Humaniora

Seni Profetik, Sebuah Gagasan

Seni Profetik, Sebuah Gagasan

Kemajuan peradaban manusia tidak hanya melahirkan bentuk-bentuk karya seni yang semakin beragam dan kompleks. Media yang dipakai pun sangat beragam. Semua bentuk seni berkembang sesuai dengan dimensi peradabannya. Seni musik, sinematografi, teater, sastra, arsitektur, kini sudah sedemikian majunya. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam setiap masa, karya seni merupakan satu kebutuhan.

Dalam peradaban modern, karya seni juga terwarnai oleh budaya modern yang bersifat sekuler. Warna tersebut bisa berupa bentuk, isi, atau aplikasinya dengan kemajuan teknologi. Karena itu, sejalan dengan transformasi budaya, seni tidak terlepas dari proses transformasi itu sendiri. Pada kondisi inilah kreativitas seniman dipertanyakan.

Peradaban yang maju demikian pesat, membuat masyarakat mulai jenuh terhadap perkembangan dunia modern. Peradaban modern oleh banyak pihak dianggap tidak lagi mampu memberikan visi baru dalam tatanan kehidupan.

Dogmatisme modern selalu menekankan pada kebenaran yang dilandasi progress, rasionalitas, dan teknologi. Kenyataannya, hal itu banyak dipandang sebagai satu ideologi dan menjebak manusia dalam kerangka pikir sekuler. Manusia lebih menonjolkan aspek struktur (basis material) dibanding suprastruktur (basis kesadaran). Inilah budaya Barat yang bertolak dari pemikiran Marxis.

Masyarakat akhirnya tidak puas dengan pemikiran itu karena hanya terombang-ambing antara materialis dan ideologi tanpa berkesudahan (Kuntowidjojo, 1997). Persoalan itu oleh Gede Prama (1993) dianggap sebagai pangkal tumbuhnya konflik-konflik di dunia, termasuk di Indonesia.

Dilihat dari sisi ini, dapat disebutkan bahwa masyarakat mulai jenuh terhadap modernisasi. Mereka mulai menuntut kerangka peradaban baru dengan tata nilai yang lebih terbuka. Transformasi budaya tersebut, oleh para pemikir, diprediksi sebagai era post-modernisme.

Tuntutan keterbukaan, secara tidak langsung sebenarnya membuka peluang bagi sosialisasi nilai-nilai profetik. Dengan nilai-nilai tersebut, pada hakikatnya Islam mempunyai kemampuan untuk membalik rumusan dari struktur (material) ke suprastruktur (kesadaran) menjadi suprastruktur (kesadaran) ke struktur (material). Basis pengembangan yang dapat dipakai dalam mengubah pandangan tersebut bisa berbagai macam seperti melalui ilmu pengetahuan, teknologi, sosial, dan seni budaya atau melalui aktivitas Iptek profetik.

Dalam konteks seni budaya, pengembangan nilai-nilai profetik sebagai dasar kreativitas tampaknya belum digarap secara maksimal. Sekarang, terus berkembang konsep dan teori-teori seni dan telah terjadi arus besar kesenian yang diarahkan menuju ‘seni hanya untuk seni’, seni adalah bebas nilai, seni bukan untuk kepentingan masyarakat dan kemanusiaan, seni adalah sekedar ekspresi.

Arus besar teori ‘seni hanya untuk seni’ secara langsung maupun tidak langsung telah membuka para seniman menjadi seniman-seniman yang liberal dalam artian tanpa batas. Tanpa batas ini menyebabkan karya seni menjadi semaunya sendiri, berkembang melanggar nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahannya sendiri. Seni tidak lagi dinilai mempunyai manfaat atau tidak bagi masyarakat, positif atau negatif, baik atau buruk, dan benar atau tidak benar.

Seni, Kebijaksanaan Universal

Seni senyatanya adalah salah satu dari khazanah nilai-nilai kebijaksanaan universal. Seni, agama, filsafat, dan ilmu mesti bersinergi dan berjihad memihak kepada sesuatu yang mendatangkan kemanfaatan positif; kebenaran, kebaikan, keindahan, keadilan, dan kebahagiaan manusia.

Mayoritas konsep dan teori seni di awal hingga akhir sejarah perkembangan seni dan estetika telah membuktikan bahwa konsep dan teori seni dan estetika tidak terlepas dari wacana sinergisitas seni, filsafat, agama dan ilmu. Konsep-konsep seni atas, seni tinggi, seni bermasyarakat, seni sosial, seni bermanfaat, seni adalah keindahan Tuhan, seni bertujuan, seni berkeadilan, dan lain sebagainya adalah wujud nyata bahwa seni mengandung nilai-nilai profetik.

Nilai-nilai profetik yang ada di dalam seni ini adalah sebuah bukti bahwa setidaknya seni sebagai ekspresi jiwa mempunyai tujuan yang sangat mulia.

Seni bagi penulis adalah hasil ungkapan akal dan budi manusia dengan segala prosesnya. Seni merupakan ekpresi jiwa seseorang. Hasil ekpresi jiwa tersebut berkembang menjadi bagian dari budaya manusia. Seni identik dengan keindahan. Keindahan yang hakiki identik dengan kebenaran. Keduanya memiliki nilai yang sama, yaitu keabadian.

Nilai-nilai keabadian sejati senantiasa mengarah kepada Tuhan. Dengan demikian kesenian juga sebuah wacana dan media untuk mengabdi kepada Tuhan. Kesenian yang demikian sebutan yang lebih tepat baginya adalah Kesenian Profetik.

Ditayangkan Surakarta Daily.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *