Pengembangan Diri

Menyatukan Frekuensi

Menyatukan Frekuensi

Cuaca mulai dingin akhir-akhir ini. Semoga pikiran kita juga. Tidak mudah tersulut oleh hal-hal remeh, tidak mudah memandang orang lain remeh. Seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya. Memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti, memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil akan sangat merepotkan. “Karena ukuran kita tak sama,” kata Salim A Fillah.

Sungguh tak bijak mengukur orang lain sesuai dengan ukuran-ukuran kita sendiri. Tempaan pengalaman yang berbeda, akan menghasilkan pribadi yang berbeda pula. Beda ukurannya, beda kecenderungannya, beda tindak tanduknya. Setiap orang terbentuk dari pengalaman hidupnya masing-masing. Seperti cara bertutur, sikap, kepedulian, bentuk kasih sayang, idealisme, prinsip, hingga pemilihan kata yang digunakan.

Setiap orang berbeda, tak ada kepribadian yang benar-benar serupa meski dua orang tumbuh di bawah atap yang sama. Pikiran kita bertumbuh dan kepribadian kita pun demikian. Kita memilih perilaku untuk mencerminkan diri kita. Kita memiliki konsep diri. Willam James dalam bukunya The Principle of Psychology, mendefinisikan pemahaman mengenai ‘self’ dan ‘identity’. Self menurutnya, merupakan sesuatu yang dapat dikatakan oleh orang lain mengenai diri kita, apa pun. Bukan hanya soal tubuh dan keadaan psikisnya saja.

Self membuat masing-masing kita yang memiliki irisan-irisan sosial lantas mengenal bahwa dia adalah seorang dokter, dia penulis, dia psikolog, dia arsitek, dia pendakwah, dia pedagang, dia dosen, dan lain sebagainya. Peran-peran paling kuat yang berada di dalam diri seseorang membuat kita mengenalnya secara sosial. Kita juga memahami bahwa dia orang yang sabar, dia orang yang dermawan, dia ramah, dia memiliki hati yang baik, dia pendiam, dia pemarah, dia culas, pengkhianat, atau dia memiliki hubungan sosial yang buruk. Konsep tersebut terjadi sesuai dengan bagaimana orang-orang bersifat sebagaimana gambaran dirinya.

Melalui tabula rasa, John Locke menawarkan gagasan yang tidak jauh berbeda. Kali ini tentang filosofi kertas. Kertas putih adalah putih. Bersih. Suci. Kosong. Berisi apakah ia nanti, coretan acak atau lukisan tanpa bercak, tergantung bagaimana kertas itu berada. Di tangan siapa, dalam lingkungan seperti apa. Setiap individu bebas mendefinisikan isi dari karakternya, tetapi pengalamanlah yang lantas mempengaruhi kepribadian, perilaku sosial, emosional, serta kecerdasannya. Namun, asumsi tentang jiwa yang bebas ini ditentukan serta dikombinasikan dengan kodrat manusia, begitulah yang terjadi ketika lahir doktrin Lockean tentang apa yang disebut alami. Maka dari itu, setiap orang berbeda.

Setiap orang berbeda. Seperti berita kelahiran Ishaq yang dikabarkan sebagai anak yang alim, hingga lantas kita tahu, Bani Israil keturunannya, dikaruniai kecerdasan yang tinggi. Sementara berita kelahiran Ismail, dikabarkan sebagai anak yang amat sabar. Hingga kita mengakrabi bahwa kisah-kisah hidup hingga keturunannya Muhammad, tak henti dilimpahi bertubi-tubi ujian yang meluaskan kesabaran.

Setiap orang berbeda. Mustahil untuk menemukan seseorang yang serupa dengan kita. Mustahil kita meminta dipersatukan dengan sosok yang syarat dan keharusannya kita reka-reka. Setiap orang spesial. Semua memiliki keunikannya masing-masing. Memiliki kelebihannya masing-masing. Memiliki kekurangan. Memiliki potensi yang bisa ditumbuh-kembang dan berdayakan.

Tetapi, tidakkah terpikir? Daripada memperdebatkan betapa perbedaan kadang sungguh merumitkan, jangan-jangan itu adalah pertanda. Pertanda bahwa setiap manusia memiliki tugas besar menjadi yang terbaik. Terbaik, sesuai kemampuan dirinya. Terbaik sesuai ukurannya. Terbaik dengan kebaikan-kebaikan yang senantiasa diusahakannya. Sehingga saat satu energi kebaikan bersatu dengan energi kebaikan yang lain, mereka lantas bersinergi melimpahi semesta dengan jutaan kebaikan yang lain. Setiap orang spesial. Tapi tidak lantas menjadi istimewa. Mereka yang istimewa adalah yang menjadi pribadi kuat dengan kebaikan-kebaikan yang menyertai.

Setiap orang tak sama. Seperti setiap hati yang memiliki kecenderungannya, dan setiap pikir memiliki sudut pandangnya. Setiap orang berbeda. Yang serupa, Allah memberi kita iman meski kita tidak pernah memintanya. Maka semoga atas iman ini, Allah memudahkan jalan menuju syurga ketika kita memintanya.