Ulasan

Sembilan Tahun Mengenang Pembebasan Kapal MV Sinar Kudus

Sembilan Tahun Mengenang Pembebasan Kapal MV Sinar Kudus

Sembilan tahun yang lalu, tepatnya pada 16 Maret 2011, kapal milik PT Samudera Indonesia, MV Sinar Kudus, dibajak di perairan Somalia. Kapal dibajak dan digunakan sebagai kapal induk pembajak yang beroperasi mulai dari Somalia Basin, Samudera Hindia, dan hampir seluruh Laut Arab sampai ke perbatasan Perairan India.

Pembajakan MV Sinar Kudus terjadi di Teluk Aden. Teluk Aden adalah jalur pelayaran internasional serambi Terusan Suez yang merupakan pintu masuk ke Laut Mediterania, di mana kapal-kapal Indonesia dapat mencapai Eropa dan Afrika Utara.

MV Sinar Kudus adalah kapal milik PT Samudera Indonesia, berbobot mati 8.900 ton, dalam perjalanan rutin mengantar bahan tambang Fero-Nikel ke Rotterdam untuk dijual di pasar Eropa. Tanggal 16 Maret 2011, kapal motor kecil merapat ke MV Sinar Kudus, 5 perompak naik ke atas kapal.

Setelah kapal dikuasai, kapal perompak lain merapat ke kapal menaikkan lebih banyak perompak, menjadikan MV Sinar Kudus sebagai kapal induk pembajak. Terdapat sekitar 20-50 pembajak di atas kapal MV Sinar Kudus.

Pada 17 Maret 2011, Presiden menerima laporan pembajakan; 18 Maret 2011 Presiden menggelar rapat terbatas; 19 Maret 2011 Panglima TNI menerima persetujuan Presiden untuk memberangkatkan pasukan; 21 Maret 2011 rencana operasi dipaparkan kepada Presiden. Tanggal 23 Maret 2011, Satgas Duta Samudera I diberangkatkan dengan dua frigat: KRI-355 Abdul Halim Perdanakusuma dan KRI-353 Yos Sudarso.

Satgas Duta Samudera I dikomandani Kolonel Laut (P) Achmad Taufiqoerrochman. Saat itu ia menjabat sebagai Komandan Gugus Tempur Laut Komando Armada RI Kawasan Barat (Danguspurlaarmabar). Pasukan terdiri dari Denjaka Marinir, Taifib Mar, Kopaska, serta Kopassus, dengan satu heli BO-105 dan 4 Rigid Hull Inflatable Boat (RHIB).

Kolonel Laut (P) Achmad Taufiqoerrochman tercatat berpengalaman membebaskan sandera pada 2004 di Selat Malaka dapat menjadi acuan. Waktu itu, tim pembebasan sandera masuk dan bertempur dalam jarak yang sangat dekat. Dari ujung laras senapan ke kepala pembajak hanya berjarak 1,5 meter.

Perompak di Selat Malaka terbilang ideologis, berbeda dengan perompak Somalia yang lebih pragmatis, membajak berdasarkan tebusan uang. Namanya aksi ideologis, landasannya pun lebih kuat daripada sekadar aksi perompakan biasa yang lebih banyak bermotifkan keuntungan sesaat.

Berdasarkan banyaknya aksi perompakan di Somalia, sebagian besar bertipikal profesional. Maksudnya, perompak Somalia melakukan aksinya, karena memang bekerja untuk itu. Berbeda dengan perompak di Selat Malaka yang membajak karena membutuhkan pendanaan besar bagi perjuangan mereka.

Satgas Duta Samudera I berangkat dari Tanjung Priok pada 23 Maret 2011; lego jangkar di Teluk Bungus, Padang, guna menambah bekal yang belum sempat dinaikkan di Jakarta pada 25 Maret 2011; tiba di Kolombo, Srilanka, untuk menaikkan unsur tugas penindak (Denjaka Marinir, Taifib Mar, Kopaska, dan Kopassus) pada 29 Maret 2011; tiba di perairan Somalia pada 5 April 2011.

Satgas langsung melaksanakan pengintaian dengan hasil, posisi MV Sinar Kudus ditemukan secara pasti. Selanjutnya, pematangan operasi pembebasan dilakukan, dengan segala pertimbangan yang ada. Operasi pembebasan ditunda sambil mengumpulkan info intelijen yang lebih akurat. Pada 6 April 2011, Satgas Duta Samudera I terlebih dahulu ke Salala Oman, guna menyiapkan staging base untuk mendukung operasi sampai selesai.

Detik-detik Pembebasan

Awalnya, para perompak yang terdiri dari empat faksi telah menyetujui uang tebusan sebesar US$ 3 juta, sesuai nilai asuransi kapal. Kesepakatannya, setelah uang tebusan diberikan, kapal akan dilepas.

Selama menunggu uang tebusan, muncul pemberitaan tentang muatan kapal MV Sinar Kudus, yakni biji nikel yang bernilai Rp1,5 triliun. Mendengar hal itu, salah satu faksi perompak, tidak terima. Mereka berpandangan, uang tebusan sebesar US$ 3 juta yang telah disepati, terlalu sedikit. Angka yang sangat murah, menurut mereka.

Faksi ini lantas memunculkan opsi, jumlah uang tebusan harus dinaikkan menjadi US$ 15 juta. Usul menaikkan jumlah uang tebusan tidak disetujui faksi-faksi lain, dan bertahan pada angka tebusan US$ 3 juta.

Mereka pun berembuk. Faksi yang mendukung opsi uang tebusan US$ 15 juta bahkan meminta kepada faksi-faksi lainnya untuk turun dari kapal dengan bagi hasil sebesar US$ 5 juta dan kapal MV Sinar Kudus mereka ambil alih. Kalkulasinya sederhana. Dengan uang tebusan US$ 15 juta, setelah dikurangi US$ 5 juta, masih ada US$ 15 juta. Angka ini jauh lebih besar daripada US$ 3 juta.

Para perompak diberi penawaran bernada ultimatum. Intinya, jumlah uang tebusan tetap di angka US$ 3 juta. Apabila para perompak belum juga setuju dan negoisasi berlarut-larut, Pemerintah Indonesia dalam hal ini TNI AL akan bertindak. Mereka melihat keseriusan Satgas Duta Samudera I yang telah mengubah posturnya, dari postur militer karena tugas pelaksanaan operasi pembebasan dengan cara militer, menjadi postur diplomasi karena menyesuaikan dinamika di lapangan di mana Samudera Indonesia bernegosiasi dengan perompak, bukan pemerintah atau TNI yang bernegosiasi.

Detik-detik yang paling menegangkan pun terjadi. Sandera dibebaskan dan para perompak turun dari kapal MV Sinar Kudus. Momentum ini sangatlah penting mengingat keselamatan nyawa sandera adalah hal utama.

Tidak berapa lama setelah para perompak pergi, datanglah pembajak berikutnya. Kelompok pembajak selanjutnya ini bukan kelompok baru. Mereka salah satu faksi dari pembajak kapal MV Sinar Kudus yang tidak mendukung opsi pembebasan dan bertahan pada tuntutan uang tebusan US$ 15 juta.

Para perompak gelombang kedua telah mempersiapkan semuanya, sejak kapal masih dalam perjalanan dari El-Danan menuju Eyl. Merekalah yang turun dari kapal, satu per satu. Setelahnya, mereka bersiap untuk melakukan pembajakan ulang, setelah kapal MV Sinar Kudus tiba di Eyl dan dibebaskan oleh kawan-kawan mereka yang menyetujui pembebasan dengan uang tebusan US$ 3 juta. Mereka berharap mendapat keuntungan yang lebih besar.

Melihat gelagat yang tidak baik, awak kapal MV Sinar Kudus segera memberi tahu Satgas Duta Samudera I, dengan berteriak melalui handy talky. Pemberitahuan ini seperti menjadi pemantik pasukan untuk bergerak maju. Karena telah bersiaga sejak lama, momentum tersebut memberi ruang besar bagi pasukan untuk menggelar operasi lebih agresif.

Sejurus kemudian, pasukan digerakkan untuk mencegah pembajakan kembali, para perompak memilih untuk melawan, dengan menembaki helikopter. Entah panik atau percaya diri, para perompak mengerahkan semua kekuatannya.

Kapal MV Sinar Kudus selanjutnya diamankan KRI Yos Sudarso-353, sementara KRI Abdul Halim Perdanakusuma-355 menghadang bala bantuan dari darat. Dua kapal perang dan kapal MV Sinar Kudus lalu bergerak ke perairan internasional. Untuk memastikan situasi, helikopter masih melakukan pengawalan di udara, hingga kapal mencapai perairan internasional. Setelah itu, helikopter pun kembali ke kapal.

Keberhasilan pembebasan sandera dari pembajak Somalia merupakan pembebasan dramatis, hasil dari orkestrasi diplomasi yang dilakukan pemerintah dan Samudera Indonesia dengan aksi militer Satgas Duta Samudera I. Hal tersebut dapat menjadi model dan modus operandi militer negara lain. Artinya, bukan hanya berhasil, aksi tersebut dapat bermanfaat bagi orang banyak.

Pembebasan sandera dari para perompak Somalia telah menjadi momok pelayaran dagang internasional, bahkan selama beberapa dekade. Aksi Satgas Duta Samudera I semoga dapat menjadi pelajaran. Kuncinya adalah menemukan momentum yang tepat. Apabila terlalu cepat beraksi, dapat membahayakan pasukan. Apabila terlalu lambat, dapat membahayakan para sandera.

Pasukan yang terlibat dan pendukung dianugerahi Satya Lencana Wirakarya. Penghargaan tersebut merupakan apresiasi keberhasilan operasi pembebasan kapal niaga MV Sinar Kudus dari tangan perompak Somalia dalam waktu relatif singkat, yakni 46 hari. Kapal MV Sinar Kudus dibajak perompak Somalia pada 16 Maret 2011 sampai akhirnya berhasil dibebaskan Satgas Duta Samudera I pada 1 Mei 2011.

*Tulisan diracik dari buku Kepemimpinan Maritim dan ditayangkan Maritime Observer.