Fiksi

Merebut Hak

Merebut Hak

Srek-srek… srek-srek… srek-srek….

Sepeda itu terus dikayuh Rahya. Orang-orang memelototi sepeda itu, mungkin sambil membatin. Lantaran tak biasa orang-orang melihat orang dewasa bersepeda. Sekarang ini, Gowes, istilah bersepeda, sedang banyak digandrungi di beberapa kota besar. Gowes bahkan menjadi pilihan favorit atas kemacetan dan atas kesenangan.

Namun berbeda dengan di Flores sekarang ini. Bersepeda hanya dinikmati anak-anak, itupun hanya segelintir anak. Memang secara topografi, berbukit dan berpantai, namun senyatanya bukan alasan itu masyarakat tak kenal bersepeda.

Mereka sedang dibuaikan dengan kemajuan, kemajuan ‘si roda dua’. Memang si roda dua yang sudah biasa itu baru mereka rasakan belum lama. Pantas bila melihat di jalanan, orang-orang mengendarainya dengan cepat, kadang berangusan dan kadang-kadang dengan gaya khasnya.

Euforia kendaraan roda dua itu masih mereka rasakan. Jelas ini sebuah zaman yang telah lama dirasakan orang-orang pulau berkemajuan. Sedang mereka baru merasakan kemajuan itu, atau lebih tepatnya kemajuan yang telah dikadaluarsakan. Dikadaluarsakan oleh kebelum-adilan pulau-pulau di Nusantara ini. Mungkin entah berapa puluh tahun lagi, kegandrungan akan sepeda pasti akan muncul, di saat mereka merasakan kemajuan yang sebenarnya.

“Ibu, setengah mati dayung sepeda ke atas,” sapa mama tua di tepi jalan Maghiana.

Setengah mati adalah kata yang sering dikatakan orang-orang. Mereka menggambarkan kesusahan yang sebenarnya tidak susah-susah betul dengan ‘setengah mati’. Kesusahan tentu telah mereka rasakan lama, apalagi label tempat tertinggal sedang melekat pada daerah ini, masyarakatnya pun boleh dibilang tertinggal pula.

Kesusahan atas sarana publik, pelayanan publik, pendidikan dan sedabrek kekurangan daerah tertinggal. Di atas kesusahan itu, mereka lebih memilih menerima dan berserah. Etos kerja yang rendah, kesadaran magis(1), dan paradigma yang ciut akan kemajuan. Mungkin mereka telah lelah dengan kesusahan itu, mereka lalu hanya bisa berdiam dan bungkam.

Keberserahan dan kemalasan bekerja mereka kuat. Terlihat ketika para orang tua murid kelas IX yang diminta membayar uang lauk pauk asrama untuk anaknya 60 ribu sebulan saja, mereka masih mengeluh.

Lebih ironis lagi, ketika sekolah meminta swadaya wali murid sebesar 200 ribu rupiah. Uang itu jelas bukan untuk sekolah, melainkan untuk pekan olah raga dan seni kecamatan (Porcab) jelang Hari Pendidikan Nasional yang memang membutuhkan banyak biaya. Lagi-lagi mereka mengeluh, padahal dengan tenggang tiga bulan. Beberapa murid sampai bolos ujian, lantaran belum bisa membayarnya. Beberapa orang tua sampai harus menjual kayu mereka untuk mendapatkan uang 200 ribu itu.

Kesusahan mereka tidak membuat mereka bangkit dan melawan, justru diam. Mereka diam dengan pekerjaan yang hanya mengandalkan musim, padahal sebenarnya alam mereka menyediakan banyak yang dapat digarap. Alam mereka jauh lebih tersedia dari pulau-pulau berkemajuan. Alam mereka bisa memberikan kemakmuran yang lebih. Namun mereka hanya bisa berdiam.

Kediaman, keberserahan, keterimaan, acuh, malas, dan ketidaksadaran mereka, senyatanya bukan pilihan mereka. Merekalah yang dibuat diam, dibuat berserah, dibuat menerima, dibuat acuh, dibuat malas dan dibuat tidak sadar di atas sumber daya alam yang sangat melimpah.Mereka hanya tidak diajarkan cara mengolahnya, atau memang sengaja tidak diajarkan.

Padahal jelas, bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya adalah milik negara dan digunakan untuk kemakmuran rakyat. Sayangnya bumi, air, dan kekayaan alam yang ada di Flores ini belum jua menjadikan kemakmuran.

Seperti mereka yang tidak pernah diajarkan cara mengayuh sepeda, cara melawan tanjakan bukit dengan tenaga kuat dan napas terengah-engah, lalu ketika kembali akan merasakan enaknya. Mereka hanya mau berjalan pergi dan pulang, merasakan napas terengah-engah dengan waktu yang lama. Sebuah gambaran akan lamanya daerah ini merasakan enaknya kemajuan.

Sepeda itu terus melintasi naja demi naja. Tepat 53 menit, sepeda yang dikayuh Rahya itu terparkir di halaman sekolah. Sore itu, ketika matahari sedang cerah-cerahnya, murid kelas IX kembali menerima pelajaran.

“Selamat sore, Ibu,” sapa murid-murid.

“Selamat sore. Silakan duduk. Baiklah kita mulai les sorenya,” timpal Rahya.

Terlihat kurang dari 20 murid bersandal jepit duduk di kursi dan mengeluarkan bukunya.

Mereka kembali beradu dengan pelajaran. Kali ini membahas soal-soal ujian akhir semester yang berakhir dengan nilai re hingga la. Tidak salah mereka mendapatkan nilai itu. Mereka tidak mempunyai buku. Belajar mereka hanya ketika mereka menatap guru.

Di rumah, mereka tidak mempunyai teman untuk bertanya ketika menemui kesulitan. Akhirnya mental berserah mereka pun muncul lagi, meninggalkan pekerjaan rumah yang diberikan guru-guru, karena tidak mempunyai alat untuk mengerjakannya. Satu demi satu soal dibahas, hingga menjelang akhir soal dan petang pun mengalun datang.

“Baiklah, walaupun nilai kalian antara dua hingga enam. Ibu ada sesuatu untuk kalian.”

Sambil melongo dan memperhatikan sangat-sangat, murid-murid menatap Rahya untuk beberapa detik. Memanggil nama murid satu demi satu dan menyuruh murid maju untuk mengambil buku tulis.

“Ibu, buku ini untuk apa?” tanya Marselina Longga.

“Itu jurnal harian kalian. Kalian boleh mengisinya dengan apa pun yang kalian mau. Entah masa lalu, masa kini, masa depan, everything,” timpal Rahya.

Layaknya mereplika Miss G. dalam film Freedom Writer(2). Memang terlihat tidak kreatif, namun dengan tulisan-tulisan itu, berharap akan diketahui aktivitas mereka, kesulitan belajar mereka, masalah yang sedang mereka hadapi, mimpi, harapan, cita dan cinta mereka, serta pendidikan apa yang mereka ingini.

Mereka bebas menuliskan apa pun, bahkan perlawanan atas apa yang mereka rasakan, atau alasan mereka yang lebih sering berdiam dan menyerah. Sehingga tiada lagi bungkam.

“Bagaimana kalau kalian menulis surat untuk menteri pendidikan sekarang? Kepada Muhammad Nuh, coba kalian tuliskan pendidikan yang seperti apa yang kalian inginkan. Kalian boleh meletakkan jurnal itu di meja saya, selama kalian ingin,” ucap Rahya.

Benar-benar persis mereplika, mungkin itu yang dapat ia lakukan. Ya, hanya mereplika.

Pertemuan itu berakhir dengan satu misi, yakni menulis. Mereka tak perlu berdemo dengan keterbatasan dan kebelum-makmuran yang mereka rasakan. Mereka hanya perlu menarikan penanya, sebagai senjata mereka untuk mendapatkan hak, hak kemakmuran, hak pemerataan, hak penghidupan yang layak dan hak pendidikan yang bermutu. Selamat menulis murid-murid

Aimere, Januari 2012

(1) Dalam filsafat pendidikan, Paulo Freire menggolongkan tiga kesadaran. Satu, Kesadaran magis yakni kesadaran yang menganggap bahwa ketidakmajuan suatu daerah adalah sebuah takdir yang diturunkan Tuhan, sehingga orang-orang dengan kesadaran magis hanya dapat berserah dan menerima kehendak Tuhan tersebut. Kedua, Kesadaran Naif, di mana kesadaran yang menganggap ketidakmajuan itu sebagai suatu hasil dari pekerjaan manusia atau aspek manusia, dikarenakan manusia yang malas bekerja dan memang tidak mengupayakan untuk maju. Ketiga, kesadaran kritis, yakni kesadaran yang menganggap bahwa ketidakmajuan kerena faktor struktur dan sistem sosial, politik, ekonomi dan budaya sehingga berdampak pada keadaan masyarakat. Struktur dan sistem poleksosbud tersebut dijalankan oleh pemerintah.

(2) A Jersey film or double feature film production yang diproduksi oleh Paramount Picture Presents in Association with MTV film yang diangkat dari buku harian murid-murid ruang 203. Film itu mengkritisi tentang Rotney King, gangster yang membuat kerusuhan warna kulit putih dan hitam di LA, California