Pengembangan Diri

Tak Perlu Diciptakan, SDM Unggul Indonesia Telah Lama Lahir

Tak Perlu Diciptakan, SDM Unggul Indonesia Telah Lama Lahir

Slogan ‘SDM Unggul Indonesia’ sering kita dengar, terutama berkaitan dengan cita-cita bangsa. Untuk menghadapi persaingan industri dunia, kemampuan sumber daya manusia sangatlah penting, selain teknologi. Tanpa SDM unggul, ditengarai dapat menyebabkan kekalahan Indonesia, ketika bersaing dengan negara lain.

Visi Indonesia tahun ini memang ‘memajukan SDM Unggul’. Presiden Jokowi mencanangkannya sebagai tahun SDM dengan pengimplementasian talent management di berbagai ruang pemerintahan. Pemerintah sendiri menyiapkan dana Rp1.162,83 triliun untuk empat proyek utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Pertama, pengurangan kematian ibu melahirkan dan stunting. Kedua, pengembangan pendidikan dan vokasi untuk menghadapi era industri 4.0. Ketiga, pengembangan science technopark dengan kerja sama universitas. Keempat, digitalisasi dan integrasi sosial.

SDM unggul, sebenarnya, kita telah memulai, dan memilikinya, bahkan bertahun-tahun lalu. Teringat sosok BJ. Habibie yang dipanggil Presiden Soeharto kembali ke Tanah Air untuk memimpin Kementerian Riset dan Tekhnologi. Finalnya, menghasilkan pesawat terbang yang tinggal selangkah lagi mampu melesatkan Indonesia sebagai produsen pesawat terbang.

Dukungan pemerintah saat itu adalah modal dan pendirian perusahaan untuk memproduksi pesawat terbang, serta adanya dukungan politik. Namun, rupanya kepentingan kelompok tertentu membuyarkan impian bangsa.

Tapi setidaknya, bisa disepakati bahwa dukungan negara dan pemerintah telah menjadikan Habibie (telah akan) menjadi sosok pengubah nasib bangsa kala itu. Belajar dari hal tersebut maka dukungan serupa juga bisa diberikan pada para talented di Indonesia yang saat ini sedang berkiprah.

Salah satu contohnya, pembuatan mobil listrik oleh mahasiswa ITS Surabaya yang dinamakan Lowo Ireng Reborn, bahkan 2 mobil diproduksi. Di balik gencarnya produksi mobil listrik, karya anak bangsa ini membutuhkan apresiasi dan dukungan politik untuk bisa mewujudkan impian menjadi bagian produsen mobil listrik di Indonesia. Mereka bolehlah disebut dengan salah satu talented yang ada sekarang.

Karya dukungan pendidikan, dan usia yang masih muda merupakan peluang yang sangat besar. Dukungan modal tidaklah cukup, harus ada dukungan pemerintah dan dukungan politik dengan regulasi yang berpihak pada ‘SDM unggul’ yang sudah jadi ini.

Seperti halnya Esemka yang ada karena dukungan politik, walau masih simpang siur sebagai mobil nasional (mobnas). Namun, dapat menjadi kesempatan emas apabila negara bisa fokus pada future dan trend teknologi sebagai dukungan penerapan era industri 4.0, serta adanya kontribusi dari universitas.

Artinya, ketika banyak orang di luar Indonesia sedang mengembangkan mobil listrik karena ramah lingkungan dan mengurangi pemborosan energi, mengapa bangsa ini tidak fokus mengembangkan mobil listrik dan berupaya menjadi produsen? Apa yang kurang dari talent ini? Jangan sampai bangsa lain tertarik pada talent ini dan menghargai kreasi dengan harga yang sangat tinggi, baru negara sadar dan memaksa orang-orang talent ini untuk balik ke Indonesia.

Ada yang mengatakan bahwa hacker dari Indonesia jumlahnya banyak. Sebuah indikasi tentang bangsa kita yang memiliki banyak talent dalam bidang teknologi, kah?

Tidak semua hacker bertingkah kriminal. Terkadang mereka hanya iseng untuk mencoba kemampuan mereka. Di saat gencar-gencarnya penerapan teknologi 4.0, industri otomasi, pada akhirnya tidak sulit bagi bangsa ini untuk meng-hire SDM unggul berprestasi seperti mereka untuk menciptakan robot, juga mengembangkan Artificial Intelligence, Big Data, dan lain-lain.

Dan saat ini pun mereka sudah ada, tidak perlu menunggu untuk disiapkan. Namun, banyak di antara mereka telah bekerja di luar negeri. Bukan karena tidak cinta Tanah Air, tapi karena di negara lain, passion mereka lebih berkembang. Kontribusi mereka lebih diakui, sehingga puas dalam menerapkan keahliannya.

Riset dan Kemandirian

Begitu pula, tak kurang-kurang, jurnal yang diterbitkan oleh para akademisi. Seringnya, hasil riset tersebut hanya mampir di perpustakaan dan internet, tetapi kurang diimplementasikan. Belum lagi, studi yang dilakukan oleh lembaga resmi pemerintah.

Misalnya, Indonesia sebagai negara tropis dengan sifat tanah yang subur idealnya dapat menghasilkan hasil pertanian unggul. Banyak hasil penelitian dalam bidang pertanian yang bisa diterapkan agar Indonesia menjadi negara agraris yang mampu mengekspor hasil pertaniannya.

Banyak buah pepaya di tanah Indonesia, tapi mengapa pepaya Thailand yang dicari? Apakah Indonesia tidak bisa menghasilkan pepaya yang melebihi manisnya rasa pepaya Thailand?

Indonesia memiliki mangga yang sangat beragam, sebuah peluang budidaya agar orang-orang menyebutnya ‘mangga Indonesia’.

Bahkan, ketika dunia tekstil mengeluhkan bahan baku berupa kapas, sebaiknya ada penelitian bagaimana cara menghasilkan kapas yang berkualitas. Paling tidak memberikan kualifikasi kapas yang dicari oleh banyak orang dengan spesifikasi tertentu.

Atau, bawang, garam, beras, dan lain-lain. Di bumi subur seperti Indonesia, tak akan terjadi kekurangan pangan apabila SDM unggul diberikan apresiasi dan diimplementasikan karya mereka dengan dukungan regulasi secara total.

Banyak SDM yang telah lahir di Indonesia. Masyarakat bisa bergerak cepat, tanpa terlalu lama menyiapkannya, karena memang telah lama tercipta. Dukungan serta lingkungan yang dapat mendorong dan menghargai mereka, akan menjadi habit atau kebiasaan yang mampu menimbulkan SDM-SDM unggul berikutnya.

Tanpa adanya dukungan pemerintah berupa regulasi dan penghargaan maka semua menjadi sirna, dan mungkin, talent-talent tersebut akan diambil oleh orang lain.

Meminjam istilah para pegiat SDM, saat ini adalah era talent war. Indonesia yang ingin menjadi negara maju telah saatnya peka terhadap kebutuhan masa depan.

Ketika industri sedang mempersiapkan engage dan retain maka bangsa ini saatnya memulai terlebih dahulu. Karena industri bersifat global, tidak mengenal negara. Mereka bersaing tanpa melihat asal usul.

Mampukah Indonesia mengejar ketertinggalan? Ataukah kita hanya sibuk dengan persiapan?