Fiksi

Satu Cita

Satu Cita

Kedua kalinya Rahya terbangun dan kedua kali tersadarkan. Rasanya belum sadar-sadar betul, tanpa dinyana-nyana. Bahkan Pulau Flores tidak ada dalam benak, mimpi, tulisan, dan keinginan di masa lalunya.

Terdampar di Pulau ini, di tempat ini, setahun, akan menjadi catatan sejarah. Berharap bangunnya kali ini bukanlah sebuah tulisan, bukanlah hanya sebuah impian, bunga tidur atau angan-angan yang hanya ada dalam otak.

“Semoga ini kenyataan,” harapnya.

“Ini memang kenyataan. Kenyataan yang sebenarnya aku di sini,” doanya lagi.

Tapi ada rasa ketakutan, ketika ia terbangun dan kembali kepada kehidupan awal, Jawa. Ketakutan yang hanyalah tulisan-tulisan dan akan ia baca beberapa waktu yang akan datang.

“Ini kenyataan,” katanya lagi sambil berdiri.

Pagi itu, masih melewati deburan ombak yang membawa sang mentari mengalun naik, dari gunung Inerie(1), sinarnya memancar. Pukul 07.00 WITA(2) sudah terasa panas. Bergairah kali ini ia kan menemui kelas. Berharap pengalaman pertamanya memberikan tapak yang tak mudah terlupa.

“Di sini harus keras, Ibu. Kalau tidak anak-anak akan seenaknya sendiri. Anak-anak di sini agak susah, kemampuan menangkapnya rendah, otak-otak lambat. Saya beritahu saja ibu,” kata Pak Alberth sambil melaju melewati anak-anak kecil rodu(3) dengan ingus di lubang hidung dan pakaian yang lusuh.

Kemarau panjang membuat desa ini, miskin air. Pantas bila guru-guru mengeluh mencium bau tidak sedap ketika mengajar, karena ada murid yang tidak mandi. Bebebapa rumah adat dan rumah permanen beratapkan seng berdiri, makam dengan nisan keramik mematung di samping kanan dan kiri rumah(4). Kandang-kandang babi dengan atap daun ilalang dan lontar juga turut menghiasi pekarangan rumah Desa Keligejo.

Tibalah di depan gapura sekolah. Tulisan SMP Negeri 3 Aimere menempel di bagian pendampi(5) sekolah. Bangunan SMP itu adalah bangunan yang dibuat kerjasama negara Australia dan Indonesia lewat program Block Grant. Pantas bila bangunannya rapi dan cukup bersih, dengan keramik. Berada di tanjakan Desa Keligejo dan lebih tepatnya di Dukuh Nunumeo.

Walaupun belum terbiasa, Rahya mengawali hari-hari di sekolah, membagi hari dengan murid-muridnya dengan senyum. Memasuki kelas VIII A.

“Selamat pagi Ibu,” sambut anak-anak dengan senyum yang diawali tepukan tangan ketua kelas.

“Selamat pagi, silakan duduk,” ucap Rahya sedikit aneh.

Kalimat selamat pagi, silakan duduk, bagaimana kabar kalian, siapa yang tidak hadir hari ini, menjadi kalimat yang harus fasih ia katakan setiap harinya. Ia memandangi wajah muridnya satu per satu. Tatapan murid-muridnya tak beralih. Ada yang senyum, ada pula yang terlalu fokus melihat dan ada yang berbicara lirih.

“Baiklah, pertemuan pertama kali ini adalah perkenalan. Apa yang ingin kalian tanyakan sama Ibu?”

“Nama, rumah, status Ibu,” kata serentak.

“Baiklah, nama Ibu, Rahya. Hmm, kalian kenal Jokowi?” Rahya melihat mata satu demi satu murid-muridnya, namun ada yang masih asing mendengar nama itu. Namun akhirnya ada yang menyahut.

“Nah, itu ada yang kenal, rumah Ibu dekat dengan Jokowi?”

Memang hanya beberapa siswa yang mengenal orang nomor satu di DKI itu. Kemakluman yang tidak berkesudahan karena hanya beberapa tempat yang telah terjamah listrik, sedang lebih banyak hanya bercahayakan pelita.

Rahya memang cukup membatin dengan keterbelakangan kemajuan di daerah yang ia tempati. Ia saja lahir sudah menikmati fasilitas listrik itu, sedang di tempat dirinya mengajar, listrik belum ada. Ironis memang.

Namun, Rahya berharap aka nada Jokowi-Jokowi baru di Aimere ini nanti.

“Baiklah, sekarang gantian Ibu yang kenal kalian. Nanti sebutkan nama, alamat rumah dan cita-cita,” katanya.

Ketika Rahya mengatakan kata yang terakhir, cita-cita, mimik murid-muridnya menjadi berubah. Memang kali ini ia sedikit memaksa mereka untuk menimbulkan ke permukaan tentang impian mereka di masa depan.

“Nama An, cita-cita menjadi guru.”

“Nius, alamat di Saopai(6), ingin menjadi pemain bola.”

“Ito, cita-cita menjadi tentara.”

Beberapa murid perempuan ingin seperti An, Afri, Risna, Yeni dan murid paling pintar, Fani bercita-cita menjadi guru. Beberapa yang lain ingin menjadi perawat, sedang murid laki-laki ingin menjadi pemain bola dengan idola mereka masing-masing.

Di kelas VIII A ini, ada ketua OSIS. Dialah Hermanus Kumi.

“Nama panggilan, Remus. Cita-cita menjadi pemain bola dan idolanya Christian Ronaldo,” katanya yang disambut tawa.

Ya, memang dia mengarang sendiri nama panggilannya itu. Padahal sebenarnya, sapaan dia adalah Herman.

Kelas itu adalah kelas yang cukup aktif dengan impian yang bagus untuk diapresiasi. Suatu ketika setelah usainya pelajaran, Rahya menyodorkan selembar kertas ‘Daftar mimpi yang harus diwujudkan’.

Rino, salah satu siswa yang lebih banyak diam itu menuliskan sebuah kalimat yang tak disangkanya.

“Aku ingin keliling dunia, mengetahui tempat-tempat lain selain Aimere ini.”

“Berkeliling kota Jakarta dan ingin naik pesawat terbang, melihat pemandangan dari atas, pasti indah. Naik pesawat itu, gimana ya rasanya?” kata An dalam tulisannya.

Keinginanan An itu begitu polos, namun Rahya mempercayainya.

Wah….

Rahya senang membaca mimpi-mimpi mereka yang tinggi.

“Mimpi kalian benar-benar tinggi, namun ingat bukan seberapa tinggi mimpi-mimpi kalian yang kalian tuliskan di selembar kertas ini, melainkan usaha yang kalian lakukan untuk mencapai mimpi itu,” nasihat Rahya.

Tidak banyak berbeda ketika memasuki kelas VIII B. Beberapa siswa paling banyak ingin menjadi guru, tentara Indonesia, polisi, bidan, perawat, polwan, pilot, dan dokter.

Sebuah cita-cita yang tinggi yang diucapkan dengan harapan kemajuan yang murid-murid tanamkan dari hati mereka.

Ada sebuah cita-cita menarik yang ditemui Rahya, ketika memasuki kelas VII A. Fandrianus Bengu, yang biasa dipanggil teman-temannya dengan nama Fandi itu dengan lugas dan lantang mengatakan cita-citanya.

“Cita-citaku ingin menjadi sopir otto(7),” kata Fandi dengan percaya diri.

Cita-cita yang unik, berbeda dengan murid yang lainnya. Murid-murid yang lain menjadi tertawa ketika Fandi mengatakannya.

“Baik, semua diam. Kalau boleh ibu tahu, alasannya apa Fandi?”

“Karena saya ingin keliling Flores, Ibu,” jawabnya kembali lantang.

Rahya tersenyum mendengarnya. Cita-cita yang mulia bukan, mengantarkan penumpang menuju tempat yang tujuan dengan aman. Padahal, medan lintasan Flores adalah jalan yang sangat curam, sempit, bertebing, dan banyak jurang serta berkelok-kelok. Tentu sopir otto di Flores ini adalah sopir yang sangat lihai dan tidak sembarang orang bisa mengendarai otto dengan medan yang ekstrem itu. Sopir otto Flores bisa dibilang sopir terbaik bila di Jawa.

Di kelas VII B, Rahya disambut dengan sebuah lagu yang dibawakan Reni. Lagu Ambon dengan judul ‘Sayange’ yang ternyata enak didengar. Memang Reni bercita-cita menjadi seorang penyanyi. Dia pula yang paling sering berkomentar tentang penampilan Rahya setiap hari. Sedikit aneh memang. Namun, di balik itu, ia menyimpan potensi suara yang tinggi.

Hari berikutnya adalah hari yang dinanti-nanti. Memasuki kelas IX dengan siswa yang tentunya paling dewasa. Berusia 15 hingga ada yang 19 tahun. 27 siswa dengan karakterisitik yang berbeda.

Alexsandro Suri, siswa yang pertama kali dikenal, di awal kaki Rahya menginjakan sekolah itu. Suri sebenarnya anak yang baik, hanya saja ia mudah terpengaruh dengan lainnya. Ia ingin menjadi tentara agar bisa menjaga negara katanya. Rahya teringat keponakannya yang juga masih SMP, dan ia menemuinya dengan wajah yang cukup mirip di Flores itu.

Ialah Yofri, salah satu siswa yang suka memukul-mukul meja dengan tangannya. Wajahnya bukanlah wajah orang Flores kebanyakan, lebih mirip malah dengan wajah Jawa. Ia hanya bisa menulis dengan tangan kirinya, entah karena tidak pernah terbiasa dengan tangan kanan atau memang karena kidal. Selalu tersenyum ketika berpapasan, ialah karakter yang melekat darinya. Manis pula senyumnya. Yofri bercita-cita menjadi Polisi.

“Nama, Yonas Jata. Panggilan, Yonas. Rumah, Lopijo. Tinggal di Malyana. Cita-cita, menjadi polisi.” Ialah Yonas, murid dengan kebiasaan selalu meminta izin ke kamar mandi setiap setengah jam pelajaran.

Sedang murid yang paling pintar adalah Ignasius Dea. Tatapan matanya serasa menyimpan banyak tanda tanya. Sulit sekali membaca apa yang ia inginkan. Lebih tepatnya, ia adalah murid yang paling berpikiran dewasa dibanding yang lainnya.

Meltin, Vero, Rofin, Erlin, Ree, Ina, Ika, dan Bertin bercita-cita menjadi guru dengan bidang studi kesukaan masing-masing. Stefan, Rino, Jefri lebih ingin menjadi pemain bola. Rini, Tilde, dan Nensi lebih menyukai menjadi perawat. Sedang sisanya menjadi polisi dan polwan.

Selama 10 tahun ke depan, cita-cita yang telah diucapkan itu akan menjadi saksi. Mereka hanya perlu memanjangkan galah hingga sang awan menyambutnya.

“Teruslah bersekolah, teruslah belajar, teruslah menulis, agar kalian nanti menggapai sebuah cita yang kalian ucapkan tadi. Aimere akan sanggat bangga, mempunyai guru, polwan, polisi, perawat, bidan, atau tentara seperti kalian nanti.”

Mereka memang anak-anak kampung dengan segala keterbatasannya. Di kala anak-anak yang lain telah mengenal gadged dan segala kemewahan teknologi, anak-anak Aimere ini baru melihat tiang listrik yang baru ditanam di tanah. Walaupun begitu, mereka tak patah arang, pikiran mereka begitu membentang luas dan mendalam. Cita-cita mereka tak kalah besar dan tinggi dengan anak-anak Jawa yang punya segalanya.

“Walaupun hanya belajar dengan pelita. Kita tetap belajar kok, Ibu. Seperti Ibu bilang, kita harus tetap belajar, membaca, dan menulis, kan?” ucap Yano, salah satu murid sepulang sekolah.

Nunumeo, Akhir Oktober 2012

  1. Gunung yang tidak aktif di Pulau Flores berbentuk piramida, berada di Kecamatan Inerie, sebuah kecamatan hasil pemekaran Kecamatan Aimere, sekitar 20 km dari pusat kecamatan Aimere. Bintang jatuh banyak terjadi ketika malam hari di sana dan ketika pagi kabut menyelimuti.
  2. Waktu Indonesia Tengah.
  3. Sebutan untuk orang yang berambut keriting dan merah.
  4. Makam ditempatkan di samping rumah, kepercayaan dan adat masyarakat Flores dengan mengubur keluarga dan kerabat di dekat rumah, sebagai bentuk penghormatan agar mayat tetap tinggal tidak jauh dari rumah. Makam dibuat dengan nisan keramik dengan atap yang memayungi nisan. Makam dibuat cukup mewah dengan keramik, walaupun rumah masyarakat hanya dari tembok atau bambu dengan lantai tanah. Hal itu sebagai bentuk penghormatan untuk membuatkan rumah yang bagus bagi mayat.
  5. Bagian depan sebagai pintu utama sekolah.
  6. Saopai adalah salah satu dusun menuju ke SMP 3 Aimere yang masih terjamah listrik. Tempatnya tepat di arah belokan setelah jalan raya Aimere-Ruteng.
  7. Sebutan angkutan umum di Flores.