Pengembangan Diri

Psikotes, Pentingnya Memilih SDM yang Tepat

Psikotes, Pentingnya Memilih SDM yang Tepat

Bagi masyarakat awam, psikotes tak banyak diketahui. Namun, tidak begitu dengan dunia kerja. Psikotes merupakan istilah yang sering terdengar. Walau sebenarnya kegunaannya sangat beragam, terutama untuk klinis yang berada di rumah sakit, berkenaan dengan masalah psikiatri dan kejiwaan.

Di Era ini, muncul trend tes psikologi untuk seleksi masuk sekolah, terutama masuk TK atau SD. Kita mungkin bergumam, bagaimana mungkin anak-anak mampu mengerjakan tes sedemikian, padahal mereka masih anak-anak yang belum memahami huruf dan angka.

Psikotes tak sama dengan model tes pada umumnya. Tes ini disusun oleh pakar psikologi, mempertimbangkan usia, budaya dan tujuan. Tes ini mengungkap alam bawah sadar atau sesuatu yang tidak tampak pada seseorang atau motif seseorang melakukan sesuatu. Karenanya, cara menyajikan dan mengoreksi tes ini menggunakan petunjuk khusus.  Untuk menginterpretasikan hasil tes psikologi pun, oleh psikolog memiliki profesi dan surat ijin praktek serta dilindungi hukum. Sehingga, bila ada yang menginterpretasi tidak memiliki ke dua hal itu, melanggar hukum.

Tes psikologi berorientasi terhadap usia. Seperti saya sebut tadi, untuk usia anak-anak, tes disajikan adalah stimulus atau soal-soal yang sangat “anak banget”. Misalnya, menyajikan gambar-gambar lucu. Tes intelegensipun demikian, susunan soalnya menggunakan gambar-gambar.  Dalam mengoreksi tes psikologi, tidak seperti 5+3=8, selesai. Tapi, angka 8 itu masih dicocokkan dengan skor, angka skor kemudian dicari normanya. Setelah itu, ditemukan nilai kuantitatifnya. Bahkan, seorang psikolog bisa mengkualitatifkan angka-angka tersebut menjadi sebuah rangkaian kalimat menjadi sebab akibat.

Ciri khas psikotes

Dewasa ini, tes psikologi sering kita temui perintah menggambar. Gambar orang, pohon, atau keduanya plus rumah, atau menggambar di dalam 8 kotak.  Tes itu hanya sedikit contoh bentuk tes proyektif atau tes kepribadian. Kenapa banyak digunakan? Karena bebas budaya, praktis, cepat, murah dan banyak kepribadian yang mampu diungkap. Tes proyeksi ini dibangun untuk mengungkap alam bawah sadar, sehingga hasil akhir bukan orang yang keren, atau pohon yang bagus. Sehingga, tes ini sangat sulit untuk direkayasa bahkan dengan latihan. Cara menginterpretasi juga agak rumit, karena setiap detail gambar harus dilihat, setiap coretan memiliki interpretasi masing-masing. Namun untuk seorang psikolog yang berpengalaman biasanya, sekilas saja bisa diinterpretasikan.

Tes psikologi adalah sebuah rangkaian utuh. Tidak bisa berdiri sendiri. Bila ingin mengungkap kejujuran, saya akan menggunakan dua atau bisa lebih alat tes psikologi. Logikanya, dalam kejujuran selalu ada konsistensi, ada tanggung jawab, ada kematangan, ada keterbukaan. Nah, dari situ data akan saling mendukung. Karena saat terungkap kejujuran, semuanya saling mendukung. Misalkan, kejujuran hanya terungkap pada satu alat tes maka tidak bisa disimpulkan sebagai jujur. atau akan saya kuantitatifkan nilai kejujuran 5, tidak 8 atau 9.

Dengan cara seperti ini, pengerjaan tes psikologi sulit direkayasa. Dengan cara ini, saya “tidak akan  salah tangkap orang.” Sehingga tak jarang pengerjaan tes psikologi bisa seharian. Semakin tinggi jabatan yang diminta, biasanya waktunya pun berlangsung lebih lama. Karena aspek yang diminta pun juga lebih beragam.

Namun, tak jarang kita jumpai tes yang sangat singkat. Misalnya, satu atau dua jam dengan soal tidak terlalu banyak. Banyak psikolog yang terpaksa harus memodifikasi alat tes karena keterbatasan waktu dan biaya. Kelemahan tindakan ini, akan sedikit juga aspek psikologi  yang terungkap. Atau mungkin juga permintaan user hanya menginginkan aspek-aspek tertentu, tanpa ingin tahu banyak aspek psikologi lainnya.

Evaluasi pendek

Saya pernah melihat tes seleksi Pegawai Negeri sering menggunakan tes logika, tes ketelitiandan tes kepribadian. Meskipun cuma 20 persennya saja. Aspek psikologi yang tertangkap sangat sedikit.

Ada beberapa pemerintah daerah menggunakan tes psikologi lebih lengkap. Saya sedikit memiliki harapan baru. Bahwa, SDM yang diterima tentu akan lebih qualified dan berkepribadian baik. Tentunya, tidak disertai suap menyuap penerimaan pegawai.

Andaikan soal-soal matematika diganti dengan tes intelegensi, Yang berbau kebangsaan (PPKN) diganti dengan tes kepribadian yang komprehensif. Tes bahasa Indonesia diganti dengan mengarang atau menulis. Maka SDM yang diperoleh pemerintah tak sekedar manusia “penghafal” undang-undang, melainkan SDM pelaksana hukum dan norma yang konsisten. Kadang kita tidak bisa melihat hal yang tidak kasat mata. Di mana, di tempat itu kita bisa melihat potensi dan memetakannya. Maka ikan besar yang akan kita dapat, bukan teri yang hanya membelokkan uang rakyat untuk kepentingan pribadinya.

Banyak SDM profesional dan jujur di negeri ini. Namun, pemerintah tidak bisa mangajak masuk ke dalam lingkaran organisasinya. Hal ini dikarenakan proses rekruitmen dan sistem pengaderan yang kurang memperhatikan ilmu manajeman SDM. Bila boleh disebut, kuper soal pengembangan SDM, social media, dan wawasan ‘dagang’.

Pincangnya dunia industri dan organisasi pemerintah, membuat saya sering merenung. Andai pola pikir pejabat tinggi pemerintah ini seperti CEO-CEO maka tidak akan ada kerugian di Indonesia tercinta ini. Kalau orang industri jualan barang (manufakture) kalau pemerintah jualan jasa. Dan semunya berujung  profit, kan?

Bayangkan jika pemerintah daerah mampu menaikkan pendapatan daerah, berapa tunjangan operasional yang didapat kepala daerah. Berapa rakyat yang bisa dimakmurkan. Namun, banyak dilakukan oleh kepala daerah justru menjual kekayaan alamnya, dengan harapan dapat fee karena meloloskan menjual aset daerah. Coba dikelola dan dikembangkan sendiri, tentu yang mengelola adalah yang qualified.

Maka, the right man on the right place, dimulai dari perekrutan yang benar.  Kemudian ditunjang hadist  jika suatu urusan tidak diserahkan pada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. Maka, diikuti dengan pengembangan SDM yang tepat sasaran. Kepemimpinan diserahkan pada orang yang memiliki kapasitas menjadi pimpinan, kemampuannya harus di atas rata-rata dan berpengalaman.

Seorang ahli hanya butuh dua hal, kepercayaan dan wewenang. Pimpinan adalah model dan teladan maka ia dibutuhkan saat orang butuh nasihat dan mengalami masalah yang tak bisa dipecahkan. Dengan pengalaman serta kecerdasan di atas  rata-rata, organisasi akan berjalan mulus.

Jadi, tes psikologi tak hanya sebuah syarat. Ia mutlak, karena dunia kerja tak hanya skill atau keahlian. Apalagi, kedua hal itu bisa dipelajari. Dunia kerja tidak berisi hafalan undang-undang atau butir-butir pancasila, bahkan nama-nama menteri. Tapi harus diisi oleh orang yang mampu konsisten melaksanakan nilai-nilai pancasila atau kebaikan budi pekerti.

Jika budi pekerti atau akhlak bisa dilihat kasat mata tentu akan berbeda rekrutmennya. Namun, kejujuran, tanggung jawab, ketangguhan kerja, kematangan/kedewasaan, dan sebagainya. Tidak bisa dilihat kasat mata. Maka salah satu caranya, melaksanakan tes psikologi .

Tidak usah jauh ke Negara Barat, banyak industri di Indonesia yang melesat tajam dan mengeruk keuntungan sangat fantastis jika diketahui ternyata pengelolaan SDM-nya sangat profesional. Perekrutan adalah salah satu contohnya. Hal kecil dalam ingar-bingar industri, namun tidak pernah dianggap kecil.

Comments

Comments are closed.