Pengembangan Diri

Membangun Personal Branding Lewat Jejak Digital

Membangun Personal Branding Lewat Jejak Digital

Apa sih personal branding? Arti dari brand sendiri adalah merek, sedangkan personal adalah pribadi. Apakah kemudian menjadi pribadi yang bermerek? Ya pasti. Karena merek itu ingin menunjukkan identitasnya kepada publik bahwa apa yang dimiliki berkualitas. Jika berkualitas maka banyak orang akan tertarik untuk membelinya. Bagaimana merek tersebut dapat sampai kepada pandangan publik? Caranya adalah dengan promosi di tempat di mana pubik banyak memberikan ruang untuk melihat, membaca, dan menikmati untuk bisa mudah dicerna dan mengena.

Marketing yang melibatkan situasi psikologis seseorang sudah menjadi tren belakangan ini. Ingat panggilan cebong dan kampret? Inilah salah satu branding dalam masa pilpres. Dan coba rasakan efek psikologis bagi pendukung keduanya. Atau bagaimana kesimpulan kita jika menyebutkan seseorang yang bernama Nikita Mirzani? Wah, yakin satu kampung menyimpulkan hal yang sama.  Di sinilah brand itu terbentuk. Entah disengaja maupun tidak.

Era digital saat ini mampu menggeser pola marketing yang semakin fast, murah, dan tentu best design. Media abstrak yang dinamakan dunia maya sudah semakin berkembang dengan batas yang belum diketahui. Ruang privat semakin sempit membuat dunia ini tidak lagi bisa dinikmati berdua karena orang lain sudah enggan mengontrak. Media sosial yang bertebaran membuat semua orang bisa menyapa publik. Instagram, Facebook, Twiter, LinkedIn adalah beberapa media yang populer sebagai kontributor dalam membuka ruang publik. Bebas tanpa sensor, bebas ekspresi, bebas berpendapat, bebas berpakaian, hakim di sini hanya satu yaitu netizen.

Di balik ingar-bingar dan kontroversi netizen, bagaimanapun media sosial telah membawa perubahan dalam segala hal, terutama ekonomi.  Salah satunya adalah munculnya industri start up yang bisa dibangun oleh siapa saja bermodalkan teknologi. Online shopping juga telah memulai geliatnya terlebih dahulu membuat pemerintah gerah untuk segera mengesahkan kebijakan pajak.

Semua orang telah terkoneksi dengan media sosial. Siapapun bisa menceritakan aktivitasnya, sedang di mana, dan bersama siapa kepada publik. Hal ini semata-mata bertujuan untuk membentuk image atau citra publik terhadap dirinya. Jika ingin dianggap kaya maka ia akan lebih sering menampilkan simbol kekayaan di dalam setiap postingannya, walau jika offline yang terjadi bisa saja sebaliknya. Namun, sering pula banyak orang menampilkan dengan jujur gambaran dirinya kepada publik, sehingga secara tidak sengaja brand asli dirinya tercipta.

Dampak Personal Branding

Meningkatnya Value atau Nilai Jual

Media sosial bisa dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kelangsungan hidup, apa yang dilihat publik itulah yang hendak ia jual.  Setiap orang membawa merek dirinya sendiri, berkualitas, baik buruk tergantung bagaimana pribadi dan karakter seseorang. Seorang motivator akan banyak menjual pesan gambar maupun caption kegiatannya agar tercipta citra profesional sebagai trainer.

Personal branding ini bisa mengantarkan seseorang dalam mencapai karirnya dengan lebih menonjolkan keunikan dan kompetensinya. Ada nilai jual yang hendak ia tunjukkan kepada publik. Ia ingin terkenal dengan citra yang melekat pada dirinya, walaupun sebenarnya mungkin bukan ahli yang mumpuni. Maka, kejujuran dan menjadi diri sendiri adalah penting. Bukan hanya sekadar pencitraan yang diskenariokan, karena cepat atau lambat hal ini akan merusak personal branding yang sudah dibangun.

Berkembangnya Karir dan Bisnis

Personal branding akan membawa dampak yang luar biasa terhadap bisnis dan karir seseorang. Personal branding seperti layaknya pisau bermata dua, di satu sisi bisa meningkatkan value positif sehingga banyak orang mengajak bekerja sama seiring citra yang positif. Namun di sisi lainnya membuat orang lain malas berinteraksi atau kehilangan minat untuk sekadar berteman karena posting maupun komentar yang tidak membangun.

Semakin terlihat bahwa kepribadian adalah investasi, karakter adalah lokomotif kehidupan. Setiap komentar dan gambar yang diposting menggambarkan kepribadian, menampilkan pengalaman, dan membawa kesimpulan yang dibuat oleh publik.

Menambah Teman dan Jaringan (Silaturahim)  

Berhati-hati dalam berkomentar adalah penting. Kebiasaan mencaci dan menyalahkan diubah dengan komentar yang membangun. Tidak usah pelit dengan pujian atau hanya sekadar ‘like’. Tidak usah nyinyir dan kagum berlebihan pada seseorang karena sejujurnya kita semua tidak tahu pada saat ia offline. Mari ciptakan personal branding dengan kata-kata yang positif sehingga akan banyak orang suka berteman, dan mengajak bekerja sama, dan berbisnis bersama. Mari jujur dan menjadi diri apa adanya, bukan diada-adakan untuk memaksa publik menyimpulkan sesuatu yang tidak dilakukan.

Meningkatnya Kepercayaan Diri dan Berpikir Positif

Jika sudah terikat dengan personal branding dalam jangka waktu lama akan memaksa seseorang untuk meningkatkan pengetahuan agar selalu ada materi yang hendak disampaikan. Secara tidak sadar akan membuat seseorang merasa harus terus belajar, dan akhirnya menciptakan growth mindset. Dengan pengetahuan yang bertambah, maka seseorang menjadi lebih percaya diri dan berpikir positif karena fokus pada peningkatan kualitas diri.

Personal branding tidak dibangun dalam waktu singkat. Selayaknya membangun brand atau merek yang berkualitas tidak hanya sekadar nama dan desain iklan yang bagus, namun membutuhkan pembuktian dan karya yang bisa ditunjukkan dengan pengamalan dan pemikiran. Selain itu, untuk mengetahui seseorang tidak perlu lagi membuat biodata diri, jejak digital akan bercerita. Menjadi pribadi positif adalah investasi. Karakter adalah jendela publik untuk memutuskan dalam membeli seseorang. Maka jual diri kita dengan positive mind, positive attitude, dan positive comment!