Humaniora

Teror yang Sebenarnya

Teror yang Sebenarnya

Sore itu, di sela sela membaca gerakan perlawanan dari masjid kampus, nenekku yang kutaksir sudah berkepala enam duduk di sampingku. Ia menjaga warung milik bibiku yang sedang melancong membeli sate untuk makan malam, kami berbincang tentag Kelud, debu, dan Solo.

Bibiku datang membawa segepok sate, ia dan dua anaknya kembali ceria mewarnai warung kecil yang hanya seukuran kamar kostku. Buku karangan Andi Rahmat itu, terjatuh saat kudekap keponakanku yang masih 3 tahun, Safira. Wajahnya cantik lagi imut, ia berponi dan tersenyum manis, selagi khusyuk bermain denganya, bibiku membaca judul buku sembari mengepalkan tangan ke atas.

“Ayo, gerakan lawan !!” ucapnya cukup keras.

“Buku opo iku (buku apa itu) ?” tanya nenekku.

“Mbuh kui Ijal, tentang teroris to (ga tau itu ijal, tentang terroris ya)?” tanya bibi.

“Ojo melu teroris ngono yo (jangan ikut kegiatan terroris seperti itu ya) !” tambahnya.

“Teroris kui rapopo, neror koruptor kui to (terroris itu tidak apa, meneror koruptor kan)?” tiba tiba pamanku menyambung.

Antara bibi, paman, dan nenekku terlihat asyik berdiskusi kecil tentang teroris, semuanya menghasilkan pemahaman yang sama, beberapa istilah sempat muncul sore itu, antaranya destruktif, islam, dan mahasiswa. Kecuali pamanku yang tetap tegas, teroris itu tak apa selama meneror koruptor, entah seperti apa kesimpulannya, selama lima menit itu aku hanya tersenyum saja.

***

Memang sering, nenek menasehatiku agar berhati hati ketika kuliah. Jangan jadi teroris dan pendemo, ingatku. Agaknya nenekku, memang alergi revolusi. Namun tak apalah, tak mungkin sore tadi aku harus menerangkan Tadzkirah karangan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, sebagai legitimasi menghancurkan kepentingan asing.

Dan tak mungkin pula kubicarakan kepentingan asing via birokratisasi yang semakin mencengkram rakyat, (meminjam istilah Gramsci, ialah Menghegemoni). Hingga kita tidak bisa tinggal diam, dan harus menjadi intelektual organik yang bergerak bersama rakyat mengahancurkan kapitalisme.

Memang cukup sedih melihat dua frasa akhir yang menjadi keyword diskusi tiga orang tadi. Yaitu tentang islam dan mahasiswa. Kita bisa lihat dalam lingkup global, bagaimana islam itu entah dengan cara seperti apa menjadi dikemukakan Charles Kimball sebagai agama yang jahat, agama yang tak ramah manusia, agama nontoleransi, dan segala cap buruk yang berkaitan dengan humanisme.

Dalam konteks yang lebih sempit pula, khususnya di Indonesia, pemuda pemuda bergelar “pengantin” ataupun “calon pengantin” kerap memperoleh gelar “Teroris”. Ironis, di saat yang sama,  kematian para pemuda malah diarak dan dijuluki Syuhada oleh rekan seperjuanganya, suatu gelar yang menjadi tiket untuk melenggang ke surga.

Dalam hal ini, titik fokusnya adalah, peran dan fungsi media yang baik dalam merawat isu sekaligus merekayasa daya pikir tiap korbanya. Terbukti dengan, entah strategi apa yang digempurkan media kepada konsumenya, Islam sebuah sistem peradaban unggul, santun, dan beradab, diubah menjadi ketakutan pada masyarakat dunia, utamanya setelah tragedy 11 September, Bush dengan lancangnya mengucapkan, “you’re either with us, or against us”.

Proses simulasi ini, berjalan cukup efektif bahkan bisa dibilang melampaui keberhasilan (Hypersucces). Bagaimana tidak, cap terorisme tidak hanya terhadap islam saja, tetapi juga terhadap mahasiswa. Ini merupakan efek domino yang ditimbulkan. Hingga akhirnya tampak jelas, beberapa simbol perlawanan mahasiswa menjadi mati suri, tertutupi citra buruk dan rekaan rekaan semu ala media saat ini.

Namun ada hal perlu kiranya lebih vital untuk dibicarakan. Tentang Hypersucces ini,  efeknya terhadap mahasiswa tentunya. Tidak usah berbicara tentang demonstrasi yang kian minim peserta, dan semakin dangkal isu yang dibawa. Dalam keseharian, praktek praktek intelektual mahasiswa semacam diskusi diskusi semakin jarang ditemukan. Di sudut kampus kini, bukan lagi diwarnai roman dialektika antar satu ideologi dengan yang lain, namun semakin dijejali ajang ajang komersialisasi, dengan simbol gairah dan hasrat.

Program nir-faedah yang dibawa media tiap detiknya pada akhirnya menciptakan musuh dalam selimut. Utamanya mahasiswa. Bagaimana tidak, isualisasi dan halusinasi lewat iklan, dengan mudahnya membangkitkan libido para konsumen. Tak perlu memandang diri dan strata, seolah media meimnjam istilah Hikmat Budiman, ialah menjadi lubang hitam yang tiap saatnya menarik siapa saja, dan tentu saja terperdaya.

Kisah Hypersucces ini berlanjut pada aktiitas di lingkungan kampus,  mereka yang sudah terperdaya media, menjadi tabu dan asing dengan kata revolusi, Marx, ataupun Plotinus. Sedang di tiap lini pikiran mereka, hanyalah terisi Black Pink, Taylor Swift, bahkan Kimi Hime.

Spesies baru inilah yang kemudian menjadi musuh baru inteletual muda kita, tak sedikit mereka mulai mengecam kawan kawan seperjuangan mereka yang tidak berhentinya menerikan anti kapitalisme, meskipun ia sesaat menghisap rokok Marlboro.  Di saat yang sama, perancang narasi besar ini mulai bertepuk tangan riang, melihat komponen perlawan telah mendapatkan pekerjaan baru, hingga menggempur dosa penguasa semakin sulit saja.

***

Minimal, kita berharap Safira kecilku tidak terperdaya media, yang semakin hari kian mendzalimi masyarakat dengan tayangan sampah, eksploitasi libido,  pengebirian fakta, ataupun hipokritisasi dosa. Semoga saja.