paling ditunggu bagi banyak pemilik bisnis, namun tidak untuk tahun ini. Mall, pasar, dan shopping online terlihat tidak banyak menunjukkan gelagat yang signifikan seperti tahun lalu. Bahkan, jalanan daerah yang biasanya macet terlihat seperti hari-hari biasa. Banyak masyarakat menahan diri untuk tidak keluar rumah; bisa jadi karena menjaga diri dari virus atau bisa jadi pula karena keuangan mereka yang tidak sama dengan tahun kemarin.

Namun, Lebaran tanpa baju baru ternyata Idul Fitri tetap dirayakan; Lebaran tanpa banyak keluar rumah ternyata tidak menghilangkan suasana silaturahmi; memasak sendiri pun ternyata tetap mengenyangkan. Dan semua berjalan stabil, tanpa protes dari masyarakat karena tidak memakai baju baru, tidak bisa makan di restoran, dan tidak bisa bepergian. Sebaliknya, keluhan disuarakan oleh pengelola bisnis, yang kemudian menyimpulkan bahwa ekonomi sedang terguncang, namun kenyataannya konsumen tetap tenang, karena mereka hanya sedikit mengurangi keinginan ‘membeli’, bukan mengurangi kebutuhan.

Perubahan masyarakat sebagai konsumen dalam mengelola pengeluaran konsumsi ini membuat produsen terganggu—penduduk Indonesia yang sangat banyak tentunya menggiurkan bagi pasar. Dan sebagai konsumen, hanya perlu sedikit adaptasi. Namun, sebagai produsen merupakan kehancuran yang luar biasa karena kehilangan pangsa pasar besar, di mana mereka bisa berkali lipat memperolah keuntungan. Produsen menjadi enggan masuk ke dalam wilayah ini dengan ditandai tidak banyak lagi iklan atau promosi diskon, serta tidak dibukanya lagi toko-toko cabang di daerah. Dan sebagai konsumen, hal ini bukan masalah. Masyarakat bisa kembali belanja di warung tetangga, lebih sehat karena lebih sering memasak sendiri, bahkan udara menjadi lebih bersih karena tidak banyak kendaraan keluar.

Dengan gerakan di rumah saja akibat dampak pandemi, maka pula industri retail besar tidak lagi untung besar, kebutuhan kendaraan pribadi menurun sehingga industri otomotif tidak lagi menarik, kafe-kafe sudah tidak menjual brand lagi, dunia properti tidak lagi berkembang karena masyarakat sudah cukup puas dengan satu rumah yang mereka tinggali saat ini. Munculnya pengangguran sebagai risiko hilangnya industri besar, membuat mereka berpikir untuk mencari penghasilan dengan mengambil alih peran-peran produsen dalam skala kecil, sehingga akan lahir pengusaha-pengusaha baru. Sekaligus menunjukkan bahwa industri skala kecil mampu menjadi organisasi besar yang mampu mengelola dan mengendalikan ekonomi dalam wilayahnya.

Kenyataannya memang, persoalan ekonomi hanya dirasakan oleh sektor produsen. Konsumen duduk tenang, hanya sedikit adaptasi dengan pengeluaran, dan sadar bahwa selama ini sering membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan, sadar bahwa iklan dan promosi hanyalah fatamorgana. Kelak jika new normal terjadi, ketika virus ini belum lagi hilang, berharap pengelolaan konsumsi masyarakat seperti ini tetap berjalan. Tanpa retail besar, tanpa mall, tanpa kendaraan baru, dan tanpa memiliki dua tiga rumah. Masyarakat akan bisa saling memenuhi kebutuhannya sendiri, menjadi produsen dan konsumen bagi tetangga, masyarakat, dan bagi negaranya sendiri.

Ditayangkan Detik.