Nasional

Navigasi Muhammadiyah dalam Revolusi Industri Keempat

Navigasi Muhammadiyah dalam Revolusi Industri Keempat

Revolusi industri terkini, membuat banyak komponen-komponen masyarakat mesti bergerak untuk menemukan feasibility. Muhammadiyah, sebagai organisasi besar yang sudah menginjak usia 109 tahun lamanya juga tak ketinggalan tuntutan adaptasi. Di tengah himpitan konvergensi dari banyak sektor, Muhammadiyah perlahan tapi pasti mencari polanya sendiri.

Peleburan fisik, digital dan biologi membawa tantangan baru ke hadapan publik. Segala sektor pubik terkena imbas dari kecenderungan baru ini. Pranata sosial seperti Muhammadiyah misalnya, membutuhkan dinamisasi formal dan informal agar struktur yang ada lebih lentur menghadapi tantangan zaman.

Namun dinamisasi formal lebih membutuhkan kekuatan organisasi secara institusional. Padahal sudah jamak diketahui institusi besar seperti Muhammadiyah menampung banyak anggota yang berasal dari beragam latar belakang. Visi besar yang dimiliki Muhammadiyah membutuhkan banyak instrumen-instrumen yang relevan dengan banyaknya latar belakang yang ada.

Terkini, revolusi industri keempat membawa banyak inovasi baru yang mesti dianyam oleh banyak sosok yang membawa nama besar Muhammadiyah di pelbagai sektor, terutama pendidikan. Persoalannya, revolusi industri terutama sekali membawa tantangan besar ihwal sumber daya manusia. Dan pendidikan, merupakan jalan bagi Muhammadiyah agar menyesuaikan lintasan kecenderungan baru di dunia sekarang ini.

Sumber Daya Manusia, (Tetap) Kuncinya

Membuat Sumber Daya Manusia (SDM) agar lebih sensitif dengan perkembangan termutakhir tidaklah semudah mengamini realitasnya. Proses pembibitan kecenderungan baru tersebut memerlukan beragam kontekstualisasi yang beriringan dengan kenyataan yang tersaji nyata di hadapan masyarakat. Maka, pendidikan bisa mewujud sarana terbaik untuk menerjemahkan persoalan tersebut.

Sekarang, revolusi industri menemukan karakteristik mobilitas sosial dari elemen masyarakat. Dalam sejarah revolusi industri, siapa yang dapat menyesuaikan diri dengan baik maka ia yang dapat bertahan hidup dalam tahap revolusi selanjutnya. Berdiam diri, dalam kasus ini, bukanlah opsi terbaik mengamini realitas. Tentu, adaptasi kunci dari semua itu.

Dalam narasi revolusi industri, relasi antara pekerjaan dan manusia seringkali disorot. Tak sedikit pula kritik-kritik berdatangan untuk merekonstruksi dialektika revolusi industri. Tujuanya, tak lain dan tak bukan agar tercipta formulasi baru. Dan alienasi antara pekerjaan dan manusia, setidaknya dapat diredusir dengan cara-cara yang lebih humanis.

Revolusi industri keempat selama ini, memang mengandaikan adanya kesesuaian antara industri dan sifat otomasi yang berlaku. Akomodasi modernitas, kompatibel dengan visi mobilitas dalam era revolusi industri seperti sekarang. Penyerapan aspek-aspek modernitas, lantas tergurat dalam relasi antara manusia dengan pekerjaannya. Seperti yang sudah-sudah, fenomena ini merebak dengan kemasan yang berbeda saja.

Dan juga, di revolusi industri keempat, proses sosial di banyak pertukaran nilai, sekarang lebih cair daripada sebelum-sebelumnya. Kemungkinan, dengan proses seperti itu, mobilitas sosial lebih sukar diprediksi arah perkembangannya. Maksud arah dalam proses ini ialah, otentisitas dari proses pertukaran nilai. Tiba-tiba saja, pesatnya perkembangan banyak hal di era ini, membuat sesuatu terlihat lebih paradoks.

Teknologi, merupakan salah satu corak terpenting untuk memahami hal yang menonjol dalam revolusi industri keempat. Di era seperti sekarang, teknologi membuat masyarakat lebih mudah, cepat dan efisien melakukan banyak hal. Selain itu platform-platform bisnis yang menyesuaikan kondisi seperti ini, banyak bermunculan. Mereka merebak, sebagaimana tren ini berkembang, secara cepat dan masif.

Namun terkadang, tren ini tidak hanya membutuhkan pragmatisme dan ekor-ekor baru. Yang dibutuhkan dalam situasi sekarang, adanya visi-visi sosial yang lebih meluas dan menyentuh persoalan baru yang muncul dari revolusi industri keempat. Revolusi industri keempat dan segala bentuk perkembangannya membutuhkan kontrol dari pelbagai elemen masyarakat, terutama pranata sosial, seperti Muhammadiyah.

Muhammadiyah memang tak terhindarkan dari fenomena ini. Sebagai sebuah institusi yang memiliki jutaan anggota, dan implikatif dalam kebijakan publik pemerintah, Muhammadiyah memang tak terelakkan dari pergeseran kebiasaan masyarakat. Selain kebutuhan penyesuaian diri, pusaran fenomena ini membawa Muhammadiyah beserta warganya ke problem baru.

Maka, tepat jika institusi pendidikan dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) sudah mulai menanamkan kesadaran ihwal pentingnya menavigasi perkembangan revolusi industri keempat. Pasalnya jika tidak diantisipasi dengan sifat kolaboratif, imbas-imbas dari pola baru ini, memunculkan beragam dilema dan paradoksi yang merepotkan.

Selain itu, institusi pendidikan Muhammadiyah bisa dijadikan titik tolak navigasi revolusi industri keempat beserta disrupsi yang mengekor di belakangnya. Fungsi pelayanan dari insitusi pendidikan Muhammadiyah sudah waktunya untuk diaktivasi secara optimal. Alhasil, segala turunan dari fenomena seperti yang sudah disebutkan tadi, bukan lagi sekadar wacana belaka. Pun hendaknya poros-poros kebijakan organisasi, setidaknya berakar dari implementasi pembacaan fenomena terkini.

Memang tidak bisa dipungkiri, dengan proses internalisasi di jalur pendidikan, setidaknya kesinambungan antara nilai-nilai modernitas dan karakteristik dari Muhammadiyah bisa selaras dengan nilai-nilai yang memang harus dipegang teguh hingga saat ini. Dengan begitu, revolusi industri tidak lagi menjadi suatu momok, namun malah mewujud momen pemersatu bagi Muhammadiyah dan warga-warganya menghadapi momen seperti ini.

Baiknya periode-periode menantang ini, tidak bisa jika hanya dilihat sebagai sumber permasalahan. Justru tanggung jawab sosial ini harus diinisiasi, dan distribusi peran warga Muhammadiyah dapat dialokasikan sesuai dengan kemampuan dan porsinya masing-masing. Bertolak dari proses-proses itu, setidaknya akan terwujud institusi yang adaptif, dan dapat membangun narasi positif ihwal masyarakat dan kemasyarakatan.