Fiksi

Ladam Kuda

Ladam Kuda

Rutinitasku adalah berjualan di pasar dan berbelanja, kulakan barang dagangan ke kota, seminggu sekali. Di desa kecil, di Boyolali, aku tinggal bersama suamiku. Kami pengantin lama, yang belum memiliki keturunan. Meski begitu, aku merasa bahagia. Suamiku, amat sangat menyayangiku, meski kadang aku sendiri yang merasa tidak sayang padanya. Aku terlalu berharap padanya, namun suatu saat, aku berfikir; bagaimana bisa lepas dari tergantung padanya.

Namaku Sri Rejeki. Nama ini pemberian mendiang bapak. Ia berharap, selalu mengalir rizki di keluargaku. Memang benar maksud baik bapak dengan memberiku nama Rejeki. Ibuku yang rajin, telah memberinya banyak rizki. Ibu berjualan di pasar, dan profesinya yang kelak diwariskan padaku ini, telah dilakoninya dengan amat tekun. Ia berhasil membangun sebuah kios yang membuat iri para pedagang lain. Bapak sangat bahagia dengan ini, mengingat ia sendiri hanyalah seorang buruh tani yang tak memiliki sawah. Istri pertamanya, katanya minggat dengan orang lain yang lebih kaya. Namun setelah bapak menikah lagi, dan sekian tahun berikutnya ibuku berhasil membangun kios di pasar, ibu sakit aneh dan meninggal. Bapak sedih sekali, biaya pengobatan ibu menguras habis hartanya, kios terjual. Bapak menyusul ibu tak lama setelah menikahkanku dengan Amat Saepudin, seorang guru SD.

Pasar Lebak, tempat aku berdagang, adalah tempat hidupku. Sejak kecil aku menemani ibu berjualan di sini. Saat itu pasar masih ramai. Di dekat pasar memang ada mata air yang biasa dikunjungi oleh orang-orang yang sekedar mandi dan jalan-jalan. Kami menyebutnya sumber. Desa kami memang dekat Gunung Merapi, banyak sumber disini, membuat tempat ini seperti tempat wisata yang selalu ramai, terutama saat padusan menjelang bulan puasa. Namun lambat laun pasar makin sepi, terutama ketika air sumber juga makin surut dan bahkan tak ada air sama sekali. Banyak orang bilang, pabrik yang baru dibangun di beberapa puluh meter jaraknya telah menyedot air sumber. Tapi aku tak paham.

***

Mas Amat pulang ngajar. Seperti biasanya, ia selalu nampak sayang dan membelaiku. Aku mengeluh, dagangan berasku sepi.

hari ini pasar sangat sepi, masak sehari hanya satu orang pembeli

ya sabarlah, hiburnya.

harga beras naik. Besok kalau beras habis nggak bisa kulakan mas, soalnya nggak bisa ngejar harga beras yang sudah melambung, aku terus bicara.

Tapi Mas Amat malah pucat, apa yang bisa kulakukan Sri, aku hanya guru SD.

***

Hari-hari berlalu, aku merasakan makin sepi saja. Malah di pasar ada berita; tuyul Lik Parni, tertangkap basah saat ngambil uang di kios sebelah. Lik Parni sempat kulihat nangis-nangis minta maaf. Aku harus hati-hati. Uang hasil jualan harus diikat karet biar nggak diambil tuyul. Persaingan antar pedagang memang kadang nggak masuk akal. Tapi keberadaan tuyul ini memang umum di pasar, wajar. Tapi aku nggak pernah berfikir menambah uang dengan cara seperti itu. Mas Amat selalu mengingatkanku, ia guru Agama di SD.

Cuma yang membuatku agak menyesal. Uang seratus ribuku hari ini hilang. Setelah kupikir-pikir; aku belum mengikatnya dengan karet. Aku tidak berani bilang Mas Amat, aku hanya cemberut. Tapi nampaknya Mas Amat faham, karena aku mengeluh padanya hampir tiap hari.

nggak masalah jawab Mas Amat, mulai minggu depan aku dapat kerjaan baru, nge-les anak-anak yang segera Ujian Nasional, bulan Juni depan. Jadi aku dapat tambahan

memangnya dapat berapa mas? Apa iya, bisa menutupi harga-harga yang makin mahal? BBM naik lagi, transportasi naik, dan merembat ke harga-harga lain. Sumber juga makin kering, pasar jadi sepi.

Sumber memang menjadi daya tarik pasar yang kuat. Hampir setiap pengunjung pasar, selalu mampir kesana untuk sekedar cuci muka atau nyelupkan kakinya di air.

Mas Amat menjanjikan uang tambahan dari nge-lesnya, tapi katanya, memang tidak terlalu banyak, hanya ini yang bisa kuusahakan Sri. Aku hanya guru SD.

***

Menggunakan pit onthel sambil membawa bronjong adalah kebiasaanku sepulang dari pasar. Melewati sawah yang menuju rumah di sebelah timur Pasar Lebak. Aku menyapa Lik Sukiyo yang masih saja bekerja keras.

pak lik, laut! sapaku pada Lik Sukiyo yang sedang babat. Laut artinya istitahat, ucapan basa-basi menyapa petani yang rajin.

oh, yo jawabnya.

Lik Sukiyo, orangnya hitam legam, mungkin karena kebiasaannya berjemur di sawahnya. Nampaknya, capingnya tidak cukup melindungi seluruh badannya. Orangnya selalu serius. Ia jarang tersenyum.

piye sri? Payu ora? tanyanya.

wah sepi lik, koyo biasane jawabku.

kamu harus bisa mandiri, ojo njagakke bojomu thok. Ra cukup katanya.

Kata-kata aku hanya guru SD yang sering diucapkan Mas Amat di setiap akhir obrolan kami, sebetulnya membuat aku gemas. Tapi, uang hasil nge-les nya selama seminggu ini, membuatku agak lega. Aku berharap banyak dengan uang ini, paling tidak untuk mengimbangi harga-harga yang makin melambung. Aku makin memberi perhatian padanya.

***

Desa Nepen, nampak selalu mendung di setiap sorenya. Perubahan drastis ini selalu diikuti guntur dan hujan. Padahal sejak pagi hingga siang, panas teriknya luar biasa.

Lik Sukiyo, wira-wiri lewat depan rumahku tiap sore menjelang hujan. Sesekali ia menoleh ke arah rumah dibalik capingnya, sejenak, terus melewati rumah. Aku melihatnya dari kaca jendela. Ini dilakukannya tiap hari, memang jalan pulangnya selalu melewati rumah. Kepulangan Lik Sukiyo, biasanya diikuti Mas Amat. Tapi nampaknya ia kehujanan kali ini.

Mas besok bawa payung ya! aku berusaha menunjukkan perhatian. Maklum, beberapa hari ini aku nampak stres dan cuek dihadapannya.

***

Hari berikutnya, seperti sudah menjadi kebiasaan dan jam pulang, Lik Sukiyo lewat depan rumahku. Ia sesekali ia menoleh ke arah rumah dibalik capingnya, sejenak, terus melewati rumah. Aku melihatnya dari kaca jendela. Kepulangan Lik Sukiyo, biasanya diikuti Mas Amat. Hari ini ia tak kehujanan. Aku sudah membawakannya payung hari ini.

Aku berhemat dengan uang pemberian Mas Amat dari hasil nge-lesnya. Kupikir, aku bisa ngumpulin dan bisa lebih mandiri nanti. Kalau uang ini ngumpul, aku bisa kulakan. Aku tetap optimis dengan pasar, tapi aku juga nggak bisa njagakke terus. Penghasilan di pasar harus segera membaik.

***

aku menawarkanmu sebuah ladam, sri kata Lik Sukiyo setelah wira-wiri dan nampak ragu-ragu mampir ke rumah. Ia nampak putus asa, wajahnya yang hitam kepanasan di sawah tidak bisa menyembunyikan.

ladam kuda?

ya

apa khasiatnya buatku, aku bukan kusir lik, nggak punya kuda, kukira Lik Sukiyo bercanda.

percayalah. Barang ini wingit, membawa keberuntungan. Kata orang ini namanya jimat pembawa rejeki.

aku nggak percaya itu lik. Di pasar memang banyak orang punya pesugihan macam tuyul, tapi setelah tuyul Lik Parni ketangkap, aku jadi percaya.

apapun bentuknya, pesugihan itu ada. Ini ladam kuda, ini benda mati. Jadi nggak perlu khawatir nanti ketangkap.

maksudnya?

kamu hanya menempelkannya saja di dinding, kalau barang ini meyala, kamu tinggal bikin sesajen. Wis tho, aman.

saya pikir-pikir dulu lik.

***

Sepulang dari nge-les, Mas Amat aku bikinkan gorengan. Ia nampak lebih ceria meski hari hujan.

untung bawa payung mas, jadi tak perlu berhujan-hujan seperti kemarin kata Sri.

oh ya, untung sekali

tapi sebenarnya bisa lebih cepat sampai rumah, kalau dokar itu mau memberi tumpangan

dokar siapa? tanya Sri.

aku juga tidak tahu, mungkin besok langsung saya cegat saja biar aku bisa naik.

Aku tidak menceritakan kalau Lik Sukiyo mau memberi ladam kuda kemarin. Aku tidak berani. Pasti kalau aku ceritakan, ia akan ngeyel dan menolak. Ia tak mau musrik. Kuceritakan saja kapan-kapan.

***

Hari berikutnya, bagiku nampak cerah. Aku tak akan menerima ladam aneh itu. Bagiku mau tuyul, mau ladam atau apalah bentuknya, semuanya musrik. Bentuk-bentuk seperti ini memang banyak muncul di desa ini. Banyak yang mempunyai pesugihan. Di kampung ini, apalagi di pasar, sepertinya sudah umum, sudah jamak kalau orang punya pesugihan.

Dan sudah kuduga. Siang ini Lik Sukiyo mampir lagi.

ya sudah Sri kalau nggak mau, aku mau tawarkan ke yang lain, Lik Sukiyo nampak hendak buru-buru pergi.

jangan dulu Lik!, aku spontan.

Ladam kupasang di atas pintu.

Lik Sukiyo pergi pamit meski hujan sudah dimulai.

Beberapa menit berlalu, guntur dan hujan mulai deras. Nampak di kejauhan Lik Sukiyo tertatih-tatih menggendong orang.

siapa orang itu pikirku.

Makin mendekat, makin aku tahu.

aku kenal orang itu, Mas Amat

Aku tercenung melihat ladam di atas pintu itu.*

Jakarta, 3 Juli 2008