Fiksi

Organisasi Istri

Organisasi Istri

Dengan dalil pekerjaan suami, para istri diorganisasikan. Tujuannya satu, kemakmuran. Kidung mengalun, menyisakan satu keputusan, para istri perlu diorganisasikan guna memberikan sumbangsih yang nyata kepada publik.

Melihat larikan di surat kabar tersebut, pikiran Bulan Matesih, yang juga mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas kenamaan, menjadi sempoyongan. Pasalnya, Bulan selalu menggilai pernyataan yang berbau feminis. Surat kabar tersebut segera dirayuh dan dibawa lari ke dalam, setelah dilempar si loper koran dari balik pagar.

“Kek… Kek…. Coba lihat ini,” gesa Bulan ingin menemui kakeknya.

“Kek… Kakek di mana? Ini berita bagus, Kek,” ucapnya lagi, lebih keras.

Keluar dari beranda kamar, kakek yang sudah berjenggot putih dan berkaca mata besar. Lagaknya Kakek Kartono Sunardinan mulai mencium rasa haus keingintahuan cucunya tehadap apa yang ditemukan pagi ini.

Seretan sandal jepit Kakek Kartono terdengar mengulu hati. Perlahan, mendekati cucunya, Bulan. Sedari tadi tak berhenti melototi tulisan di media massa harian itu.

“Memangnya ada apa, Cucuku? Kali ini sepertinya kau lebih agresif dari tulisan-tulisan sebelumnya,” tanya Kakek, dengan nada agak menyindir.

Bulan memang selalu mengandalkan kakeknya yang dulu pernah jadi aktivis kampus. Kakeknya, ia anggap sebagai lautan yang berisi ikan dan ubur-ubur. Akan muncul ikan dan ubur-ubur dari bawah laut, jika Bulan mau memancingnya. Dan Bulan selalu memancingnya setiap hari.

“Ini, Kek. Coba lihat. Bacalah. Kali ini tentang pengorganisasian istri oleh suami. Suami berpikir, istri juga perlu diorganisasi, biar ada perkumpulan istri,” disodorkannya koran kepada sang kakek.

“Ceritakan saja, cucuku,” pinta Kakek.

“Makanya ini ada perkumpulan istri nelayan, perkumpulan istri pejabat, perkumpulan istri kantoran, perkumpulan istri tukang becak, dan anehnya lagi, ada perkumpulan istri pengemis,” sahut Bulan dengan semangat.

“Lalu?” suara Kakek datar.

“Hem. Wah, Kakek. Ini menarik, Kek. Menurut Kakek, bagaimana?” tanya Bulan ingin mendengar komentar kakeknya.

“Biarkan saja, diorganisasikan dan tidak sah-sah saja.”

“Lho, kok bisa gitu, Kek? Kok Bulan tidak puas dengan jawaban kakek?”

“Lalu Kakek harus jawab bagaimana, Cucuku?”

“Nah, Kakek balik tanya, Bulan tidak tahu-menahu.”

Untuk ke sekian kalinya Kakek Kartono menanggapi dengan tenang. Ia paham tabiat cucunya yang menggebu-gebu layaknya Soe Hok Gie sebagai aktivis pergerakan kampus yang lantang menyanyikan lagu-lagu Revolusi.

Ia paham, cucunya menggilai teori-teori feminis dan bahasan mengenai keperempuanan. Tak heran, jika Bulan sering mengkaji dan diskusi perempuan, tidak hanya identifikasi seks kromosom XX yang menempel pada kaum hawa ini, tapi kompleksitas masalah dan keterkaitannya.

“Cucuku yang pintar coba dengarkan,” ini kali, kakek Kartono mulai mengambil kail dalam pancing cucunya.

“Coba, bila tulisan itu diteruskan, jadinya akan semakin semerawut dan tak keruan. Lihat pula bacaan-bacaanmu sebelumnya. Mitos Kecantikan, Bias Gender, Gender Versus Kodrat. Ujung-ujungnya, pasti menuntut keadilan. Larinya pasti ke stereotipe,” jelas Kakek, yang sesekali sesenggukan.

“Semerawut bagaimana, Kek? Coba lebih jelas lagi,” lagi-lagi kailnya digoyang-goyang.

“Istri yang diorganisasi bukankah akan punya agenda banyak?”

“Benar, di sini disebutkan. Terus, Kek?”

“Nah, rapatnya diawali sebulan sekali, karena agendanya makin banyak. Bisa jadi sebulan dua kali, terus seminggu sekali, hingga sehari sekali.”

“Kakek pernah baca, ya? Kok tahu, ini dia statement itu di paragraf ke lima,” sela Bulan heran

“Itukan lagu lama, Cucuku.”

“Hem,” gumam Bulan tak mengerti.

“Begini Cucuku. Agenda perkumpulan istri awalnya untuk memberi ‘pekerjaan’ kepada si istri, namun semakin lama semakin jadi pekerjaan yang tak kunjung habis. Bisa-bisa suami tidak diperhatikan karena sibuk rapat.”

“Aku masih tak mengerti, Kek.”

“Rekamanmu tentang feminis mana? Sepertinya hanya dibaca sekali lalu hilang bak kilatan cahaya setelah hujan dan hilang setelah terdengar.”

“Tak separah itu, Kek.”

“Sekarang ini kan kepentingan perempuan untuk akses publik sudah terbuka tanpa pintu, kok masih-masihnya ikut perkumpulan istri, bahkan di tulisan itu kan suami yang guru juga petani, yang tukang becak juga nelayan, bisa-bisa jadi perkumpulan istri tukang becak sekaligus nelayan.”

“Bagus dong, Kek, ngerangkep jabatan,” sambil tertawa Bulan menunjukan wajah bercanda.

“Heh, serius ini. Kan si istri harus men-setup jadwal, biar perkumpulan istri tukang becak dan istri nelayan tidak tabrakan. Nah, lho. Makin rumit kan>”

Kepala Bulan seakan banyak bintang dan rembulan, pusing tidak keruan ia meresapi kata-kata kakeknya.

Cerita tentang perempuan diorganisasi semakin membuatnya kalang kabut. Namun, sedikit demi sedikit ia dapat memancing ikan, walau ikan teri kecil.

Kakek Kartono juga mulai melihat cucunya nyinyir. Didekati cucunya dan mencoba menggapai surat kabar yang dari tadi digenggam Bulan. Menenangkan pikiran cucunya yang tersapu kabut.

“Tidak perlu surau, terkadang memberi ruang tak selalu menyegarkan otak yang kekurangan oksigen,” simpul kakek dalam bahasan ini.

 

Sejenak terdiam, pintu berderak. Sebuah sapaan salam datang dari seorang gadis semampai. Tak dinyana, Maretta Nurdiana, teman sekampus Bulan.

Maretta seorang gadis cantik, bisa disebut ‘kembang desa’. Batik hujaunya menampilkan keanggunan.

“Hei. Masuk… masuk, Ta,” sambut Bulan sambil tersenyum.

“Mari masuk. Kek, kenalin, ini Maretta,” Bulan mencoba mengenalkan.

Kakek memandangi teman cucunya, kemudian tersenyum. Pikirannya tertuju pada bahasan sebelumnya tentang pengorganisasian perempuan. Kali ini Kakek punya topik yang akan ia singgung dengan teman cucunya itu.

“Ya, ini Kakek Kartono, kakeknya Bulan. Nah, ini, Ta. Kita tadi sedang bicarakan istri dan perempuan. Mau nimbrung?” harap kakek.

“Menarik, Kek. Aku pun masih bertanya-tanya, kenapa perempuan sering dijadikan bahasan. Kan jarang-jarang tuh laki-laki dibahas,” tanggap Maretta.

“Nah, itu dia. Kaum kalian memang menarik, khas, dan unik. Lihat saja perempuan, semakin dikupas semakin aneh saja kebiasaannya.”

“Hem… Kakek, menyinggung kami, begitu?” sergah Bulan.

“Tentunya tidak, tapi realitasnya yang terjadi begitu, dan tentunya tidak semuanya menjadi kesalahan,” ujar kakek.

Kakek menjelaskan fenomena perempuan kekinian. Perempuan yang dengan senangnya menjadi obyek iklan, mempertontonkan kenampakan yang mereka miliki, tanpa sekat budaya moral. Organisasi yang dilakukan terhadap istri tersebut hinggap pula kepada perempuan yang mengalami kehilangan kesadaran, di mana kesadaran tertutup dengan tawaran popularitas dan kenyamanan diri yang seolah indah.

“Kek, perempuan kan perlu cantik juga, so perlu dandan dan merawat tubuhnya,” ungkap Bulan mencoba menguji teori kakeknya.

“Benar, tapi harus tahu dulu, cantik untuk apa? Bukankah cantik dan tidak, sama saja?”

“Kenapa bisa sama, Kek? Jelas beda. Ketertarikannya juga akan beda,” Maretta tak mau kalah.

“Hem… itu kan konstruksi sosial, Ta. Bukankah substansi manusia bukan pada casing atau identitas putih-hitam, cantik dan tidak?”

“Terus, Kek!” Bulan penasaran.

“Ya, begitu. Citra dan pengakuan memang boleh, hanya bukan pada hal yang pokok. Kakek boleh bilang bahwa perempuan berkulit hitam pun akan tetap cantik, karena cantik sudah melekat kuat di semua perempuan,” jelas Kakek panjang lebar.

“Nah, kalau masalah kesukaan?” Bulan kembali bertanya.

“Lagi-lagi kita digerakkan untuk mengamini bahwa cantik itu putih, berambut panjang, dan langsing, kan? Siapa bilang itu?” nada Kakek meninggi.

“Dikotomis, ya, Kek? Hem… tanpa sadar aku pun berpendapat gitu, Kek. Makanya banyak perempuan, termasuk aku, berlomba-lomba menjadi cantik,” Maretta kali ini merefleksi.

“Hem, iya juga ya. Aku jadi ingat kenapa kakek tak suka aku pergi ke salon,” Bulan mengingat-ingat.

“Bulan… Bulan, bolehlah kamu ke Salon atau mempercantik, tapi harus paham, cantikmu untuk apa; pengakuan atau nilai, kah. Kita perlu paham ke mana kita digerakkan oleh dunia ini,” ucap kakek dengan berdehem.

Mereka merenung sejenak, mengartikulasikan apa-apa yang mereka bicarakan. Mengenal apa yang mereka temui yang tak jauh-jauh di depan mata. Sebuah fenomena ketidaksadaran yang tersistem. Penggerakan pada wilayah kepentingan segolongan. Perempuan tanpa kesadaran.