Daerah

Meugang

Meugang

Jalan Tengku Ben Mahmud, Lhok Keutapang senyap. Hari ini tak ada suara motor pemekak telinga lewat di jalan depan mess putri, yang bertetangga dengan kantor Palang Merah Indonesia untuk wilayah Aceh Selatan itu. Tidak juga ada angkutan umum yang kerap ngebut hingga saat ngerem menimbulkan bunyi berderit. Atau dentuman musik pendegup jantung dari mobil-mobil travel jurusan Meulaboh-Medan.

Hari ini masyarakat Aceh Selatan (karena aku lagi di sini) tengah melaksanakan tradisi meugang. Sejak kemarin, warung sebelah kantor tidak menyajikan sayuran beragam seperti biasanya. Tidak juga ada tempe atau tahu lauk kesukaanku. Bahkan kemarin ada kabar, The Young Man Roy Purba tidak mendapat makan siang untuk teman-teman tim komunitas.

“Nggak ada yang jualan,” kata bang Putra mengisahkan sulitnya Roy cari makan siang.

Sangat berbeda memang suasana hari ini dengan hari-hari biasa. Jalanan yang senyap, tidak ada satu pun anak sekolah dan para Pegawai Negeri Sipil yang bekerja. Jalanan lengang ini hanya dilewati segelintir orang. Para penghuni wilayah berbukit ini rasanya tengah bersembunyi di balik bukit menjulang. Pagi tadi, aku, mbak Nur dan Ida meminta tolong pada pak Rasidi saat menjemput kami untuk mampir ke warung yang biasa jualan sayur. Hasilnya, Ida hanya mendapat gambas, alias oyong.

Setiba di kantor, masih sepi seperti jalanan yang telah kami lewati. Ida mengajak ke Pasar Inpres yang sering disebut sebagai Pasar Pajak. Aku sendiri kurang tahu mengapa orang menyebut Pasar Pajak. Kalau menyebut ‘pasar’ saja, kita akan diantar ke komplek pertokoan di jalan Merdeka. Jika berjalan lurus –jalan satu arah, kita akan ketemu dengan pelabuhan yang terlihat dari Bukit Hatta.

Pasar Pajak sepi nyenyet. Kulihat, hanya satu orang penjual dengan satu pembeli pula. Dari kejauhan, nampaknya ia berjualan ikan. Ehmmm…. terjawab sudah mengapa di berbagai belahan warung-warung penjual sayur tak ada satu pun yang berjualan sayur segar! Pasar ilang kumandange!

Meski demikian, tidak semua orang berhenti bekerja. Selain kami, para polisi yang berkantor di Polres Aceh Selatan tampak mulai berseliweran di jalanan untuk bertugas. Seorang polisi yang mendahului aku dan Ida ngeloyor membawa map berisi berkas-berkas yang entah hendak dibawa ke mana.

Meugang hari ini tidak selamanya membawa hati sepi. Nena dan kak Marwiyah kemarin membawa lemang dan tape ketan. Manis tapenya. Lemangnya pun ada dua macam, satu macam dari ketan, satu lagi berbahan singkong. Enak.

”Jangan bilang nggak enak! Gratisan mau bilang nggak enak, lebih baik nggak makan,” candaku pada Indra.

Hari ini, entah siapa lagi yang membawa lemang. Aku ikut menikmati barang secuil lemang singkong.

Lalu, apa itu meugang?

”Hari ini banyak yang makan daging,” kata Indra.

Ya, hari ini masyarakat Aceh tengah melakukan tradisi meugang.

”Apa itu meugang, Ndra?” tanyaku pada Indra yang pernah jadi orang gunung alias kombatan ini.

Bagi masyarakat Aceh, tradisi meugang dilakukan untuk menghormati hari besar Islam. Setiap tahunnya, meugang tidak hanya dilakukan sekali. Selain untuk menyambut bulan Ramadhan, meugang juga dilakukan untuk menyambut Idul Fitri dan Idul Adha. Untuk keduanya, biasanya diadakan dua hari menjelang hari H.

Saat meugang seperti sekarang, masyarakat biasanya memakan daging sapi atau kerbau sebagai santapan utama pendamping nasi.

”Daging sapi bisa dimasak apa saja. Gulai, rendang,” ujar Bang Putra yang asli Trumon, Aceh Selatan.

Daging yang hendak dimasak bisa disembelih beramai-ramai bersama warga gampong (kampung) ataupun dibeli di pasar. Tetapi untuk di Tapaktuan ini saya kurang tahu darimana warga mendapatkan daging. Sebab, ketika tadi pagi aku bersama Ida ke pasar, tidak ada satupun pedagang menggelar dagangannya di Pasar Inpres ini. Bisa jadi daging didapatkan dari membeli di pasar pada dua hari lalu.

Padahal, kata Indra, gang sendiri berarti pasar. Lalu hubungannya dengan meugang apa?

”Ya, kalau saat meugang banyak orang pergi ke pasar. Lebih banyak dari hari-hari biasa,” kata seorang kawan.

Makanya sampai ada istilah makmu gang nyan (Makmur, pasar itu). Di hari meugang, masyarakat akan berbondong-bondong membeli daging.

”Ow, tidak heranlah jika disebutkan di koran, harga daging terus merangkak naik,” gumanku sendiri.

Namun, mengapa pasar satu-satunya di kota kabupaten ini malah sunyi senyap yah? Entahlah.

Berbagi

Bisa jadi benar ketika ada cerita, meugang adalah saat istimewa karena masyarakat bisa menikmati lauk yang berbeda dari hari-hari biasanya. Jika hari-hari biasa makan ikan, dua hari sebelum puasa, mereka bisa menikmati daging sapi, kerbau, atau kambing.

Aku ingat betul kata-kata Ida, kawanku yang berasal dari Meulaboh.

Kata dia, ”Kami ni kalau tak makan ikan rasanya ada yang kurang.”

Perkataannya diamini oleh Farida yang tinggal sekamar dengannya. Setiap hari katanya, mereka makan ikan.

Persis yang kukatakan pada mereka, ”Serasa hampa jika makan tanpa ada tempe.”

Tidak hanya itu, meugang menjadi istimewa karena orang-orang kembali diingatkan untuk berbagi, terlebih berbagi rezeki bagi kaum papa. Di beberapa wilayah, kudengar malah seperti Idul Adha, menyembelih, lalu membagi-bagikan daging pada kaum miskin. Ada yang dibagi-bagikan usai dimasak, juga dengan makan bersama. Meski demikian, di kota kecil ini aku tidak menemukan cerita itu.

21 Agustus 2009