Pengembangan Diri

Pandangan Pendakian Kekinian

Pandangan Pendakian Kekinian

Saban hari, ketika menengok lini masa media sosial yang beragam postingan, foto narsistik di pucuk gunung, tampak cukup popular. Meski dengan beragam latar, namun mereka umumnya tetap dengan satu gaya. Dengan berbekal sebaris pesan di sebuah kertas putih yang diperuntukkan bagi pacar, sanak keluarga, orang tua, maupun sobat satu perjuangan, pose ini adalah pose favorit di puncak gunung, dan mungkin lebih diminati daripada gaya menopang dagu ala Soe Hok Gie di pelataran Mandalawangi.

Di bawah foto itu, tak jarang mereka tambahkan keterangan, telah menaklukan puncak tertinggi. Dengan sekaligus menyebut angka ketinggian gunung, mereka bubuhi kata-kata bijak, yang pada intinya berisi pesan untuk mencintai alam, mapun puisi tentang pengalaman mengenai pendakian.

Pose manis di puncak gunung, dibuktikan oleh pendaki Jogja yang menjajal pucuk Merapi. Nahas, dia terjun bebas dan mencium kawah. Maut tak dapat ditolak, pendakian ditutup, dan puncak dilarang untuk dijamah. Namun, seorang kawan sekembali dari merapi, pamer foto telah menjejak di puncak, di petilasan pendaki Jogja terpelanting jatuh ke dalam kawah. Duuh, ancen ngeyel tenan.

Seterusnya, imbauan larangan tak lagi manjur. Kematian pendakian Jogja, dikomentari dengan satu kata, apes. Setelah itu, foto di puncak merapi, termasuk menjadi favorit para pendaki. Seakan ada semacam kebanggaan, kaki mereka ada di tempat yang menebar ancaman maut, di tempat dinamit raksasa, yang bisa meledak kapanpun. Lalu, terbubuh keterangan ; ”telah menaklukan puncak Merapi.”

Namun, agak risih rupanya, ketika diksi ’Menaklukan’ puncak gunung tertinggi amat populer. Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia, menaklukkan berarti menundukkan; mengalahkan ; musuh ; nafsu. Istilah menaklukkan puncak tertinggi, menempatkan si pewarta foto lebih perkasa dari puncak gunung. Bahwa kini, gunung yang menjulang jangkung itu, tak lebih kuat dari manusia yang tidak lebih tinggi dari empat kaki.

Jalan menuju puncak memang tidak gampang, berangkat dari kaki gunung saja sudah terserbu hawa dingin. Belum lagi puluhantanjakan yang harus dilewati, bahkan ancaman binatang buas tidak bisa disepelekan. Terlebih, badai adalah mimpi buruk para pendaki. Berdiri di puncak gunung, haruslah mereka yang kuat secara fisik dan mental. Mungkin hanya secuil alasan ini, mereka pantas membubuhi kata-kata ’Menaklukan’ puncak tertinggi.

Label menundukan ini, seakan melegitimasi manusia untuk terus menyakiti gunung dan segenap panoramanya. Dimulai dari usaha menumpuk sampah, menebangi pohon untuk membuat api unggun, mencorat-coret dengan tujuan uluk salam, maupun berburu satwa. Alam bukan lagi partner, tapi lebih sebagai objek mati yang harus tunduk kepada kemauan (nafsu) manusia.

Bahwa kini, manusia yang tidak setinggi empat kaki. Mendaki menundukkan alam. Dengan teknologi mutakhir, segenap ekosistem mulai terpinggirkan, takluk oleh nafsu serakah. Angka-angka tentang kerusakan alam, laporan kekejian perebutan lahanadat, keterlibatan pasukan elit, sampai tatapan kosong para papa yang direbut tanahnya, hanya tampil sekilas di media massa, kalah penting dari berita-berita bombastis yang lebih mengutamakan sensasionalitas.

Memahami Alam

Hubungan alam semesta dan manusia seperti halnya dua saudara kandung. Alam sebagai yang tercipta lebih dahulu, ketimbang manusia dan Adam. Keduanya memiliki hubungan timbal-balik sebagai penghargaan dan penghormatan. Penghargaan alam terhadap kemanusiaan adalah cara menyediakan segala kelapangan dan fasilitas untuk kemajuan.

Penghargaan alam terhadap manusia berbentuk pengajaran, baik pengajaran untuk mengasah pengalaman batinnya maupun lahirnya yang pada gilirannya menghasilkan ilmu-ilmu baru baik di bidang estetika, etika, maupun kesimpulan saintifik. Karena itu wajar adanya kata alam secara semantik berasal dari bahasa Arab ’alam (jamak :’alamin) yang menandai ilmu. Penghargaan manusia terhadap alam adalah adalah memperlakukan alam secara terhormat, dengan cara-cara penggunaan yang bijak.

Lewat Gunung, Musa diperlihatkan kekuasaan-Nya. Ketika sebuah gunung meleleh akibat terkena Nur dari Allah yang Mahakuasa, seketika Musa pingsan, dia tak sanggup membayangkan apabila ia langsung berhadapan dengan Allah. Gunung tinggi besar saja bisa dalam sekejap bisa remuk redam tak bersisa, terlebih tubuh Musa A.S yang tiada besar itu.

Muhammad bin Abdullah, manusia mulia dari Bani Hasyim seringkali menyepi di gua Hira, sebuah gua di Jabal Nur, yang terletak sekitar 7 km dari Masjidil Haram. Suami Khadijah ini mendaki gunung, mencari kesunyian, menundukkan diri, bertafakur, menangis tersedu, merenungi umatnya yang keras hati menentang beliau.

Seharusnya, kisah kedua rasul tersebut cukup menghindarkan kita dari sikap narsistik dan menghinakan alam. Pendaki yang baik bukan mereka yang hafal nama seribu gunung, dan memiliki segenap peralatan komplit. Pendaki yang baik justru mereka yang mengenal diri sendiri, dan mereka yang memahami relasinya dengan alam.

Musa A.S telah memahami dirinya tidaklah lebih besar dari gunung. Kita pun harus mengakui hal demikian, kta hanyalah partikel kecil dari semesta yang berjuta kali lipat dari bumi. Tidaklah pantas kita berlaku sombong dan angkuh terhadap alam.

Terlebih tugas mulia kita adalah bertindak sebagai khalifah, mengelola dan menjaga bumi, bukan berlaku dzalim merusaknya. Seperti yang dikhawatirkan para malaikat yang selalu mensucikan nama-Nya. Kedatangan kita di puncak gunung, harus dipahami sebagai rasa kecintaan dan komitmen kita melaksanakan perintah-Nya.

Dimulai dari membunuh naluri narsistik dalam diri, memahami diri sebagai hamba yang lemah, murid yang patuh terhadap alam, kemudian menjaga alam dari tangan-tangan jahil. Menjadi luar biasa ketika mencontoh yang dilakukan Rasulullah, yang memanfaatkan kesunyian gunung untuk bertafakur dan mendekatkan diri kepada-Nya.