Daerah

Sentra Industri Pisau Koripan Klaten, Bisnis Klasik yang Asyik

Sentra Industri Pisau Koripan Klaten, Bisnis Klasik yang Asyik

Bila berkunjung ke pusat pertokoan mahal, Anda akan berjumpa dengan penjual pisau dapur dengan spesifikasi wah berharga mahal. Sedemikian rupa para penjual menjelaskan kelebihan pisau tersebut kepada calon pembeli dengan meyakinkan. Repotnya, semua pisau yang ditawarkan itu komoditas impor. Lantas ke mana pisau-pisau produksi negeri sendiri?

Pertanyaan yang sangat mudah terjawab. Pisau domestik dijajakan di pasar-pasar tradisional atau di pertokoan modern bagi kelas menengah ke bawah. Pisau domestik dikesankan murah berbahan dasar murahan dan tidak awet. Benarkah demikian?

Adalah sentra kerajinan pandai besi bernama Koripan, Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten. Koripan juga dinisbahkan pada tiga desa pande besi, yakni Desa Kranggan, Keparbon, dan Segaran. Koripan atau kahuripan bermakna penghidupan. Ya, penghidupan warga desa yang terus dipertahankan di tengah banjirnya barang impor.

Konon dahulu kala, ada seorang mpu lading (baca: pisau) bernama Mbah Korip. Ia kemudian mewariskan ilmunya itu turun-temurun kepada keturunannya, juga warga sekitar. Hingga rentang waktu selanjutnya, citra kerajinan pisau lekat dengan Koripan. Sejak itu masyarakat koripan dikenal ahli menciptakan barang bermanfaat dari besi.

Menurut salah satu penjual, Hanif Assabib Rosyid, upaya modifikasi juga bertubi-tubi hadir sebagai jawaban akan kredibilitas masyarakat sebagai sentra industri pengrajin besi.

“Pada akhirnya, banyak produk yang berhasil diciptakan, yang awalnya hanya pisau baja, beralih kepada pidau stainless. Tidak luput, seni membuat pedang, parang, sabit, dan cangkul menjadi idaman masyarakat sekitar. Faktanya, produk Koripan memang luar biasa secara mutu barang,” ungkap alumnus Fakultas Hukum UMS itu.

Barangkali Hanif lahir bersandingkan pisau-pisau itu. Sejak ia kecil, industri pisau Koripan telah eksis dan kondang. Tidak berbeda dengan kawan-kawannya yang lain, ia tumbuh bersama aktivitas pande besi yang keras, berat, tapi membutuhkan kejelian khusus.

Salah satu kelebihan pisau Koripan adalah harganya yang mampu dijangkau oleh konsumen sekitar yang kebanyakan bermatapencarian sebagai petani. Artinya, selain dijual ke luar daerah, masyarakat mereka juga dapat memiliki pisau, karena harganya yang murah.

“Sebenarnya bisnis ini begitu menarik untuk ditelisik. Betapa banyak dari masyarakat yang karena bisnis ini kemudian mampu meraih finansial dan tingkat ekonomi yang tinggi. Dan sebagiannya juga menengah ke atas. Hampir bisa dipastikan, hanya bermodal pengrajin pisau mampu menguliahkan anak-anak mereka sampai selesai. Bukan hanya satu anak tapi dua bahkan tiga sampai lima,” terang Hanif optimis.

Pendampingan Mutu dan Penyertaan Modal

Pendapatan home industry pande besi baja Koripan yang sudah mapan dengan branding yang meluas mencapai angka kotor 4,5 hingga 5 juta per bulan, dengan pengeluaran sebesar 3,5 juta per bulan. Umumnya, putaran uangnya menghasilkan keuntungan 25 persen saja.

Sementara penjual, dari pengrajin dihargai Rp 32 ribu per kodi, dan dijual Rp 37 ribu. Biaya transportasi kira-kira Rp 500 ribu, makan Rp 500 ribu, tenaga Rp 500 ribu, dan sewa tempat Rp 500 ribu.

Tidak terlalu besar memang, tapi begitulah keadaannya. Seiring perkembangan, tampaknya kerajianan pendai besi Kahuripan semakin surut.

Padahal, pisau Koripan lebih bernilai dari sisi pengerjaan yang standar, bila dibandingkan dengan produk serupa dari Tulungagung atau Kudus. Pisau digarap dengan standar pengerjaan dipukul pipih, dikikir, di-hanslap, sampai disepuh untuk pisau baja. Namun di daerah lain seperti Tulungagung dan Kudus, hanya dipotong dan di-grendo saja. Jadi ketajamannya tidak berlangsung lama.

Prospek pisau Koripan dapat dikatakan menjanjikan bila alat-alat produksi ditingkatkan, baik performa maupun kualitasnya. Selain itu, modal yang sangat mepet bagi pengrajin kecil harus disiasati secara khusus.

Dengan demikian, sudah seharusnya pisau Koripan mendapat perhatian dan lebih terorganisasi. Karena dengan demikian, pendampingan akan mutu barang dan penyediaan modal serta perlindungan hasil karya tidak menjadi persoalan.

Tulisan ini diterbitkan ulang dengan perubahan oleh Surakarta Daily.