Ulasan

Orang Rimba dan Semangat Membumikan Aksara

Orang Rimba dan Semangat Membumikan Aksara

Adalah Ninuk Setya, seorang Pabelanis yang tak jengah keluar masuk belantara. Untuk dedikasi rigid bernama pendidikan merata. Ia lakoni semua ini sejak lama, dengan dinamika persoalan yang justru membuatnya semakin dewasa dan mengerti makna hidup. Kini, salah satu bukunya hadir di tengah-tengah pembaca Indonesia.

Berjudul Meretas Aksara di Belantara, buku ini berisi kumpulan fasilitasi pendidikan. Penulisnya, selain Ninuk juga para fasilitator pendidikan, baik yang masih aktif atau pun yang sudah resign dari Komunitas Konservasi Indonesia Warsi.

Seperti diketahui, Warsi menyebarkan pendidikan di kalangan Orang Rimba. Sementara Orang Rimba adalah komunitas asli Jambi yang hidup di hutan dataran rendah. Wilayah tradisional Orang Rimba mendiami kawasan pedalaman yang di antara hulu-hulu sungai anak Batang Hari, yang dahulunya terisolasi dan sulit dijangkau. Anak Sungai yang didiami Orang Rimba adalah Batang Limun, Batang Asai, Batang Tembesi, Batang Merangin, Batang Tabir, Batang Pelepat, dan Batang Bungo.

Dalam setiap tahunnya, ada 2-5 kader yang aktif mengajar. Selain memberikan pendidikan langsung, untuk Orang Rimba yang berada dekat dengan fasilitas pendidikan, maka Warsi juga menjembatani mereka untuk melanjutkan ke sekolah-sekolah formal. Baik berupa pendidikan kelas jauh, ataupun mengikutkan orang Rimba pada ujian persamaan setelah mengikuti pendidikan Paket A dan B.

Kehadiran buku ini memberi gambaran kepada publik, bagaimana pendidikan Orang Rimba digagas, dijalankan, dan diadvokasikan. Pekerjaan yang tidak mudah, mengingat kelompok masyarakat asli Jambi yang masih menganut paham berkebalikan dengan pemahaman umum.

Konon menurut legenda yang dipercaya Orang Rimba, pilihan hidup ini merupakan kesepakatan yang diambil oleh nenek moyang mereka dulu ketika terjadi persumpahan antara Bujang Malapangi yang merupakan moyang masyarakat desa dengan Dewa Tunggal yang merupakan moyang Orang Rimba.

Metode sederhana, mudah dipahami, tidak mengubah alam kehidupan Orang Rimba, disesuaikan dengan adat dan kemauan serta kesempatan yang dimiliki Orang Rimba, merupakan pilihan dalam fasilitasi pendidikan alternatif yang dikembangkan Warsi.

Baca, tulis, dan hitung, yang pertama dikenalkan.  Fasilitator pendidikan mengunjungi  kelompok-kelompok Orang Rimba,  kemudian merintis sebuah Genah Pelajoron, sejenis sekolah sederhana di belantara Jambi.