Nasional

Muktamar Muhammadiyah ke-48, UMS, dan Djazman Al-Kindi

Muktamar Muhammadiyah ke-48, UMS, dan Djazman Al-Kindi

Muktamar Muhammadiyah ke-48 akan digelar di Solo, 1-5 Juli 2020. Rabu (31/7) lalu, panitia meluncurkan logo muktamar dalam soft opening di halaman Gedung Siti Walidah, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jalan Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, berharap, muktamar bisa terselenggara dengan baik, penuh kebersamaan dan semangat, untuk memajukan bangsa dan kehidupan di ranah semesta atau global.

Dipilihnya Solo sebagai tempat berlangsungnya muktamar, menurut Haedar, sebagai gambaran perpaduan antara budaya dengan kemajuan Muhammadiyah melalui UMS. Kini, UMS menempati peringkat 10 dunia bersama 166 perguruan tinggi Muhammadiyah lainnya. Budaya, sambungnya, menjadi tempat Muhammadiyah berpijak, agar nilai-nilai kebersamaan, gotong-royong, kemanusiaan, dan kepedulian tetap menjadi landasan kolektif sebagai bangsa.

Muhammadiyah dan UMS memang punya hubungan khusus, meski belum banyak ditulis atau diceritakan. Keeratan hubungan ini tampak kentara bila dipotret dari sudut pandang kiprah pendiri UMS, Djazman Al-Kindi. Pada 1979, ketika menjabat Rektor IKIP Muhammadiyah Surakarta, Djazman memprakarsai berdirinya UMS, dengan menggabungkan IKIP Muhammadiyah Surakarta dan Institut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM) Surakarta. Hasilnya, UMS resmi berdiri pada 1981.

Djazman kemudian membangun basis kaderisasi, pondok perkaderan Hajjah Nuriyah Shabran. Mahasiswanya berasal dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) seluruh Indonesia dengan seleksi khusus, seputar keislaman, kemuhammadiyahan, dan bahasa arab. Umumnya, dari kalangan kurang mampu.

Pada 1986, sosok pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ini juga berperan penting pada lahirnya Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (MPTPP) PP Muhammadiyah yang sebelumnya bernama Majelis Pendidikan dan Pengajaran (MPP). Djazman diamanahi sebagai ketua periode pertama, 1986-1990.

Mafhum adanya bila UMS, melalui pribadi Djazman Al-Kindi, sebenarnya berkontribusi penting pada kokohnya Muhammadiyah hingga sekarang. Djazman, Muhammadiyah, dan UMS adalah tiga hal yang manunggal.

Haedar Nashir, dalam karyanya berjudul Muhammadiyah Gerakan Pembaruan (2010), mengutip pendapat Djazman untuk mendeskripsikan sosok Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Bagi Djazman, kekhasan Kiai Dahlan terletak pada kearifannya untuk melihat agama pada aspek praktikalnya sampai ke detail, dan tidak ada interpretasi teoretis yang tidak siap untuk menjadi pedoman atau petunjuk bagi seseorang untuk beramal. Djazman menyebut Kiai Dahlan sebagai manusia amal (man of action).

Ahmad Syafii Maarif, menyampaikan kedekatannya dengan Djazman Al-Kindi dalam autobiografinya, Titik-titik Kisar di Perjalananku (2009). Syafii menulis, meski berseberangan dengan Djazman pada beberapa momentum penting perjalanan Muhammadiyah, persahabatan mereka tetap utuh, tak berubah, sampai Djazman wafat.

Monumen Kaderisasi

Dari sekian kiprahnya yang luar biasa, domain ‘kaderisasi’ sebenarnya menjadi ruh gerakan Djazman Al-Kindi. Untuk tetap bertahan dan peka zaman, Muhammadiyah harus terus-menerus membenahi kualitas perkaderannya. Programnya bisa bermacam-macam, tapi output-nya, kepemimpinan Muhammadiyah di setiap lini haruslah terus ada dan bertumbuh.

Realitas zaman yang semakin menggoda, lantaran Muhammadiyah memang memiliki koneksi kuat pada kekuasaan dan modal, harus dibersamai dengan konsistensi kaderisasinya. Kaderisasi yang bisa jadi melahirkan dinamika dan beberapa halnya, ‘perseteruan’. Namun semua itu untuk kebaikan bersama, Muhammadiyah yang berguna bagi bangsa dan semesta.

Djazman menata institusi pendidikan yang ia tangani, jengkal per jengkal. Seorang kawan pernah berkisah, semasa menjadi Rektor UMS, ia sering ber-kongkow ria bersama aktivis mahasiswa di Griya Mahasiswa. Kawan lain bercerita, Djazman sering kali ke sana ke mari hingga ke luar kota untuk urusan UMS dan Muhammadiyah, hanya dengan menaiki angkutan umum.

Sebuah inspirasi penting bagi saya, terutama. Seorang alumnus UMS penikmat kebaikan, buah karya Djazman. Saya hanya berkesempatan memandangi foto-foto bersahajanya di Perpustakaan UMS dan berdoa yang terbaik baginya.

Suatu ketika, saya sowan kepada Prof Ali Imron. Menurutnya, “Pak Djazman adalah sosok luar biasa. Tanpa beliau, UMS tidak akan pernah ada.”

Matur nuwun, Pak Djazman. Semoga UMS dan Muhammadiyah turut menjadi amal jariyahmu. Semoga kami dapat menjadi pengikutmu yang baik, dengan terus mengingat semangatmu, juga meniru langkah dan aksimu untuk kebaikan umat Islam, bangsa Indonesia, dan dunia.