Fiksi

Konflik Tanpa Caci

Konflik Tanpa Caci

“Bapak Alesius, mae naji le, jao ganggu robba dia, jao mai punu1,” ucap Karlo setelah pintu rumah Kepala Desa Keligejo dibukakan.

Dengan muka yang muram, harapan yang tinggi, dan rasa hormatnya, Karlo dipersilakan duduk. Semburat terik semakin menembus atap-atap seng rumah di Malyana2 dan membuat suhu meninggi. Pantulan panas dari seng-seng itu membuat kulit berkeringat dan barang tentu membuat keringat Karlo makin mengucur deras. Bagaimana tidak, kali ini ia akan merebut nasinya dari orang yang telah mempercayainya.

Molo, moe de wi tapa3, Karlo?” kata Alesius dengan tenang.

Ia tahu betul, warganya satu ini sedang dirundung masalah ketika melihat mimik Karlo yang telah menghapus senyum dari wajahnya. Karlo yang didampingi salah satu temannya, Yosef mencoba mengurai dan menyusun kata-katanya dalam deret-deret kalimat agar tidak ada satu fakta—menurut pandangannya yang terlewatkan.

“Begini, Bapa. Dua minggu lalu saya su kerja membuat rumah di Frans punya rumah. Saya senang betul bekerja di rumahnya. Diberikannya nasi dan ikan setiap siang, kadang-kadang pisang goreng atau ubi bakar, Ia suguhkan di mejanya yang kecil itu ketika saya datang dengan seteguk moke4,” ucapnya dengan hati-hati.

“Lalu?” tanya Alesius ingin segera tahu

“Saya memang senang bekerja di rumahnya Bapa, namun saya ingin melaporkannya.”

Sambil menceritakan dengan panjang, Karlo sangat berhati-hati ketika mengungkapkan riak-riak dalam hatinya yang kini meletup-letup. Bapa Kades pun manggut-manggut ketika mendengarkan cerita Karlo. Sedang Yosef sedari tadi hanya terdiam. Memang Karlo meminta Yosef untuk tidak ikut menimpal satu kata pun, selama Karlo tidak mempersilakan.

“Molo, Karlo. Sebentar sore saya ke rumah Frans. Tentu kau jangan membesar-besarkan masalah ini. Biar tidak menjadi runyam. Agar orang-orang kampung juga tidak mendengar cerita yang salah dan akhirnya menambah masalah,” nasihat Alesius.

“Iya, Bapa.”

Karlo berpamitan dan merasakan ada sedikit ruang untuk bernapas di dalam hatinya. Melangkahkan kakinya bersama Yosef meninggalkan pekarangan rumah Kades dan menapaki jalan yang kadang-kadang beraspal dan kadang pula ditemui tanah. Terik di Malyana semakin menusuk nadi. Membuat menghitam epidermis orang-orang Indonesia Tengah itu. Hingga menjelang tiga perempat siang.

“Frans, aduh ee, jangan marah le, jao wi tana, tu’u gho bhai gau bhai ti’i weli go tukang gau5? Saya dengar begitu dari Karlo yang melapor tadi pagi,” kata Alesius ketika Frans tengah membenarkan bambu-bambu Naja6 di dapurnya.

Bhai moe kena le Bapa, jao go doi woe bhai le7,” timpal Frans dengan berdiri.

Ia pun sebenarnya paham, Karlo, tukang yang beberapa hari bekerja membuat rumah permanennya itu akan melaporkannya kepada Kades karena upah Karlo belum juga dibayarkan karena uangnya tidak cukup lagi. Seperti pada budaya yang masih melekat. Kades akan menggelar musyarawah di rumah Frans untuk memecahkan masalahnya dengan Karlo.

Petang dan senja yang saling beradu kecepatan menerjang deti-detik, timbul tenggelam dan begitu tergantikan, hingga sampai pada detik di mana Musyawarah dimulai. Rumah Naja Frans yang kecil itu penuh dengan orang-orang dusun yang berkerumun mendengarkan musyawarah yang digelar ketika anak-anak sekolah melangkahkan kakinya untuk pulang. Ya, di siang bolong itu. Kades membuka musyawarah.

“Selamat siang semua, semoga Tuhan memberkati musyawarah kita kali ini. Baik begini Bapa Frans dan Bapa Karlo beserta warga Malyana yang saya hormati. Bapak Karlo melaporkan Pak Frans yang tidak membayar upah tukang sebanyak 200 ribu rupiah. Nah ini baiknya bagaimana Pak Frans dan Pak Karlo?” Alesius membuka kata.

Uang 200 ribu memanglah besar menurut Karlo dan tentu besar pula untuk Frans. Memanglah sebuah kesalahan yang dilakukan Frans yang tidak bisa membayarnya. Namun memang Frans tidak mempunyai uang itu, rumah yang dibangunnya itu adalah rumah bantuan dari pemerintah, mungkin lebih tepatnya proyek kementerian desa tertinggal untuk memenuhi kebutuhan rumah permanen bagi desa-desa tertinggal di Nusantara ini.

Orang-orang bergerumuh, membicarakan Frans yang sedari tadi hanya tertunduk malu. Mereka menyebut-sebut nama Frans lebih dari sepuluh kali dan membuat Frans menjadi memerah mukanya.

“Ya, memang saya akui saya tidak bisa membayar kepada Karlo, karena uang itu telah habis untuk membeli semen. Saya pikir Karlo dapat menahan haknya itu dan saya hanya meminjam uangnya untuk saya kembalikan minggu depan,” katanya dengan berani agar apa yang menjadi tanda tanya di orang-orang kampung menjadi lenyap dan berharap sedikit dukungan melaju kepadanya.

“Bagaimana Karlo?” tanya Alesius.

Karlo hanya menahan kemarahannya, kenapa bisa uang itu bisa dibelikan semen sedang nasi dan lauk yang seharusnya ia makan bersama istri dan anak-anaknya menjadi tertunda.

“Saya ingin minggu ini Bapak, saya su ti punya uang. Saya mau beli beras dan ikan untuk keluarga saya Bapa,” pintanya dengan sedikit nada tinggi

Musyawarah itu menjadi berlarut, mengemasi menit demi menit. Konflik yang secuil itu bakalan menjadi menggelembung apabila tidak dipertemukan dalam musyawarah itu. Perangkat desa dan suprastuktur di dalamnya termasuk warga kampung menjunjung tinggi pertemuan itu, menjadikannya budaya lama yang masih melekat dan turun-temurun.

Budaya yang begitu membumi menghilangkan cacian-cacian yang mudah saja terlontar bila Raja rintangan kehidupan datang. Mungkin terlihat cara kuno, namun cara ini terbukti mujarab, di satu sisi dapat menyelesaikan konflik yang sedang ada dan di sisi lain merekatkan hubungan yang awalnya tersekat tembok besar.

Konflik yang datang dengan mudah dilenyapkan, tanpa emosi dan tindakan yang membawa malapetaka yang berkepanjangan. Kebijaksaan warga Malyana menjadi satu cermin tentang dijunjungnya tinggi sila-sila kemanusiaan dan mengakomodasi kepentingan bersama.

“Baiklah, saya akan usahakan bagaimana pun caranya untuk membayar upah Karlo di minggu ini,” ucap Frans dengan lesu walaupun di kepalanya hanya akan terbenak, utang lagi.

Mereka pun berjabat tangan disaksikan warga kampung. Permasalahan itu lantas selesai di hari itu juga. Kades berharap permasalahan itu ditutup erat-erat hingga tiada lubang lagi yang akan mengungkit dan menjadi pembicaraan di kemudian hari. Sehingga bukan parang dan pedang yang berbicara, melainkan kebersamaan untuk memecahkan. Kades dengan arifnya menjadi sang penengah dan menjadi penenteram bagi keduanya.

 

  1. Maaf mengganggu di pagi ini, saya ingin melapor—dalam bahasa Badjawa Flores.
  2. Salah satu dusun di sebelah bawah Dusun Nunumeo, Keligejo, Aimere, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur
  3. Iya, bagaimana, ada apa?—dalam bahasa Badjawa Flores
  4. Sebutan minuman dari fermentasi pohon Nira yang bila terlalu banyak akan memabukkan. Orang Kupang menyebutnya ‘Sophie’.
  5. Saya mau tanya, apakah benar kau tidak membayar tukang kau?—dalam bahasa Badjawa Flores
  6. Rumah yang berasal dari bambu
  7. Bukan begitu Bapak, saya hanya belum mempunyai uang saja—dalam bahasa Badjawa Flores