Buku

Refleksi Kritis Pemikiran Pendidikan Mohammad Djazman

Refleksi Kritis Pemikiran Pendidikan Mohammad Djazman

Selalu ada sosok di belakang transformasi sejarah. Konsekuensinya, legasi dari sosok tersebut, akan berakar pada sebuah pranata yang dibangun. Pada konteks dan relasi waktu, warisan nilai-nilai yang ditanam akan berbuah pada momen tertentu. Alhasil, tatkala waktu bergulir menerjang problematika baru, di situ warisan sejarah biasanya mencapai titik keterhubungan.

Dalam konteks pembaharuan pendidikan Muhammadiyah, sosok yang berlayar di tengah arus sejarah itu adalah Mohammad Djazman Al-Kindi. Kemuhammadiyahannya, telah berurat akar dari garis keturunannya, lantaran Ia cicit dari K.H Ahmad Dahlan. Selain itu Ia juga sosok yang membentangkan banyak ide dan praktik pembaharuan di persyarikatan melalui jalur pendidikan. Dedikasinya bagi persyarikatan jika mau dihitung-hitung tidak akan ada habisnya.

Meskipun tak bisa dipungkiri bahwa Mohammad Djazman memiliki otentisitas kecendekiawanan, justru karya tulisnya tak banyak yang dibukukan. Malah Ia lebih sering mengejawantahkan nilai-nilai pendidikan yang ideal bagi persyarikatan ke dalam praktik pendidikan di lingkungan sekitarnya. Di ranah tersebut ada dua lembaga yang dibidani oleh beliau, di antaranya IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) dan UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta).

Di jenjang struktural Ia juga banyak mencetuskan terobosan-terobosan yang berdampak besar bagi kemajuan pendidikan Muhammadiyah. Salah satu buah idenya, yakni ikut mencetuskan Diktilitbang (Pendidikan tinggi, penelitian dan pengembangan), yang akhirnya hingga sekarang, menjadi pilar penting bagi Muhammadiyah guna mengarungi lapis demi lapis tantangan persyarikatan.

Dari jejak langkah yang ditapaki oleh Mohammad Djazman, kita dapat mengunci pusat perhatiannya pada satu bidang, yaitu pendidikan. Lalu, kalau goresan tangannya sudah dapat dibuktikan lewat banyak institusionalisasi ide dan perwujudan fisik kelembagaan, maka buah pemikiran pendidikannya bisa kita jumput dari buku kumpulan tulisannya yang berjudul, Ilmu Amaliah Amal Ilmiah.

Memang, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Mohammad Djazman jarang menerbitkan buku yang memuat banyak pemikirannya. Buku terakhirnya yang diterbitkan oleh UMS Press lebih banyak membahas persoalan pendidikan dan juga masalah kaderisasi Muhammadiyah. Namun buku itu belum menggambarkan pemikiran Mohammad Djazman secara komprehensif, karena dicetak sesuai kebutuhan di masa itu belaka.

Maka, keberangkatan penerbitan buku ini terbilang tepat. Banyaknya pembahasan yang diambil dari beragam studi kasus, setidaknya membuat refleksi kritis lebih bersifat plural. Sehingga, jika refleksi diupayakan menjadi sebuah titik tolak lembaga, ekspektasi pergerakan berdampak seperti istilah dari Muhammad Natsir, ibarat generator yang mengaliri listrik dimanapun Ia dibutuhkan.

Pemikiran Pendidikan Mohammad Djazman

Hulu pemikiran Mohammad Djazman memang agak sukar dikategorisasikan. Namun perhatiannya lebih terasa di bidang pendidikan. Referensinya tidak tunggal dan beragam. Malah, yang nampak, referensinya cenderung bersifat heterogen. Namun, cakupan pemikiran yang luas, bukan berarti membuat Mohammad Djazman kehilangan otentisitas pemikirannya. Kalau ditimbang-timbang, keberagaman referensinya menjadi bagian dari otentistas yang dimaksudkan.

Keberagaman referensi pendidikan Mohammad Djazman dapat diartikan sebagai sebuah penerimaan eksistensi yang lain. Objektivitasnya tidak terpaku pada keberadaan sesaat. Pemikirannya menjangkau sisi historis beserta fenomenanya. Bingkai pemikiran seperti ini, mengartikan sebuah sikap dan sifat yang plural, walaupun memang disertai dengan prinsip yang kokoh. Tak heran jika di lain hari, Ia mendapat banyak penerimaan dari pelbagai kalangan karena konsistensi sikapnya itu.

Di buku ini, Mohammad Djazman menerangkan banyak hal dengan banyak referensi. Pendekatannya dalam melihat permasalahan tidak terpaku oleh satu disiplin ilmu. Latar belakang akademisnya sebagai seorang sarjana geografi tidak lantas membuatnya berhenti menggumuli persoalan yang lebih kompleks. Bahkan dalam buku ini, ia sampai membahas persoalan ideologi beserta problematika dan implikasinya.

Selain itu, perihal pemikiran pendidikan formal, Mohammad Djazman pernah menuliskan kesetujuannya dengan pendapat pemikir Islam dari tanah anak benua, Muhammad Iqbal. Dalam tulisan yang berjudul Kampus dan Pengembangan UMS, Ia setuju dengan pernyataan Iqbal yang menggambarkan kurikulum bekas kolonial mesti dihapuskan. Persoalannya, kurikulum pendidikan warisan kultur penjajahan hanya menanamkan inferioritas bagi peserta didik.

Karenanya, sebagaimana Iqbal, bahwa sisi keberdayaan dan juga perjuangan umat Islam tidak bisa dilepaskan. Hendaknya, menurut Mohammad Djazman, sisi itulah yang semestinya ditampilkan dalam wajah pendidikan yang inklusif. Upaya seperti ini, dilakukan, agar peserta didik dapat menerima materi disertai olah rasa yang dimiliki tiap-tiap individu. Dari hal itu, akan tumbuh bibit kritisisme yang peka dengan kondisi sekitarnya.

Semakin menarik, ketika Mohammad Djazman dalam buku Ilmu Amaliah Amal Ilmiah mengungkapkan pendapatnya mengenai visi kesarjanaan mahasiswa Indonesia. Baginya, mahasiswa baru benar-benar menjadi seorang sarjana ketika semua hasil pembelajarannya dapat diamalkan dalam masyarakat. Mohammad Djazman beranggapan, lembaga pendidikan, baik yang formal maupun informal mesti dapat menyelenggarakan pendidikan dari asas kebutuhan seperti yang telah disebutkan tadi.

Lalu, Mohammad Djazman juga menuliskan bahwa mahasiswa tidak bisa jika hanya bergulat bersama tumpukan diktat yang saban hari kian tipis. Mahasiswa Indonesia, menurutnya, ”harus kembali kepada pola aktivitasnya sebagai manusia akademisi Indonesia yang benar-benar menjadikan kampus dan masyarakat sebagai tempat meningkatkan ilmu dan melatih diri, dan tidak menjadikannya sebagai arena perjuangan politik di masa masa yang lampau,” tulisnya.

Dari bentangan horizon pemikirannya, karakter pemikiran Mohammad Djazman dapat digarisbawahi pada upayanya menjadikan ilmu sebagai sesuatu yang bersifat emansipatoris. Keseimbangan produktivitasnya di pelbagai lini persyarikatan, membuat dia tak sekedar mengemban peran sebagai manajer sebuah kampus, tetapi, seperti istilah yang disampaikan Busyro Muqoddas dalam pujiannya, yakni sebagai manajer pemikiran. Atau yang lebih mengena lagi, manajer pemikiran pendidikan Muhammadiyah.